Liput – 15 April 2026 | Dalam era yang penuh kontradiksi, banyak orang merasa dunia semakin sulit dipahami. Sensasi kebingungan ini kerap disebut sebagai kalatidha atau “zaman gila“—sebuah istilah yang diangkat dari pemikiran Ranggawarsita. Novel terbaru Seno Gumira Ajidarma, berjudul Kalatidha, menelusuri fenomena tersebut lewat sudut pandang seorang pembobol bank yang terkurung di penjara.
Tokoh utama novel ini menghabiskan waktunya dengan menelusuri kembali kliping koran tahun 1965. Dari sana, ingatannya melayang ke masa lalu yang belum selesai, membuka lapisan sejarah kelam Indonesia, termasuk tragedi Gerakan 30 September 1965. Dengan menggabungkan realisme dan surealisme, Seno menorehkan narasi yang menembus batas antara realitas fisik dan dunia batin, menampilkan konflik antara kebenaran yang retak dan kebohongan yang terinstitusionalisasi.
Penggambaran zaman gila dalam Kalatidha menyoroti bagaimana nilai‑nilai moral semakin kabur, sementara batas antara waras dan tidak semakin memudar. Karakter utama beralih antara dunia nyata dan dunia khayalan, menciptakan sebuah ruang di mana kegilaan menjadi strategi bertahan hidup. Dalam konteks ini, kegilaan tidak lagi dipandang sebagai penyimpangan semata, melainkan sebagai respon adaptif terhadap kekejaman dan ketidakadilan yang melanda masyarakat.
Melalui sudut pandang penjara, Seno menelusuri fragmen‑fragmen sejarah yang tersembunyi. Ia menampilkan seorang gadis yang kehilangan keluarganya dalam kekerasan 1965, yang kemudian hidup dengan luka tak tampak namun mendalam. Pertanyaan yang muncul ialah: siapa sebenarnya yang gila? Individu yang dipengaruhi trauma atau masyarakat yang membiarkan kekejaman terus berlangsung? Novel ini tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan mengajak pembaca untuk merenung dan menggali kebenaran sendiri.
Karakteristik tulisan Seno Gumira Ajidarma selalu menggabungkan elemen politik, sosial, dan mistik. Lahir di Boston pada 19 Juni 1958, ia tumbuh besar di Indonesia dan menjadi salah satu suara penting dalam sastra modern Indonesia. Karya‑karyanya, mulai dari cerpen hingga drama, kerap menampilkan potret manusia dalam situasi ekstrem, sekaligus membuka ruang diskusi tentang sejarah, kekuasaan, dan kemanusiaan.
Selain Kalatidha, Seno memiliki sejumlah karya lain yang juga menyentuh tema serupa. Di antaranya Mengapa Kau Culik Anak Kami? (1999) dan sekuelnya Ibu yang Anaknya Diculik Itu (2008), serta Jakarta 2039 (2000). Semua karya tersebut menyoroti luka‑luka sejarah Indonesia, terutama masa transisi menuju Reformasi 1998. Karya‑karya tersebut terus dipentaskan dan dibaca, menegaskan relevansi kritisnya hingga kini.
Untuk para pembaca yang tertarik, Gramedia menawarkan edisi ulang Kalatidha dengan cover baru dan harga spesial. Harga pre‑order ditetapkan pada Rp75.000, berlaku antara 10 hingga 24 April 2026. Selama periode promo, pembeli berkesempatan mendapatkan tanda tangan penulis, menambah nilai eksklusif bagi kolektor buku.
- Judul: Kalatidha
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Harga Promo: Rp75.000
- Periode Promo: 10‑24 April 2026
- Fasilitas: Tanda tangan penulis
Novel ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan cermin retak yang memantulkan realitas pahit zaman kita. Membaca Kalatidha memberi kesempatan bagi pembaca untuk menilai kembali cara mereka memaknai sejarah, trauma, dan cara bertahan hidup dalam kondisi sosial‑politik yang tidak menentu. Di tengah “zaman gila”, karya ini menjadi panduan untuk menemukan cara baru memahami dunia yang semakin absurd.
Dengan gaya jurnalistik yang tajam namun tetap mengedepankan unsur humanis, artikel ini berupaya menyajikan esensi novel Kalatidha secara komprehensif. Bagi mereka yang mencari bacaan yang menantang, novel ini menawarkan lapisan‑lapisan makna yang memaksa pembaca menelusuri kedalaman sejarah Indonesia sekaligus menguji ketahanan mental di era modern.
Kesimpulannya, Kalatidha bukan sekadar karya fiksi; ia adalah refleksi kritis atas dinamika sosial‑politik Indonesia, sekaligus pengingat bahwa kegilaan dapat menjadi cara bertahan hidup ketika realitas terasa tak dapat dipahami. Bagi pencinta literatur yang ingin menggali lebih dalam tentang “zaman gila” dan dampaknya pada jiwa manusia, novel ini layak menjadi bacaan utama tahun ini.