Liput – 17 April 2026 | Medan, 17 April 2026 – Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria tampak menampar sopir sebuah bus perusahaan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) Sumatera Utara menyebar cepat di media sosial. Video tersebut memicu perdebatan sengit di kalangan netizen, yang menuduh tindakan kekerasan serta menyinggung isu penyalahgunaan narkoba di kalangan pegawai negeri. Menanggapi kehebohan itu, Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, memberikan klarifikasi resmi pada Rabu (16/4/2026) dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Aula Tengku Rizal Nurdin, Medan.
Bobby Nasution menyatakan bahwa insiden tersebut memang terjadi, namun menegaskan bahwa penampakan fisik dalam video tidak dapat dijadikan bukti final. Ia menambahkan bahwa penyelidikan internal telah diluncurkan oleh dinas terkait untuk mengidentifikasi semua pihak yang terlibat. “Kami tidak menutup mata terhadap tindakan kekerasan, apapun bentuknya,” kata Bobby. “Namun, penting bagi publik untuk menunggu hasil penyelidikan resmi sebelum menarik kesimpulan akhir.”
Sementara proses hukum sedang berjalan, Bobby Nasution mengungkapkan alasan yang menjadi latar belakang peristiwa tersebut. Ia menyatakan bahwa sopir BUMD yang menjadi korban penamparan diketahui menerima gaji bulanan yang memadai, namun ternyata terlibat dalam peredaran narkoba. “Kami menemukan bukti bahwa sopir tersebut, meskipun digaji, terlibat dalam konsumsi dan distribusi narkoba di wilayah kerja,” ujar Bobby. “Hal ini jelas melanggar kode etik dan peraturan perundang‑undangan, serta mengancam integritas layanan publik.”
Penegasan tersebut menambah dimensi baru pada kasus yang semula hanya dipandang sebagai tindakan kekerasan pribadi. Menurut Bobby, tindakan menampar tersebut merupakan reaksi emosional seorang saksi yang mengetahui aktivitas ilegal sang sopir. “Kami tidak membenarkan kekerasan, namun kami juga menegaskan bahwa tindakan tersebut muncul karena rasa frustrasi terhadap penyalahgunaan jabatan dan kepercayaan publik,” jelasnya.
Di tengah sorotan publik, Gubernur Sumut juga menekankan agenda ekonominya yang sedang digencarkan. Dalam audiensi bersamaan dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumut, Rudy Brando Hutabarat, dan ekonom senior Hendri Saparini, Bobby menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mempercepat akselerasi ekonomi lokal melalui hilirisasi produk unggulan, investasi, dan penguatan sektor riil. “Kami tidak bisa mengabaikan masalah sosial seperti narkoba, karena hal itu berdampak pada iklim investasi dan kepercayaan masyarakat,” kata Bobby saat menanggapi pertanyaan wartawan.
Ia menambahkan bahwa pemerintah provinsi telah menyiapkan mekanisme pengawasan internal yang lebih ketat pada semua BUMD, termasuk pengecekan latar belakang pegawai dan pelatihan anti‑narkoba. “Kami akan melakukan audit menyeluruh pada seluruh unit BUMD, memastikan tidak ada lagi oknum yang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.
Para pengamat menilai bahwa penanganan Bobby Nasution terhadap kasus ini mencerminkan pendekatan yang seimbang antara penegakan hukum dan upaya pencegahan. “Respons cepat dan transparan seperti ini penting untuk menjaga kepercayaan publik, terutama ketika isu narkoba melibatkan pejabat publik,” kata Dr. Hendri Saparini, ekonom senior yang hadir dalam pertemuan. Ia menyoroti bahwa stabilitas ekonomi Sumut sangat bergantung pada citra bersih lembaga pemerintah.
Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang prosedur rekrutmen dan pengawasan BUMD di Sumut. Beberapa pihak menuntut adanya reformasi struktural, termasuk penerapan sistem meritokrasi yang lebih ketat serta pengawasan eksternal oleh lembaga anti‑korupsi. Sementara itu, kelompok aktivis anti‑narkoba menyerukan aksi tegas terhadap semua pelaku, termasuk sopir yang menjadi korban penamparan.
Sejauh ini, pihak kepolisian Sumut telah menahan sopir BUMD yang bersangkutan untuk proses pemeriksaan lanjutan. Sementara itu, video penamparan masih menjadi bahan perbincangan di media sosial, dengan sebagian pengguna menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan, meski motivasinya berlandaskan pada keprihatinan terhadap peredaran narkoba.
Dengan latar belakang ekonomi yang sedang digerakkan oleh kebijakan hilirisasi, diversifikasi produk lokal, dan investasi, Bobby Nasution menegaskan bahwa Sumut tidak dapat mengorbankan reputasi ekonomi demi kasus individual. “Kami berkomitmen untuk menjadikan Sumatera Utara sebagai contoh provinsi yang bersih, produktif, dan menarik bagi investor,” tuturnya pada akhir konferensi pers.
Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, dan pihak berwenang akan terus memberikan update terkait perkembangan hukum dan kebijakan internal BUMD. Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan menunggu hasil resmi sebelum membuat penilaian akhir.