Liput – 14 April 2026 | Para pakar politik dan keamanan menilai bahwa Amerika Serikat telah mengalami kekalahan psikologis dalam konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan sekutunya di Timur Tengah. Dalam sebuah konferensi tahunan Arab Center di Washington, D.C. yang berlangsung selama lebih dari lima jam pada 10 April 2026, sejumlah akademisi terkemuka, termasuk Profesor John Mearsheimer dari Universitas Chicago, memaparkan analisis mendalam tentang kebijakan luar negeri AS, dampak perang terhadap posisi strategis Washington, serta implikasi geopolitik yang meluas.
Mearsheimer menegaskan bahwa perang saat ini telah berbalik menjadi bumerang bagi Amerika Serikat. Menurutnya, Iran kini menguasai Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan pasar energi dunia dengan Asia. Kendali atas selat tersebut memungkinkan Tehran mengganggu aliran minyak, gas, dan pupuk, serta menimbulkan potensi krisis pangan global. “Jika Selat Hormuz terus terganggu, pasokan pupuk dunia akan terancam, meningkatkan risiko kelaparan di banyak negara,” ujar Mearsheimer.
Di sisi lain, Israel, yang dipandang oleh Mearsheimer sebagai sekutu utama AS di kawasan, mengusung tiga tujuan strategis utama: memperluas wilayahnya, melakukan pembersihan etnis di wilayah yang dikuasainya, serta melemahkan negara-negara tetangga agar tetap lemah. Menurut analisis tersebut, Israel berupaya memanfaatkan konflik untuk memaksa perubahan rezim di Iran atau bahkan memecah negara itu menjadi entitas‑entitas terpisah, serupa dengan apa yang terjadi pada Suriah.
Ancaman paling serius yang diungkapkan para pakar adalah kemungkinan Israel menggunakan senjata nuklir melawan Iran. Mearsheimer menyebutkan bahwa lobi kuat Israel di Washington dapat menghalangi upaya AS untuk mencegah penggunaan senjata pemusnah massal tersebut. “Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, dan jika Tehran berhasil mengembangkan kemampuan nuklir, ada potensi Israel mempertimbangkan tindakan ekstrem,” katanya.
Kekalahan AS tidak hanya bersifat psikologis, melainkan juga material. Serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk menimbulkan kerusakan signifikan pada pesawat tempur, menipisnya stok amunisi canggih, serta keterbatasan pasukan darat. Kondisi ini mengakibatkan Washington tidak mampu melindungi sekutunya di wilayah yang sama, memperburuk persepsi publik domestik tentang kegagalan kebijakan luar negeri.
Seiring dengan dinamika ini, muncul pula diskusi tentang pembentukan aliansi pertahanan baru yang dapat menyeimbangkan kekuatan regional pasca‑perang. Beberapa negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, mulai menegosiasikan kerjasama militer yang lebih erat dengan Rusia dan Turki, sekaligus memperkuat hubungan strategis dengan China. Aliansi ini diprediksi akan mengubah peta keamanan Timur Tengah, menurunkan dominasi tradisional AS dan memperkenalkan paradigma multipolaritas baru.
Para pengamat menyoroti bahwa perubahan ini juga menimbulkan tantangan bagi institusi internasional. Penegakan hukum internasional, standar demokrasi, serta perlindungan hak asasi manusia di kawasan menjadi sorotan utama. Mearsheimer mengkritik keheningan kaum liberal di Amerika Serikat, yang menurutnya gagal mengkritik kebijakan agresif Israel dan mengabaikan konsekuensi kemanusiaan yang ditimbulkan.
Secara keseluruhan, rangkaian peristiwa ini menandai titik kritis dalam hubungan AS‑Timur Tengah. Kekalahan psikologis dan material AS, bersama dengan ancaman penggunaan senjata nuklir oleh Israel, menegaskan perlunya penataan kembali kebijakan luar negeri Washington. Di sisi lain, pembentukan aliansi pertahanan baru yang melibatkan negara‑negara regional dan kekuatan ekstra‑regional menunjukkan pergeseran keseimbangan kekuasaan yang dapat mengubah lanskap keamanan global dalam jangka menengah.
Dengan ketegangan yang terus memuncak, dunia menantikan langkah selanjutnya dari para pemimpin internasional. Apakah Amerika Serikat akan mengadopsi strategi diplomatik baru, ataukah aliansi baru akan memperkuat posisi Iran dan sekutunya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang pasti, dinamika ini telah menorehkan jejak mendalam pada politik global dan keamanan regional.