Liput – 18 April 2026 | Beijing pada hari Rabu mengemukakan alasan strategis di balik penggunaan hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menolak resolusi yang mengusulkan pembukaan Selat Hormuz secara penuh. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan keamanan regional, kepentingan jalur pelayaran internasional, serta upaya menjaga keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada media internasional, Wang Yi menjelaskan bahwa resolusi yang diajukan oleh sejumlah negara Barat berpotensi menimbulkan ketegangan baru di wilayah yang sudah rapuh. “Kami khawatir langkah sepihak dapat memicu eskalasi militer antara Iran dan sekutu-sekutunya, terutama mengingat ketegangan yang masih menggelayuti perbatasan Lebanon‑Israel,” ujar Wang Yi. Ia menambahkan bahwa veto tersebut merupakan upaya untuk memberi ruang diplomasi yang lebih luas, memungkinkan pihak‑pihak terkait menegosiasikan gencatan senjata yang lebih berkelanjutan.
Iran pada 17 Juni 2026 secara resmi mengumumkan bahwa Selat Hormuz telah dibuka penuh untuk kapal‑kapal komersial, selaras dengan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel yang berlangsung selama sepuluh hari sejak 17 April 2026. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pembukaan jalur pelayaran ini merupakan langkah konkret untuk menstabilkan perdagangan global, mengingat 20% pasokan minyak dunia melintasi selat tersebut.
Namun, meski Iran membuka selat, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Presiden Donald Trump menegaskan lewat unggahan media sosialnya bahwa blokade akan berlanjut hingga “transaksi damai” dengan Iran selesai sepenuhnya. Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan luar negeri AS, terutama ketika sekutu‑sekutunya di Eropa mengkritik tindakan blokade yang dianggap melanggar hukum internasional.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyambut baik pembukaan Selat Hormuz oleh Iran, menyebutnya sebagai “langkah ke arah yang benar” untuk memulihkan hak navigasi internasional. Guterres menekankan pentingnya menghormati kebebasan pelayaran di selat strategis tersebut dan mengharapkan dialog yang difasilitasi oleh Pakistan dapat memperkuat kepercayaan antar pihak.
Di balik dinamika ini, China menyoroti beberapa faktor utama yang melatarbelakangi veto‑nya:
- Keamanan maritim: Kekhawatiran akan potensi konflik bersenjata di wilayah yang sangat padat lalu lintas kapal.
- Keseimbangan geopolitik: Upaya mencegah dominasi satu pihak, terutama Amerika Serikat, dalam mengatur jalur perdagangan penting.
- Stabilitas ekonomi: Menghindari fluktuasi harga minyak yang dapat dipicu oleh gangguan tiba‑tiba di Selat Hormuz.
Para analis menilai bahwa posisi China tidak semata‑mata bersifat anti‑Amerika, melainkan mencerminkan kebijakan luar negeri yang menekankan solusi multilateral dan dialog diplomatik. “Veto bukan berarti menutup pintu, melainkan membuka ruang bagi negosiasi yang lebih inklusif,” kata Li Ming, pakar hubungan internasional di Universitas Tsinghua.
Sementara itu, reaksi internasional beragam. Negara‑negara Eropa, termasuk Prancis dan Inggris, mengusulkan inisiatif bersama yang melibatkan 40 negara untuk membahas keamanan Selat Hormuz, menandakan upaya kolektif untuk mengurangi ketegangan. Di sisi lain, Israel tetap menuntut sanksi lebih keras terhadap Iran, mengingat dugaan keterlibatan Tehran dalam serangan roket lintas perbatasan.
Dengan gencatan senjata Lebanon‑Israel yang masih berjalan, pembukaan selat oleh Iran memberikan sinyal positif bagi stabilitas energi global. Namun, keberlanjutan kebijakan blokade AS dan posisi veto China menunjukkan bahwa penyelesaian permanen masih memerlukan dialog intensif di antara semua pemangku kepentingan, termasuk PBB, negara‑negara regional, serta kekuatan besar dunia.
Kesimpulannya, keputusan China untuk menggunakan hak veto mencerminkan pendekatan pragmatis yang menyeimbangkan keamanan, ekonomi, dan diplomasi. Sementara Iran berupaya menegaskan kedaulatan maritimnya, dunia menantikan langkah selanjutnya yang dapat menurunkan ketegangan dan memastikan kelancaran arus perdagangan di salah satu jalur paling vital di planet ini.