Ammar Zoni Menangis di Sidang: Penyesalan Mendalam atas Waktu Hilang Bersama Anak

Liput – 04 April 2026 | Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjadi saksi bisu saat aktor dan presenter terkenal Ammar Zoni mengalirkan air mata saat membacakan bagian akhir nota pembelaannya pada Kamis, 2 April 2026. Dalam suasana yang penuh haru, ia secara khusus meminta maaf kepada kedua anaknya, Air dan Amala, yang selama ini terpaksa kehilangan kebersamaan dengan sang ayah karena kasus narkotika yang menjeratnya.

“Saya juga minta maaf kepada anak-anak saya, Air dan Amala, maafkan Daddy, Nak. Atas semua waktu kebersamaan yang sudah banyak terbuang,” ujar Ammar dengan suara bergetar. Pernyataan ini mengungkapkan beban emosional yang selama ini dipendamnya, sekaligus menegaskan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kasus Ammar Zoni kembali menjadi sorotan publik setelah ia terjerat narkoba untuk ketiga kalinya. Pada sidang lanjutan, ia tidak hanya mengakui kesalahan terkait penyalahgunaan zat, tetapi juga menyoroti dampak sosial yang dirasakan oleh keluarganya. Ia mengungkapkan ketidaktahuannya tentang kondisi terkini anak‑anaknya karena keterbatasan komunikasi di dalam penjara, namun menegaskan keyakinannya bahwa mereka berada dalam pengasuhan yang baik bersama sang ibu, Irish Bella.

“Saya enggak tahu bagaimana keadaan anak-anak saya sekarang. Bagaimana mereka tumbuh besar, karena saya enggak bisa memegang handphone dan saya enggak bisa melihat. Tapi, saya yakin pasti anak-anak saya sangat sehat di luar sana bersama mamanya,” kata Ammar. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan rasa rindu yang mendalam serta keinginan kuat untuk menebus waktu yang telah hilang.

Selain menyampaikan penyesalan kepada anaknya, Ammar juga mengakui bahwa dirinya telah menjadi contoh negatif bagi mereka. “Ya anak-anak itu yang pasti nomor satu. Saya sebagai bapak… telah membuang waktu saya. Membuang waktu saya, kebersamaan dengan anak saya yang enggak akan balik lagi gitu,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kehilangan momen berharga tidak dapat diganti, dan ia bertekad untuk menjadi ayah yang lebih baik setelah bebas dari jeratan hukum.

Sidang tersebut juga mengangkat isu perceraian Ammar Zoni dengan mantan istri Irish Bella, yang menjadi titik terendah dalam kehidupannya. Dalam pleidoi, Ammar mengaku bahwa perceraian dan masalah hukum saling memperburuk satu sama lain, menambah beban emosional pada dirinya serta anak‑anaknya. Ia menyatakan, “Karena kita berdua awam dan barang itu pun juga tidak mudah didapat, maka polisi pun mencurigai dan untuk kedua kalinya saya pun tertangkap,” sambil menambahkan bahwa hasil tes urine positif menjadi pemicu utama penangkapan kembali.

Meski berada dalam situasi yang sangat menantang, Ammar berusaha tetap positif. Ia berharap anak‑anaknya dapat tumbuh bahagia bersama sang ibu dan menemukan figur ayah yang lebih baik, meski bukan dirinya. “Saya berharap anak-anak saya bahagia bersama mamanya di sana, dan bisa mendapatkan bapak yang benar, yang baik, enggak seperti sayalah,” katanya, menutup dengan harapan agar masa depan mereka terjaga meski ia harus menanggung konsekuensi hukum.

Pengadilan pun menanggapi permohonan maaf Ammar dengan sikap yang tegas namun manusiawi. Hakim menegaskan pentingnya rehabilitasi bagi pelaku narkoba, terutama yang memiliki tanggung jawab keluarga. Dalam putusan sementara, Ammar diberikan kesempatan untuk mengikuti program pemulihan narkoba dan diizinkan mengunjungi anak‑nya dalam kondisi tertentu, sebagai upaya memulihkan ikatan keluarga yang sempat terputus.

Kasus ini kembali menyoroti betapa seriusnya dampak penyalahgunaan narkoba tidak hanya pada pelaku, tetapi juga pada lingkaran keluarga terdekat. Waktu yang terbuang, rasa kehilangan, dan beban emosional yang dirasakan anak‑anak menjadi pelajaran penting bagi masyarakat luas. Ammar Zoni, yang kini berada di penjara, mengaku bahwa penyesalan ini menjadi motivasi utama untuk berubah dan menebus kesalahan.

Dengan harapan dapat segera bebas, Ammar berjanji akan menjadikan dirinya sosok ayah yang lebih bertanggung jawab dan memberikan contoh yang baik bagi Air dan Amala. Ia menutup pernyataannya dengan tekad kuat, “Ini adalah kali terakhir saya mengecewakan keluarga. Saya ingin kembali menjadi ayah yang dapat diandalkan dan tidak lagi menjadi beban bagi mereka.”

Kesimpulannya, penyesalan Ammar Zoni bukan sekadar kata‑kata, melainkan refleksi dari kerugian waktu berharga yang tak dapat dipulihkan. Kasus ini mengingatkan publik akan pentingnya dukungan keluarga dalam proses rehabilitasi serta perlunya kesadaran akan konsekuensi sosial dari tindakan narkoba.