Liput – 21 April 2026 | Amerika Serikat memperkuat posisinya di Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026) dengan menembak dan menyita kapal kargo berbendera Iran, MV Touska, yang diduga melanggar blokade Hormuz yang telah diberlakukan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM). Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Touska mengabaikan perintah peringatan untuk menghentikan lajunya, sehingga kapal perang USS Spruance menembakkan peluru meriam berkaliber lima inci ke ruang mesin kapal tersebut. Tindakan ini diikuti dengan pengamanan oleh Marinir AS dan pemeriksaan muatan di dalamnya.
Menurut pernyataan resmi CENTCOM, Touska sedang berusaha menembus blokade laut untuk mencapai pelabuhan Bandar Abbas di Iran. Video singkat yang diunggah ke platform X memperlihatkan peluru menghantam kapal dari jarak jauh, menimbulkan kerusakan pada ruang mesin. Hingga kini, pihak militer AS mencatat bahwa setidaknya 25 kapal komersial telah dipaksa berbalik arah atau kembali ke pelabuhan Iran sejak blokade diberlakukan.
Data pelacakan dari Marine Traffic menunjukkan bahwa enam jam sebelum insiden, Touska berada sekitar 45 kilometer (28 mil) di lepas pantai selatan Iran, dekat kota Chabahar. Sumber lain, Tanker Tracker, mencatat bahwa kapal tersebut berangkat dari Malaysia. Selama setahun terakhir, MV Touska tercatat bolak‑balik antara pelabuhan-pelabuhan di China dan Iran, menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyelundupan barang ilegal melalui jalur perairan yang dikenal sebagai “transfer barang antarkapal”.
Analisis dari lembaga transparansi maritim SeaLight menilai bahwa MV Touska memiliki skor risiko penyelundupan yang tinggi karena aktivitas armada gelap, pergerakan berulang, dan pertemuan dengan kapal berbendera Iran. Pemerintah China belum memberikan komentar resmi mengenai penangkapan ini, namun Kementerian Luar Negeri China secara terbuka mengecam tindakan militer AS yang dianggap melanggar kedaulatan dan meningkatkan ketegangan di wilayah strategis tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah perang antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran dimulai tujuh minggu lalu. Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz pada Jumat (17/4/2026) sebagai pengakuan atas gencatan senjata Israel‑Hezbollah di Lebanon, namun menutup kembali selat tersebut keesokan harinya sebagai respons terhadap tindakan blokade yang dipertahankan oleh AS.
- 25 kapal komersial dibalikkan arah sejak blokade diberlakukan.
- MV Touska berada 45 km selatan Iran sebelum penembakan.
- Kapal tersebut berhubungan erat dengan pelabuhan-pelabuhan di China.
- China mengkritik keras aksi militer AS di Selat Hormuz.
Pengamat keamanan maritim menilai bahwa tindakan AS memperlihatkan tekad untuk menegakkan sanksi ekonomi terhadap Iran, namun juga meningkatkan risiko konfrontasi langsung dengan kekuatan regional lainnya. Sementara itu, China mengingatkan bahwa setiap intervensi militer di perairan internasional dapat memicu eskalasi yang berbahaya bagi perdagangan global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penghubung utama bagi lebih dari lima persen produksi minyak dunia.
Ke depan, komunitas internasional diharapkan dapat mencari solusi diplomatik yang menyeimbangkan antara penegakan sanksi dan keamanan maritim. Namun, dengan adanya blokade Hormuz yang terus ditegakkan, ketegangan di kawasan tetap tinggi dan potensi insiden serupa masih mengintai.