Liput – 16 April 2026 | Teheran mengumumkan bahwa kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan mencapai 270 miliar dolar Amerika, atau setara sekitar Rp4.300 triliun. Angka tersebut merupakan estimasi awal yang dihitung oleh tim teknis pemerintah Iran setelah serangkaian penilaian fisik dan ekonomi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menegaskan bahwa perhitungan masih bersifat sementara dan akan disempurnakan melalui proses multi‑tahap. Tahap pertama berfokus pada identifikasi kerusakan fisik pada infrastruktur kritis, termasuk gedung-gedung sipil, fasilitas industri, jaringan listrik, dan instalasi tenaga nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Tahap kedua akan menilai dampak ekonomi tidak langsung, seperti penurunan pendapatan negara, hilangnya produksi industri, serta kerugian sektor jasa dan perdagangan.

Berikut rangkuman kategori kerugian yang sedang dianalisis:

Baca juga:
  • Kerusakan fisik: Lebih dari 125.000 bangunan sipil dilaporkan hancur atau rusak berat, termasuk sekitar 100.000 rumah tinggal dan 23.500 properti komersial.
  • Kehilangan jiwa: Organisasi Kedokteran Forensik Iran mencatat setidaknya 3.753 korban tewas, termasuk perempuan dan anak-anak, dengan insiden paling mematikan terjadi di sebuah sekolah dasar di Minab.
  • Gangguan industri: Fasilitas produksi minyak, gas, serta pabrik-pabrik berat mengalami penghentian operasi selama berminggu‑minggu, menurunkan kontribusi sektor energi terhadap PDB sebesar beberapa persen.
  • Pengaruh regional: Penutupan sementara Selat Hormuz dan pembatasan lalu lintas kapal tanker menambah tekanan pada perdagangan energi global, yang berdampak pada pendapatan devisa Iran.

Iran menegaskan bahwa semua kerugian tersebut akan dituntut melalui jalur hukum internasional. Mohajerani menyatakan, “Kami pasti akan membela hak rakyat melalui jalur hukum, termasuk kompensasi atas darah para korban kami.” Pemerintah Tehran juga menyiapkan dokumen pendukung untuk mengajukan klaim ganti rugi di pengadilan internasional serta forum‑forum diplomatik lainnya.

Baca juga:

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan pernyataan yang menekankan kesiapan militer Iran dalam menghadapi eskalasi lebih lanjut. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menegaskan bahwa Iran masih menyimpan kemampuan militer yang belum diungkap ke publik, dan siap memamerkannya jika konflik terus berlanjut. Pernyataan tersebut mencerminkan strategi Tehran yang menggabungkan tekanan diplomatik dengan ancaman militer sebagai bagian dari negosiasi dengan AS dan Israel.

Baca juga:

Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 melibatkan serangan udara dan rudal ke wilayah barat Iran, termasuk instalasi strategis di Bushehr, serta serangan rudal balistik ke fasilitas militer di dalam negeri. Iran merespons melalui operasi yang dinamai “True Promise 4”, meluncurkan serangan drone dan rudal ke sasaran yang dianggap terkait dengan Israel dan aset militer AS di kawasan.

Baca juga:

Negosiasi ganti rugi telah berlangsung dalam beberapa putaran, termasuk pertemuan di Islamabad pada awal April yang tidak menghasilkan kesepakatan akhir. Meskipun perundingan belum menghasilkan hasil konkret, kedua belah pihak tetap menjaga gencatan senjata sementara, sementara Iran terus mengumpulkan data kerusakan untuk memperkuat tuntutannya.

Baca juga:

Secara keseluruhan, estimasi US$270 miliar mencerminkan dampak luas yang melibatkan sektor infrastruktur, ekonomi, dan kemanusiaan. Pemerintah Iran berjanji akan terus memperbarui angka tersebut seiring dengan selesainya proses penilaian, dan menegaskan komitmen untuk menuntut pertanggungjawaban melalui mekanisme internasional yang sah.