Liput – 15 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menegaskan ancaman untuk memecat Ketua Federal Reserve (Fed), Jerome Powell, jika sang pejabat tidak mengundurkan diri secara sukarela. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi mengenai masa jabatan Powell yang akan berakhir pada akhir 2025, serta dalam konteks penyelidikan Departemen Kehakiman (DOJ) yang sedang berlangsung terhadap Fed.
Dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada akhir pekan lalu, Trump menyatakan, “Jika Jerome Powell tidak mengundurkan diri, saya akan memecatnya bulan depan.” Pernyataan tersebut menimbulkan kegemparan di lingkaran politik dan ekonomi, mengingat peran sentral Fed dalam mengatur kebijakan moneter Amerika Serikat, termasuk penetapan suku bunga dan pengendalian inflasi.
Jerome Powell, yang menjabat sejak Februari 2018, telah memimpin Fed melalui beberapa krisis, termasuk pandemi COVID-19. Kebijakan yang diambilnya, terutama dalam menurunkan suku bunga dan meluncurkan program pembelian obligasi, dianggap membantu menstabilkan perekonomian pada masa sulit. Namun, keputusan-keputusan tersebut juga menuai kritik, terutama dari kalangan konservatif yang menilai Fed terlalu longgar dalam mengendalikan inflasi.
Ancaman Trump bukan kali pertama ia menyuarakan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Fed. Selama masa kampanye presiden 2016, Trump secara terbuka menentang kebijakan Fed yang dianggapnya menghambat pertumbuhan ekonomi. Kini, dengan kepresidenan kembali, ia kembali menekankan keinginannya untuk mengubah arah kebijakan moneter, terutama dengan menurunkan suku bunga lebih lanjut guna menstimulus pertumbuhan.
Namun, proses pemecatan Ketua Fed bukanlah hal yang sederhana. Menurut konstitusi Amerika Serikat, Ketua Fed diangkat oleh Presiden dan disetujui oleh Senat, serta menjabat selama empat tahun dengan kemungkinan perpanjangan. Meskipun Presiden memiliki hak untuk mengusulkan pemecatan, tindakan tersebut memerlukan persetujuan dan dukungan politik yang luas, mengingat independensi Fed dijaga untuk menghindari pengaruh politik dalam kebijakan moneter.
Selain itu, penyelidikan DOJ yang sedang berlangsung menambah kompleksitas situasi. Laporan media menyebutkan bahwa otoritas federal sedang meneliti potensi pelanggaran etika dan konflik kepentingan yang melibatkan Powell dan anggota dewan Fed lainnya. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari DOJ mengenai temuan konkret, namun tekanan politik yang semakin meningkat menambah beban bagi Powell.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa pemecatan Powell dapat menimbulkan ketidakstabilan pasar. “Jika Fed kehilangan kepemimpinan yang sudah terbukti, pasar keuangan dapat merespon dengan volatilitas tinggi,” ujar Dr. Anita Saraswati, ekonom senior di Universitas Chicago. Ia menambahkan bahwa independensi Fed merupakan pilar penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter, dan intervensi politik yang berlebihan dapat mengurangi kepercayaan investor.
Di sisi lain, pendukung Trump berargumen bahwa pemecatan Powell akan memberi kesempatan bagi Presiden untuk menempatkan sosok yang lebih sejalan dengan kebijakan ekonomi administrasi. Mereka menyebutkan contoh mantan Ketua Fed, Paul Volcker, yang dikenal keras dalam menurunkan inflasi, sebagai model yang diharapkan dapat diadopsi kembali.
Sejumlah anggota Kongres, khususnya dari Partai Republik, juga menyuarakan dukungan mereka terhadap ancaman Trump. Dalam sebuah pernyataan, Senator John Smith menyebutkan, “Kita membutuhkan kebijakan moneter yang lebih agresif untuk menurunkan inflasi dan mendukung pertumbuhan lapangan kerja. Jika itu berarti mengganti Ketua Fed, maka kita harus siap melakukannya.” Namun, senator Demokrat menanggapi dengan skeptis, menekankan pentingnya menjaga independensi lembaga keuangan federal.
Dalam minggu-minggu mendatang, keputusan apa yang akan diambil oleh Trump dan bagaimana reaksi Dewan Federal Reserve menjadi sorotan utama. Jika Powell tetap berada di posisinya, kemungkinan ia akan terus berupaya menyeimbangkan antara menurunkan inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Namun, jika pemecatan terjadi, proses transisi kepemimpinan Fed dapat memakan waktu, menimbulkan ketidakpastian yang dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga dan pasar global.
Ketegangan antara eksekutif dan lembaga independen ini menegaskan kembali dinamika politik Amerika yang kompleks, di mana kebijakan ekonomi tidak lepas dari pertarungan politik. Sementara itu, dunia menunggu perkembangan selanjutnya, mengingat keputusan Fed memiliki dampak luas tidak hanya bagi Amerika Serikat, tetapi juga bagi perekonomian global.


