Ratusan Rumah Rusak, Ribuan Warga Mengungsi: Dampak Gempa 7,6 Magnitudo di Ternate, Maluku Utara

Liput – 07 April 2026 | Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan antara Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis, 2 April 2026, mengakibatkan kerusakan luas di Kota Ternate, Maluku Utara. Sejak kejadian, sebanyak 233 bangunan melaporkan kerusakan, termasuk lebih dari 200 rumah warga, delapan gereja, satu kantor pemerintahan, dan satu sekolah. Kerusakan terbagi menjadi 104 rumah rusak berat, 58 rusak sedang, dan 61 rusak ringan. Di samping itu, tiga gereja mengalami kerusakan berat, dua gereja rusak sedang, dan satu gereja rusak ringan.

Wilayah paling terdampak adalah Kecamatan Pulau Batang Dua, yang terdiri dari enam kelurahan. Di sana, sebanyak 1.966 jiwa dari 568 kepala keluarga terpaksa mengungsi dan kini tinggal di 29 titik penampungan sementara. Pengungsi menempati tenda-tenda yang disediakan oleh pemerintah daerah dan sejumlah organisasi bantuan. Kondisi trauma masih dirasakan, sehingga banyak warga memilih tetap berada di tempat pengungsian meski sebagian rumah mereka sudah dapat dihuni kembali.

Pemerintah Kota Ternate mengumumkan status tanggap darurat selama 14 hari, mulai 2 April hingga 15 April 2026. Selama periode ini, bantuan logistik berupa tenda, selimut, makanan siap saji, air mineral, serta perlengkapan bayi dan anak terus didistribusikan. Distribusi dilakukan menggunakan kapal milik Basarnas yang berangkat dari Pelabuhan Ahmad Yani Ternate menuju Pulau Tifure dan Pulau Mayau. Selain bantuan pemerintah, sejumlah pihak swasta, termasuk PT Harita Group, turut menyumbangkan perlengkapan kebutuhan dasar.

Gempa susulan terus menggoyang wilayah tersebut. Pada Senin, 6 April 2026, BMKG mencatat 1.108 gempa susulan sejak gempa utama, dengan 24 di antaranya dirasakan oleh warga. Gempa susulan terbesar yang tercatat pada hari itu berukuran magnitudo 4,4. Meskipun frekuensi harian menunjukkan penurunan, gempa susulan masih menimbulkan rasa tidak aman, terutama di kawasan Pulau Batang Dua yang hanya dapat dijangkau dengan perjalanan laut selama enam hingga tujuh jam.

Data kerusakan bangunan di kecamatan lain menunjukkan dampak yang lebih ringan. Di Kecamatan Ternate Selatan, tercatat tujuh rumah rusak, dengan satu rumah rusak berat, dua sedang, dan empat ringan. Kecamatan Ternate Utara mencatat tujuh rumah rusak, semua dalam kategori ringan. Kecamatan Ternate Tengah, Barat, serta Pulau Ternate dan Pulau Moti masing-masing melaporkan satu rumah rusak ringan. Secara keseluruhan, total kerusakan rumah di seluruh kota mencapai 233 unit, sementara fasilitas umum lainnya terbatas pada satu kantor dan satu sekolah yang juga mengalami kerusakan.

Upaya rehabilitasi tidak hanya terbatas pada penyediaan bantuan materi. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas terus memantau kondisi struktural bangunan yang rusak berat. Tim teknis melakukan survei untuk menentukan kelayakan bangunan kembali dihuni atau harus dibongkar. Sementara itu, edukasi tentang mitigasi bencana dan prosedur evakuasi terus digalakkan melalui pertemuan warga di posko penampungan.

Ke depannya, fokus utama akan diarahkan pada pemulihan infrastruktur dasar, termasuk perbaikan jalan akses ke Pulau Batang Dua, pemulihan jaringan listrik dan air bersih, serta penyediaan layanan kesehatan bagi korban yang masih membutuhkan perawatan. Pemerintah juga berupaya mempercepat proses bantuan dari pemerintah pusat serta mengoptimalkan koordinasi dengan lembaga kemanusiaan internasional bila diperlukan.

Dengan kerjasama antara pemerintah, organisasi non‑pemerintah, dan masyarakat, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan mengurangi beban psikologis serta ekonomi yang dialami warga Ternate pasca gempa.