Liput – 22 April 2026 | Stok plastik nasional tetap terjaga berkat kebijakan penstokan Menperin, namun dinamika geopolitik di Timur Tengah memperburuk biaya produksi dan distribusi plastik. Konflik militer antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran sejak Februari 2026 telah menutup sebagian jalur laut utama, termasuk Selat Hormuz, sehingga mengganggu pasokan bahan baku petrokimia yang menjadi tulang punggung industri plastik Indonesia.
Para pelaku industri mengonfirmasi lonjakan harga bahan baku impor hingga 40‑50 persen. Menurut ekonom Permata Bank, Josua Pardede, “ketegangan di wilayah tersebut menambah tekanan biaya, memperbesar tagihan impor, dan menurunkan stabilitas eksternal Indonesia.” Dampaknya langsung terasa pada harga plastik mentah, kemasan, dan produk konsumen.
- Kenaikan harga kresek plastik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000 per pak (≈50 %).
- Plastik PE dan PP naik antara 50‑100 % tergantung jenis dan ukuran.
- Biaya kemasan FMCG di pabrik besar seperti PT Mega Global Food Industry meningkat 40‑45 %.
Reynaldi Sarijowan, Sekjen Dewan Pengurus Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), menyoroti bahwa kenaikan tersebut sudah dirasakan sejak pekan kedua bulan puasa dan memaksa pedagang menyesuaikan harga jual barang sehari‑hari. “Jika tidak ada intervensi pemerintah, kenaikan ini akan menular ke sektor pangan, kosmetik, bahkan otomotif,” ujarnya.
| Produk | Harga Sebelum | Harga Sekarang | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Kresek 30 cm | Rp10.000 | Rp15.000 | +50 % |
| Plastik PE 1 kg | Rp20.000 | Rp30.000 | +50 % |
| Plastik PP 1 kg | Rp22.000 | Rp33.000 | +50 % |
Menperin menegaskan bahwa stok plastik dalam negeri masih mencukupi untuk memenuhi permintaan domestik. Namun, kementerian juga meminta diversifikasi sumber bahan baku, termasuk meningkatkan impor dari wilayah selain Timur Tengah dan mempercepat pengembangan bahan baku alternatif berbasis bio‑plastik.
Pengamat menilai bahwa dampak jangka panjang dapat menimbulkan efek multiplier pada inflasi, mengingat plastik digunakan dalam hampir semua produk konsumen. Oleh karena itu, kebijakan penstokan jangka pendek harus diimbangi dengan strategi ketahanan bahan baku jangka panjang.
Dengan harga plastik yang terus melambung, konsumen di seluruh Indonesia diprediksi akan merasakan penyesuaian harga pada barang kebutuhan sehari‑hari, mulai dari makanan kemas, produk kebersihan, hingga pakaian. Pemerintah diharapkan dapat menstabilkan pasar melalui subsidi temporer atau insentif bagi produsen yang beralih ke sumber bahan baku yang lebih aman.