Liput – 05 April 2026 | Sabtu sore, 4 April 2026, warga Padang dan sekitarnya merasakan guncangan kuat akibat gempa bumi berintensitas magnitudo 5,7. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kejadian pada pukul 18.21 WIB dengan pusat gempa berada di koordinat 2,05° LS dan 100,05° BT, tepatnya 51 km tenggara Pulau Tuapejat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kedalaman gempa hanya 11 km, menandakan pergerakan yang relatif dangkal.
Wilayah Mentawai termasuk dalam zona subduksi Sunda megathrust, yang dikenal sebagai sumber utama gempa tektonik di wilayah barat Indonesia. BMKG menegaskan bahwa pergerakan pada zona megathrust ini menjadi penyebab utama guncangan, meski skala magnitudenya masih berada pada level menengah.
Getaran terasa kuat hingga Kota Padang, Bukittinggi, serta beberapa kabupaten di sekitarnya. Berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI), intensitas III‑IV tercatat di Padang, Padang Pariaman, dan Pariaman, sementara daerah Solok dan sekitarnya mencatat intensitas II‑III. Warga mengaku lampu gantung bergoyang, jendela berderik, bahkan sebagian orang berlarian keluar rumah sejenak. “Getarannya terasa berayun selama beberapa detik, lampu gantung sampai bergoyang,” kata Rahmad, warga kawasan Tabing, Padang. Doni (42) menambahkan, “Terasa ayunan cukup lama, sekitar sepuluh detik, seperti ada truk besar melintas di luar rumah.”
Sampai saat artikel ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan struktural signifikan atau korban jiwa. BMBM (Badan Penanggulangan Bencana) dan pihak kepolisian setempat terus memantau situasi, sementara tim teknis BMKG melakukan evaluasi potensi gempa susulan (aftershocks). BMKG menegaskan, berdasarkan hasil pemodelan awal, gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Namun, masyarakat di daerah pesisir disarankan tetap waspada dan memantau informasi resmi melalui aplikasi BMKG atau kanal media sosial resmi.
BMKG juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan pasca‑gempa. “Pastikan bangunan cukup tahan gempa dan tidak ada kerusakan yang mengancam keselamatan sebelum kembali menempati rumah,” ujar juru bicara BMKG. Masyarakat diminta memeriksa kondisi dinding, atap, serta instalasi listrik. Jika terdapat retakan atau deformasi, segera laporkan ke otoritas setempat.
Para ahli geofisika menambahkan bahwa kejadian ini memperkuat pemahaman tentang aktivitas tektonik di zona megathrust Sunda. “Gempa dengan kedalaman dangkal seperti ini biasanya menandakan pergeseran pada lapisan atas patahan, yang dapat meningkatkan risiko gempa susulan,” ujar Dr. Rahmat Triyono, Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG. Ia menambahkan bahwa pemantauan berkelanjutan sangat penting untuk mengantisipasi potensi gempa dengan magnitudo lebih tinggi di masa mendatang.
Selain itu, lembaga kebencanaan daerah menggalang bantuan logistik bagi warga yang mungkin membutuhkan perlindungan sementara, meskipun hingga kini tidak ada laporan evakuasi massal. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Penanggulangan Bencana menyiapkan posko koordinasi yang siap menerima laporan kerusakan dan kebutuhan darurat.
Secara keseluruhan, gempa M5,7 ini menjadi peringatan bagi warga Sumatera Barat tentang kerentanan wilayah pesisir terhadap aktivitas tektonik. Meskipun tidak menimbulkan tsunami maupun kerusakan besar, peristiwa ini menegaskan pentingnya edukasi mitigasi bencana, inspeksi bangunan secara rutin, dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi gempa susulan.
Ke depan, BMKG berkomitmen meningkatkan jaringan sensor seismik di zona megathrust untuk mempercepat deteksi dan penyebaran informasi. Masyarakat diharapkan tetap tenang, mengikuti arahan resmi, dan terus memperkuat budaya kesiapsiagaan bencana demi keselamatan bersama.