Liput – 16 April 2026 | Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menimbulkan gejolak publik setelah menegaskan tidak akan meminta maaf kepada Paus Leo XIV atas serangkaian komentar yang ia sebut “lemah” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”. Pernyataan tersebut disampaikan pada konferensi pers di Gedung Putih pada Senin, 13 April 2026, waktu setempat, dan segera memicu reaksi keras dari kalangan keagamaan, politik, serta masyarakat internasional.
Trump mengklaim bahwa kritikannya ditujukan sebagai respons terhadap sikap Paus yang, menurutnya, menentang tindakan militer AS terhadap Iran. Ia menegaskan, “Tidak ada yang perlu dimintakan maaf. Dia salah,” sambil menambah bahwa Paus Leo XIV tidak berhak mencampuri urusan politik negara. Kritik itu dilontarkan setelah AS dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari 2026 yang menambah ketegangan di Selat Hormuz dan menimbulkan gencatan senjata yang masih rapuh.
Dalam unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menuliskan bahwa Paus “lemah terhadap aksi kriminal” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”. Ia menambahkan Paus seharusnya “menggunakan akal sehatnya” serta berhenti “memuaskan kaum sayap kiri radikal”. Pernyataan tersebut mencakup seruan agar Paus tidak mendukung Iran memiliki senjata nuklir, serta menolak pandangan Paus yang menganggap intervensi AS di Venezuela dapat diterima.
Reaksi tidak memakan waktu lama. Uskup konservatif Robert Barron, yang menjabat di Komisi Kebebasan Beragama Pemerintah AS, menilai komentar Trump tidak sopan dan menuntut permintaan maaf. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyebut pernyataan tersebut “tidak bisa diterima”, sementara Wakil Perdana Menteri Matteo Salvini, meski pendukung Trump, juga menyayangkan sikap Paus yang ia nilai berupaya menciptakan perdamaian. Di sisi lain, Paus Leo XIV menolak berdebat secara politik, menegaskan perannya sebagai penyampai perdamaian dan menolak segala bentuk intimidasi.
Paus menegaskan dalam sebuah konferensi pers di Aljazair bahwa ia bukan politisi dan tidak takut terhadap pemerintahan Trump. Ia menekankan bahwa Injil mengajarkan agar orang berbahagia ketika mereka menjadi pembawa damai, serta menolak penggunaan pesan Injil sebagai senjata politik. Paus juga menyoroti penderitaan yang ditimbulkan konflik Iran‑AS‑Israel, mengingat lebih dari 42.000 demonstran tak bersenjata dilaporkan tewas dalam dua bulan terakhir.
Tak lama setelah polemik verbal, Trump menambahkan bahan kontroversial lain: sebuah gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) menampilkan dirinya dalam jubah putih, menyerupai Yesus Kristus yang sedang menyembuhkan seorang pasien. Gambar tersebut diposting tanpa keterangan di akun resmi Trump, lalu dihapus setelah mendapat kecaman luas. Trump mengklaim gambar itu dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai dokter Palang Merah yang membantu orang sakit, bukan sebagai perumpamaan religius.
- Kritik keras datang dari kardinal Joseph William Tobin yang menilai penggunaan citra suci secara vulgar sangat menyinggung umat beriman.
- Aktivis konservatif Riley Gaines menilai gambar itu sebagai “penistaan” dan mengingatkan Trump akan pentingnya kerendahan hati.
- Media internasional, termasuk BBC News, The New York Times, dan Reuters, menyoroti bahwa insiden ini menguji batas kebebasan berekspresi versus penghormatan terhadap simbol keagamaan.
Kontroversi ini menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang peran pemimpin dunia dalam mengkritik institusi keagamaan serta dampak teknologi AI dalam arena politik. Penggunaan gambar AI yang menyerupai tokoh suci dapat memicu ketegangan lintas budaya, terutama bila diiringi retorika politik yang provokatif. Di tengah konflik yang belum berakhir di Timur Tengah, pernyataan Trump dan respons Paus menyoroti ketegangan antara kebijakan keamanan nasional dan nilai-nilai moral yang diusung oleh institusi keagamaan.
Secara keseluruhan, sikap keras Trump yang menolak meminta maaf kepada Paus Leo XIV dan penyebaran gambar AI yang menimbulkan tuduhan penistaan memperlihatkan dinamika baru dalam diplomasi publik. Sementara Paus berpegang pada prinsip perdamaian dan dialog, Trump tetap berpegang pada kebijakan luar negeri yang berorientasi pada pencegahan proliferasi nuklir Iran. Kedua belah pihak tampaknya berada pada titik impas, dengan kemungkinan eskalasi lebih lanjut tergantung pada perkembangan konflik di kawasan dan respons komunitas internasional terhadap penggunaan AI dalam konteks sensitif.