Liput – 17 April 2026 | Jordy Tutuarima, gelandang berbakat asal Papua, kembali menjadi sorotan publik tak hanya karena performa di lapangan tetapi juga karena keluhannya soal keterlambatan gaji saat membela Persis Solo. Sebagai pemain yang pernah menorehkan angka impresif di Liga 2, Jordy mengaku pernah mengirim surat resmi ke manajemen klub menyerukan penyelesaian haknya yang tertunda selama tiga bulan. Keluhan tersebut sejalan dengan kasus serupa yang dialami pemain PSBS Biak, yang juga menuntut pembayaran gaji lewat surat kepada PSSI dan operator liga.
Berawal dari karier muda di akademi lokal, Jordy menembus tim senior Persis Solo pada musim 2023/2024. Dalam debutnya, ia langsung menunjukkan kemampuan mengatur tempo permainan, mengoper dengan presisi, serta mencetak gol penting yang membantu klub keluar dari zona degradasi. Statistik resmi mencatat ia mengumpulkan 5 gol dan 7 assist dalam 24 penampilan, angka yang membuatnya masuk dalam jajaran pemain paling produktif di lini tengah Persis.
Namun, di balik pencapaian tersebut, Jordy mengungkapkan bahwa gaji bulanan yang seharusnya dibayarkan tepat waktu tidak pernah sampai. “Saya menunggu gaji selama tiga bulan, bahkan sampai harus menulis surat kepada manajemen dan PSSI,” ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif. “Kondisi itu memengaruhi fokus latihan dan keseharian, karena kebutuhan dasar seperti makanan dan transportasi menjadi terhambat.” Pernyataan ini menambah daftar panjang keluhan pemain Indonesia mengenai manajemen keuangan klub yang masih rawan.
Kasus serupa juga terjadi pada PSBS Biak, di mana sejumlah pemain menuliskan surat terbuka kepada PSSI, menuntut pembayaran gaji yang tertunda hingga tiga bulan. Mereka menegaskan bahwa keterlambatan tersebut berdampak pada kebutuhan dasar, fasilitas latihan, bahkan akomodasi pemain asing. Kedua kasus ini menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat dan pengawasan dari federasi untuk memastikan hak pemain terpenuhi.
Selain persoalan gaji, Jordy juga mengungkapkan ambisinya yang lebih besar: bermain untuk tim nasional Indonesia. “Sejak kecil, saya bermimpi mengenakan jersey Merah Putih. Mimpi itu masih hidup meskipun saya harus melewati rintangan finansial di klub,” katanya. Meskipun belum dipanggil ke skuad Garuda, performa konsisten di level domestik menjadi alasan kuat bagi pelatih timnas untuk mempertimbangkan namanya.
Berikut adalah rangkuman karier Jordy Tutuarima hingga kini:
- 2022: Debut profesional bersama Persis Solo di Liga 2.
- 2023/2024: Mencatat 5 gol dan 7 assist dalam 24 pertandingan.
- 2024: Mengajukan surat resmi terkait keterlambatan gaji selama tiga bulan.
- 2025: Menyatakan keinginan kuat untuk bergabung dengan timnas Indonesia.
Pengalaman Jordy menggambarkan dinamika sepakbola Indonesia yang masih bergulat dengan isu keuangan sekaligus menampilkan talenta muda yang berpotensi mengangkat kualitas kompetisi. Jika klub dan federasi dapat menyelesaikan permasalahan pembayaran, pemain seperti Jordy dapat lebih fokus pada pengembangan kemampuan teknis dan taktis, yang pada akhirnya memperkuat pool pemain nasional.
Para pengamat sepakbola menilai bahwa penyelesaian hak pemain bukan sekadar masalah administratif, melainkan faktor penting dalam meningkatkan profesionalisme liga. Dengan menegakkan standar pembayaran, klub akan lebih mampu menarik dan mempertahankan pemain berkualitas, sementara pemain dapat menyalurkan ambisinya ke level internasional tanpa beban finansial yang mengganggu.
Secara keseluruhan, cerita Jordy Tutuarima menegaskan pentingnya sinergi antara manajemen klub, liga, dan federasi untuk menciptakan ekosistem yang adil. Hanya dengan memastikan hak dasar pemain terpenuhi, sepakbola Indonesia dapat melangkah maju, memberi ruang bagi talenta lokal untuk bersinar di kancah nasional dan internasional.


