Dua Siswa SD di Banjarbaru Kalsel Tewas Tenggelam di Kolam Bekas Galian, Empat Teman Selamat

Liput – 07 April 2026 | Banjarbaru, Kalsel – Pada Minggu, 5 April 2026, dua anak sekolah dasar berusia 11 tahun yang berinisial D dan H tewas tenggelam di sebuah lubang bekas galian pembuatan batu bata yang telah berubah menjadi kolam kecil di Jalan Guntung Paring, Kecamatan Landasan Ulin. Kejadian ini terjadi ketika kelima anak, yang berencana berenang bersama, berkumpul di lokasi tersebut setelah makan bersama di dekat area tersebut.

Menurut Kepala Urusan (Kaur) Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Polres Banjarbaru, Ipda Aulia Rahman, kelima anak tersebut bertemu pada sore hari dengan maksud bermain air. Satu di antara mereka, inisial G, langsung melompat ke dalam kolam dan mulai berenang. Karena kedalaman dan arus yang tidak terduga di dalam lubang bekas galian, D dan H yang kurang mahir berenang segera terseret ke tengah kolam dan tidak dapat mengangkat diri.

Saat menyaksikan temannya terjebak, dua anak lainnya berusaha membantu. Salah satunya, inisial G, berhasil menyelamatkan diri setelah berusaha menolong, meskipun ia juga tidak bisa berenang. Namun, teman ketiga yang mencoba menyelamatkan korban, inisial H, ikut tenggelam. Upaya penyelamatan oleh warga sekitar baru dapat dilakukan setelah korban pertama dievakuasi ke tepi kolam oleh penduduk setempat.

Tim penyelamat Polri dan petugas SAR tiba di lokasi tak lama setelah laporan diterima. Mereka menemukan tubuh D dan H sudah berada di dasar kolam, sementara dua anak yang selamat telah dibawa ke pos kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lanjutan. Kedua korban yang meninggal langsung diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk proses pemakaman.

Polres Banjarbaru menegaskan bahwa kolam bekas galian tersebut belum ditutup atau diberi peringatan yang memadai. “Lokasi ini merupakan lubang galian yang masih terbuka dan berisi air, sehingga sangat berbahaya bagi anak-anak yang bermain di sekitar sini,” ujar Aulia dalam keterangan kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa penyelidikan awal menunjukkan tidak ada unsur kelalaian pihak pengelola proyek pembuatan batu bata, namun pihak berwenang akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait tanggung jawab penutupan lubang galian.

Insiden ini menambah daftar tragedi serupa yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa minggu terakhir, termasuk kecelakaan di sungai dan pantai yang menewaskan anak-anak. Pihak kepolisian mengimbau orang tua dan warga untuk lebih berhati-hati serta mengawasi aktivitas anak-anak di area terbuka yang berpotensi berbahaya, terutama pada musim hujan ketika lubang galian mudah terisi air.

Menurut data yang dihimpun Dinas Perhubungan dan Penataan Ruang, terdapat lebih dari 30 lokasi galian terbuka di Banjarbaru yang belum ditutup secara resmi. Pemerintah kota telah dijadwalkan untuk melakukan inventarisasi dan penutupan seluruh lubang galian dalam tiga bulan ke depan, termasuk pemasangan rambu peringatan dan pengamanan fisik.

Warga sekitar mengungkapkan keprihatinannya atas kejadian ini. “Kami sudah mengingatkan anak‑anak untuk tidak bermain di situ, tapi mereka tetap penasaran,” kata seorang tetangga yang tidak mau disebutkan namanya. “Semoga pihak berwenang segera menindak tegas dan menutup semua lubang galian yang masih terbuka.”

Di sisi lain, pihak sekolah tempat D dan H belajar telah menyiapkan layanan konseling bagi teman‑teman sekelas dan guru yang terdampak. Kepala Sekolah menegaskan pentingnya edukasi keselamatan air di kurikulum, termasuk pelatihan dasar berenang bagi semua siswa.

Kejadian ini sekaligus menjadi peringatan bagi pemerintah daerah, pengelola proyek konstruksi, serta masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya tempat penambangan atau galian yang tidak terjaga. Diharapkan langkah preventif yang lebih kuat dapat mencegah tragedi serupa di masa mendatang.

Dengan berakhirnya penyelidikan sementara, keluarga korban masih berduka mendalam. Sementara itu, aparat kepolisian melanjutkan penyelidikan untuk memastikan semua prosedur keamanan telah dipatuhi dan mengidentifikasi potensi kelalaian yang dapat menimbulkan risiko serupa di masa depan.