Wenger Yakin Arsenal Juara Liga Inggris Meski Dihantam Tekanan Manchester City

Liput – 21 April 2026 | JakartaArsenal kembali berada di ujung tombak klasemen Premier League, namun posisi puncak yang mereka pegang kini berada di bawah bayang-bayang serangan kuat Manchester City. Meskipun baru saja menelan dua kekalahan beruntun, termasuk kekalahan tipis 1-2 di Etihad Stadium pada Minggu (19/4/2026), legenda Gunners, Arsene Wenger, tetap yakin tim bekasnya akan mengangkat trofi Liga Inggris pada akhir musim.

Kekalahan tersebut menjadi pukulan pertama bagi Arsenal setelah mereka juga kalah dengan skor yang sama melawan Bournemouth pada pekan sebelumnya. Kedua hasil negatif itu menurunkan kepercayaan diri sejumlah pengamat, namun tidak mempengaruhi optimisme Wenger yang kini menjabat sebagai Chief of Global Football Development di FIFA. Dalam sebuah wawancara yang dikutip oleh Tribuna, ia menegaskan keyakinannya dengan tegas: “Saya yakin Arsenal akan memenangi liga. Saya sangat yakin. Bagi saya, ini masuk akal.”

Saat ini Arsenal mengumpulkan 70 poin dari 33 laga, masih memimpin klasemen meski selisihnya hanya tiga poin dari Manchester City yang telah memainkan 32 pertandingan. Jika City berhasil mengalahkan Burnley pada Kamis (23/4/2026), selisih poin dapat berkurang menjadi satu, menempatkan kedua tim dalam pertarungan sengit selama lima laga terakhir kompetisi.

Wenger menyoroti beberapa faktor yang menurutnya dapat menahan laju City. Ia memuji penampilan pemain muda Arsenal seperti Eberechi Eze, Martin Ødegaard, Kai Havertz, dan Noni Madueke yang telah menunjukkan kreativitas dan keberanian dalam serangan. “Saya suka (Eze), (Ødegaard), (Havertz), dan (Madueke) yang tampil menyerang melawan City. Manchester City tidak akan mampu meraih hasil sempurna di sisa musim,” tegas sang mantan manajer.

Perlu diingat, gelar liga terakhir yang berhasil diraih Arsenal pada musim 2003/2004 masih menjadi kenangan manis bagi para penggemar. Saat itu, tim dipimpin langsung oleh Arsene Wenger yang berhasil menjuarai Premier League tanpa mengumpulkan satu kali kekalahan – sebuah prestasi yang dikenal dengan sebutan “The Invincibles”. Sebelumnya, Wenger juga memimpin Arsenal meraih gelar liga pada 1997/1998 dan 2001/2002, serta berhasil mengumpulkan tujuh trofi Piala FA selama kariernya di Highbury dan Emirates.

Keberhasilan Arsenal di musim ini bukan hanya soal angka poin semata, melainkan juga tentang konsistensi taktik. Di bawah asuhan Mikel Arteta, Gunners telah mengadopsi pola permainan yang menekankan penguasaan bola, tekanan tinggi, dan transisi cepat. Arteta sering kali menurunkan formasi 4‑3‑3 yang fleksibel, memungkinkan pemain seperti Bukayo Saka dan Gabriel Martinelli berperan sebagai sayap yang menembus pertahanan lawan. Sementara itu, Ødegaard menjadi otak kreatif di tengah lapangan, mengatur ritme serangan dan menciptakan peluang bagi rekan‑rekannya.

Di sisi lain, Manchester City tetap menjadi ancaman paling besar. Tim asuhan Pep Guardiola memiliki skuad yang dalam dan berpengalaman, dengan pemain bintang seperti Kevin De Bruyne, Erling Haaland, dan Phil Foden. Namun, Wenger menilai bahwa tekanan kompetisi yang semakin tinggi pada lima laga terakhir dapat menyebabkan City mengalami slip‑up. “Mereka tidak kebal terhadap tekanan. Satu kesalahan kecil saja dapat mengubah nasib mereka,” ujarnya.

Berita tentang keyakinan Wenger menyebar luas di media sosial, menambah semangat para pendukung Arsenal yang menantikan aksi final musim ini. Suporter Gunners di seluruh dunia mulai mengorganisir aksi dukungan, menyiapkan spanduk, dan memperbanyak nyanyian di stadion demi memberikan dorongan moral bagi skuad.

Menjelang pertandingan penutup, Arsenal dijadwalkan melawan tim papan tengah yang masih berjuang menghindari degradasi. Jika mereka mampu mengamankan tiga poin, selisih poin dengan City akan kembali melebar, memberikan ruang bernapas yang cukup untuk menyesuaikan strategi di sisa laga. Sementara itu, City harus menunggu hasil pertandingan lawan mereka, termasuk konfrontasi melawan Burnley, untuk memastikan apakah mereka dapat menutup jarak atau malah terperosok.

Kesimpulannya, meski berada di tengah persaingan ketat dengan Manchester City, Arsenal masih memiliki peluang besar untuk mengangkat trofi Liga Inggris. Keyakinan yang diungkapkan Arsene Wenger bukan sekadar kata‑kata motivasi, melainkan cerminan pengalaman panjangnya dalam mengelola tim puncak. Jika Gunners dapat memanfaatkan kedalaman skuad, menjaga konsistensi taktik, serta menahan tekanan pada lima laga terakhir, mereka berpeluang menambah sejarah baru dalam catatan prestasi klub. Sejarah menanti, dan Arsenal memiliki semua alasan untuk percaya pada diri mereka sendiri.