Liput – 07 April 2026 | Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak menjelang tenggat waktu ultimatum Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kepada Iran. Pada Selasa, 7 April 2026, Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz paling lambat pukul 21.00 waktu setempat, sambil mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil Iran dalam satu malam jika tuntutan tidak dipenuhi.
Respons Iran tidak kalah keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad‑Bagher Ghalibaf, secara terbuka mengejek ancaman tersebut dan menambahkan bahwa sekutu‑sekutu Amerika di Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain, akan menjadi sasaran balasan jika Washington melanjutkan aksi militer. Dalam sebuah pernyataan yang disebarkan melalui X (Twitter), Ghalibaf menegaskan, “Jika AS tidak mundur, kami siap menghancurkan delapan jembatan strategis di negara‑negara Teluk untuk mengembalikan kawasan ke ‘zaman batu’.”
Ancaman tersebut ternyata bukan sekadar retorika. Pada Senin, 6 April 2026, militer Israel (IDF) mengirimkan pesan berbahasa Persia lewat X kepada warga Iran, meminta mereka menjauhi jalur kereta api karena akan menjadi target serangan militer. Pesan itu menegaskan bahwa infrastruktur transportasi Iran akan menjadi sasaran baru dalam konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Sementara itu, Arab Saudi mengambil langkah preventif dengan menutup Jembatan Raja Fahd yang menghubungkan negara itu dengan Bahrain. Penutupan jembatan dianggap sebagai upaya melindungi infrastruktur penting dari kemungkinan serangan Iran. Keputusan ini memperparah rasa cemas di kalangan pengguna jalan dan logistik regional, mengingat jembatan tersebut merupakan rute utama bagi arus barang dan orang antara dua negara sahabat.
Uni Emirat Arab, yang biasanya berperan sebagai penengah dalam krisis regional, tampak semakin gerah. Pemerintah UEA belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang ancaman Iran terhadap delapan jembatan, namun laporan media menunjukkan peningkatan aktivitas militer di sekitar wilayah perbatasan UEA‑Saudi dan UEA‑Oman. Analisis intelijen regional menilai bahwa UEA sedang memperkuat pertahanan pantai dan menyiapkan pasokan logistik untuk menghadapi kemungkinan serangan darat atau udara.
Qatar, yang pada dasarnya menyuarakan kekhawatiran akan eskalasi tak terkendali, menegaskan bahwa situasi di Timur Tengah sudah berada di ambang “tidak dapat dikendalikan”. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al‑Ansari, mengingatkan semua pihak untuk mencari solusi diplomatik sebelum konflik meluas ke wilayah lain, termasuk Selat Bab al‑Mandeb yang kini juga menjadi sasaran ancaman Iran.
Jika ancaman Iran terhadap delapan jembatan di negara‑negara Teluk terwujud, dampaknya akan meluas jauh melampaui kerusakan fisik. Jembatan‑jembatan tersebut merupakan tulang punggung jaringan transportasi darat yang menghubungkan pelabuhan, zona industri, dan pusat logistik. Penutupan atau penghancuran jembatan akan memicu lonjakan biaya transportasi, keterlambatan pengiriman barang, serta gangguan pada rantai pasok energi, mengingat sebagian besar minyak dan gas Teluk diekspor melalui jalur darat ke pelabuhan di Bahrain, Qatar, dan UEA.
Ekonomi regional yang sudah tertekan oleh fluktuasi harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz pada awal bulan ini berisiko mengalami penurunan pertumbuhan yang signifikan. Bank-bank sentral di kawasan memperkirakan bahwa gangguan logistik dapat menurunkan PDB negara‑negara Teluk hingga 2‑3 persen dalam kuartal berikutnya, sementara biaya asuransi pengiriman barang diprediksi naik lebih dari 30 persen.
Para pengamat geopolitik menilai bahwa strategi Iran untuk mengancam delapan jembatan merupakan upaya menekan Amerika dan sekutunya secara simultan, dengan memanfaatkan kerentanan fisik infrastruktur penting. Di sisi lain, Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk melindungi sekutu‑sekutunya di Teluk dan menyiapkan pasukan tambahan serta peralatan pertahanan udara di pangkalan-pangkalan regional.
Dengan batas waktu yang semakin dekat, dunia internasional menunggu langkah selanjutnya. Apakah Iran akan melaksanakan ancaman terhadap jembatan‑jembatan Teluk? Apakah Amerika Serikat akan melancarkan serangan balasan yang dapat memperparah situasi? Sementara itu, warga sipil di kawasan tersebut hidup dalam ketidakpastian, menanti keputusan yang dapat menentukan arah konflik selanjutnya.