Liput – 15 April 2026 | Asian Games 2026 semakin dekat, dan sorotan dunia bulu tangkis kini terarah pada dua nama yang mewakili ambisi masing-masing negara. Di satu sisi, pemain muda Korea Selatan An Se‑young yang telah menutup kompetisi sebelumnya dengan satu medali emas namun tetap menuntut diri untuk menambah satu puncak lagi. Di sisi lain, Indonesia menaruh harapan pada ganda campuran Melati Daeva Oktavianti bersama Praveen Jordan, pasangan yang telah menorehkan sejarah dengan gelar All England 2020 dan kini menargetkan medali emas kedua di Asian Games.
An Se‑young, yang baru saja menutup sesi kompetisi dengan meraih emas, menegaskan bahwa pencapaian tersebut belum cukup. “Saya masih belum puas,” ungkapnya dalam sebuah konferensi pers, menambahkan tekad untuk mengamankan medali emas kedua pada Asian Games yang akan datang. Kemenangannya menegaskan dominasi Korea Selatan dalam nomor tunggal putri, namun ia juga berencana menambah koleksi dengan menembus final ganda putri, sebuah langkah yang menambah kompleksitas jadwal latihannya.
Sementara itu, melirik ke tim Indonesia, Melati Daeva Oktavianti (lahir 26 Oktober 1994, Serang) telah menapaki puncak kariernya bersama Praveen Jordan sejak mereka dipasangkan pada 2018. Kolaborasi mereka membuahkan tiga gelar bergengsi dalam dua tahun terakhir: Denmark Open 2019, French Open 2019, dan All England 2020. Pencapaian tersebut menempatkan mereka pada peringkat dunia ke‑4 dalam kategori ganda campuran, menjadikan mereka kandidat kuat untuk mengusung bendera Indonesia di Asian Games 2026.
Persiapan tim Indonesia tak hanya berfokus pada strategi permainan, melainkan juga pada penyesuaian teknis dan fisik. Contohnya, ketika tim tiba di Odense, Denmark, untuk Denmark Open 2023, mereka langsung melaksanakan sesi latihan intensif tanpa jeda, menyesuaikan diri dengan kondisi lapangan dan cuaca setempat. Pendekatan ini menunjukkan komitmen pelatih nasional untuk memaksimalkan adaptasi pemain sebelum kompetisi utama.
Di balik sorotan prestasi, bulu tangkis tetap menjadi olahraga yang menuntut ketangguhan fisik tinggi. Sejumlah atlet dunia pernah mengalami cedera mengerikan yang mengancam karier mereka. Contohnya, Ribka Sugiarto mengalami robekan UCL pada lutut saat Indonesia Masters 2021, memaksa ia absen selama lima bulan. Bellaetrix, mantan pemain tunggal putri Indonesia, menderita robekan ACL pada Piala Sudirman 2015 dan akhirnya pensiun dini pada 2016. Bahkan legenda Malaysia Lee Chong Wei tak luput; ia mengalami cedera serius pada Piala Thomas 2012. Kasus-kasus ini menjadi peringatan bagi semua pemain, termasuk Melati dan Praveen, untuk menekankan pemulihan dan pencegahan cedera dalam program latihan mereka.
Aturan dasar permainan juga menjadi faktor penting dalam strategi. Seorang pemain dinyatakan menang dalam satu set apabila mencapai 21 poin dengan selisih minimal dua poin. Bila skor mencapai 20‑20, permainan berlanjut hingga salah satu pihak memperoleh selisih dua poin, namun tidak boleh melampaui 30 poin; pada poin 29‑29, pemain yang mencapai 30 terlebih dahulu dinyatakan pemenang. Setiap pertandingan terdiri dari tiga set, dengan set ketiga berfungsi sebagai penentu bila kedua tim berbagi kemenangan satu set masing‑masing.
- Sistem poin: 21 poin per set, selisih dua poin.
- Batas maksimal: 30 poin jika skor mencapai 29‑29.
- Set penentu: dimainkan bila skor 1‑1.
Dengan pemahaman aturan yang mendalam, persiapan fisik yang ketat, dan pengalaman kompetisi internasional, harapan Indonesia untuk merebut medali emas di Asian Games 2026 menjadi semakin realistis. Kombinasi antara tekad pribadi seperti An Se‑young yang mengincar emas kedua dan kebangkitan pasangan ganda campuran Melati‑Praveen yang telah membuktikan kualitas mereka di panggung dunia, menjanjikan pertarungan sengit di arena Asian Games.
Jika tim dapat menjaga kebugaran, mengelola risiko cedera, dan menyesuaikan taktik dengan kondisi lawan, peluang untuk menambah koleksi medali emas Indonesia di bulu tangkis akan semakin terbuka lebar. Semua mata kini menanti aksi mereka pada ajang sport terbesar di Asia.
