Rupiah Tertekan: Ancaman Perang Iran-AS Memicu Melemahnya Kurs di Tengah Lonjakan Harga Minyak

Liput – 08 April 2026 | Jakarta, 7 April 2026 – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tekanan signifikan di pasar uang antarbank, menembus level Rp17.100-an per dolar AS. Penurunan ini tidak lepas dari eskalasi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, serta dampaknya terhadap pasar energi global.

Menurut data yang dirilis oleh Doo Financial Futures, kurs rupiah pada Selasa pagi melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp17.064 per dolar AS, sementara Bloomberg melaporkan penurunan 70 poin atau 0,41 persen menjadi Rp17.105 per dolar AS pada penutupan perdagangan. Kedua angka tersebut mencerminkan konsistensi tren melemahnya rupiah sejak awal pekan.

Para analis menilai bahwa faktor utama di balik pelemahan ini adalah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh ancaman militer Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap infrastruktur kritis Iran. Trump telah mengumumkan bahwa jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz sebelum batas waktu yang ditetapkan, Amerika Serikat siap melakukan serangan terhadap pembangkit listrik, jembatan, dan fasilitas energi lainnya di wilayah tersebut. Pernyataan ini memicu kekhawatiran investor global akan potensi gangguan pasokan minyak, yang pada gilirannya meningkatkan premi risiko di pasar komoditas.

Berikut beberapa faktor kunci yang memperparah tekanan pada rupiah:

  • Ancaman militer AS: Pernyataan Trump tentang operasi militer terhadap Iran meningkatkan persepsi risiko geopolitik.
  • Penutupan Selat Hormuz: Gangguan lalu lintas kapal tanker memperketat ekspektasi pasokan minyak dunia.
  • Harga minyak naik: Harga Brent dan minyak mentah dunia mencatat kenaikan tajam, menambah beban inflasi bagi negara impor minyak.
  • Data inflasi AS: Investor menantikan rilis data inflasi AS yang dapat memengaruhi kebijakan suku bunga Federal Reserve.
  • Sentimen risk‑off: Aliran dana ke aset safe‑haven seperti dolar AS menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Bank Indonesia (BI) telah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Lukman Leong dari Doo Financial Futures memperkirakan rupiah akan tetap berada dalam kisaran Rp17.000‑Rp17.100 per dolar AS dalam beberapa sesi ke depan, asalkan BI mampu mengendalikan volatilitas pasar. Namun, ia memperingatkan bahwa jika eskalasi konflik semakin intens, tekanan dapat mendorong kurs melewati batas Rp17.150.

Tanggal Kurs Rupiah (per USD) Perubahan (%)
6 Apr 2026 Rp17.035 ‑0,32
7 Apr 2026 (ANTARA) Rp17.064 ‑0,17
7 Apr 2026 (Bloomberg) Rp17.105 ‑0,41

Selain faktor eksternal, dinamika domestik juga memainkan peran. Permintaan domestik terhadap dolar meningkat seiring dengan penurunan cadangan devisa, sementara inflasi lokal tetap berada pada level yang mengkhawatirkan. Pemerintah masih berupaya memperkuat cadangan devisa melalui intervensi pasar dan mempercepat ekspor non‑migas.

Para pengamat pasar, termasuk Ibrahim Assuaibi, menekankan bahwa kebijakan moneter BI harus tetap fleksibel. “Kami harus siap menyesuaikan instrumen moneter untuk menahan aliran keluar modal,” ujarnya. Sementara itu, pernyataan keras dari Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menolak gencatan senjata yang diusulkan AS, menuntut jaminan keamanan yang mengikat serta kompensasi atas kerusakan infrastruktur.

Dengan situasi yang terus berubah, para pelaku pasar diharapkan tetap waspada. Risiko geopolitik dapat berubah dalam hitungan jam, memicu fluktuasi nilai tukar yang tajam. Oleh karena itu, strategi diversifikasi aset dan pemantauan kebijakan BI menjadi kunci bagi investor domestik dan asing.

Secara keseluruhan, meskipun rupiah masih berada pada level yang relatif stabil di kisaran Rp17.000‑Rp17.100, tekanan eksternal dari konflik Iran‑AS dan volatilitas harga minyak tetap menjadi tantangan utama bagi stabilitas nilai tukar. Kewaspadaan BI, kebijakan fiskal yang prudent, serta upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah akan menjadi faktor penentu dalam menjaga nilai rupiah tetap berada dalam zona aman.