Ketegangan AS-Iran Tekan Harga Emas ke Level Terendah Sepekan, Dolar dan Minyak Menguat

Liput – 21 April 2026 | Harga emas turun ke level terendah dalam seminggu akibat ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, penguatan dolar AS, serta lonjakan harga minyak global. Pada Selasa (21/4/2026), harga emas spot tercatat pada US$4.818,03 per ons, menurun 0,3% dan menyentuh titik terendah sejak 13 April. Sementara kontrak berjangka emas untuk pengiriman Juni melemah 0,8% menjadi US$4.839,10 per ons.

Lonjakan ketegangan geopolitik bermula dari tindakan AS yang mengambil alih kapal kargo milik Iran, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz. Antara 5% hingga 6% kenaikan harga minyak mentah tercatat dalam satu hari perdagangan, menambah tekanan pada pasar komoditas yang sensitif terhadap dinamika energi. Analis pasar City Index, Fawad Razaqzada, menilai bahwa peningkatan risiko geopolitik akan mendorong dolar dan imbal hasil obligasi naik, yang selanjutnya menekan permintaan logam mulia.

Penguatan dolar AS menjadi faktor kunci lain yang menekan harga emas. Dolar mencapai level tertinggi mingguan sebelum melunak sedikit, namun tetap kuat dibandingkan mata uang utama lainnya. Karena emas diperdagangkan dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga mengurangi minat beli. Selain itu, spekulasi tentang kebijakan suku bunga Federal Reserve, termasuk konfirmasi calon pejabat Fed Kevin Warsh, menambah ketidakpastian pasar dan memperkuat posisi dolar.

Reaksi investor terlihat jelas di pasar keuangan. Dana pensiun, bank sentral, dan investor institusional meningkatkan eksposur pada aset berbasis dolar, sementara alokasi ke emas menurun. Pada sisi lain, permintaan minyak meningkat, menggerakkan indeks energi ke level tertinggi mingguan. Analis ActivTrades, Ricardo Evangelista, menekankan bahwa meski harga minyak sempat turun, ketidakpastian di Selat Hormuz tetap tinggi, sehingga inflasi tetap menjadi kekhawatiran utama yang mendukung dolar.

Di tengah ketegangan ini, diplomasi masih berlanjut. Pemerintah AS menyatakan optimisme bahwa pertemuan negosiasi antara kedua negara yang dijadwalkan di Pakistan dapat menghasilkan kemajuan. Namun, pejabat senior Iran menyoroti bahwa Tehran masih menimbang opsi-opsi diplomatik sambil menuntut pembebasan kapal dagang yang ditangkap. Jika gencatan senjata dua minggu yang sedang berlangsung tidak diperpanjang, risiko eskalasi tambahan dapat muncul, memperparah volatilitas pasar.

Para analis menyarankan investor untuk memperhatikan tiga faktor utama ke depan: (1) perkembangan negosiasi diplomatik antara AS dan Iran; (2) kebijakan moneter Federal Reserve terutama terkait suku bunga; dan (3) pergerakan harga minyak yang dipengaruhi oleh potensi gangguan pasokan. Dengan ketiga elemen tersebut masih berada dalam zona ketidakpastian, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap berfluktuasi dalam beberapa minggu mendatang.

Secara keseluruhan, penurunan harga emas mencerminkan interaksi kompleks antara geopolitik, kebijakan moneter, dan dinamika energi. Investor yang mengutamakan perlindungan nilai harus mempertimbangkan diversifikasi portofolio, mengingat risiko yang terus berubah di pasar global.