Liput – 20 April 2026 | Pada Kamis, 16 April 2026, helikopter PK-CFX yang beroperasi di wilayah Kalimantan Barat mengalami kecelakaan fatal di Desa Tapang Tingang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau. Pesawat yang sedang melakukan penerbangan rutin menabrak medan yang keras, menewaskan seluruh penumpang dan awak di dalamnya. Insiden tersebut langsung memicu respons cepat dari berbagai lembaga terkait, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Basarnas, TNI, Polri, serta kru teknis PT Matthew Air.
Tim gabungan segera tiba di lokasi pada hari berikutnya, 17 April, dan melanjutkan proses pengamanan serta penyelidikan intensif selama dua hari, tepatnya pada 18 dan 19 April 2026. Kapolres Sekadau, AKBP Andhika Wiratama, melalui Kasi Humas AKP Triyono, menegaskan bahwa upaya utama pada hari pertama adalah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) secara menyeluruh. Petugas memeriksa posisi akhir helikopter, mengamankan dokumen penerbangan, serta barang pribadi korban yang masih berada di sekitar puing.
Pada hari kedua, fokus investigasi beralih ke pengambilan dan pendokumentasian komponen vital dari badan helikopter. Beberapa instrumen kokpit kritis, termasuk altimeter, airspeed indicator, serta sistem kontrol mesin digital seperti DECU (Digital Engine Control Unit) dan FADEC (Full Authority Digital Engine Control), berhasil diamankan untuk analisis laboratorium. Komponen-komponen tersebut dianggap kunci dalam mengungkap kondisi teknis sebelum terjadinya kecelakaan.
Pengamanan lokasi dilakukan secara ketat oleh personel Polri yang dipimpin Kapolsek Nanga Taman, Ipda Bari Candramedi. Tim keamanan memastikan seluruh barang bukti tetap steril, tidak terkontaminasi, dan dapat diproses sesuai prosedur investigasi penerbangan yang berlaku. “Pengamanan ini penting agar proses pemeriksaan berjalan lancar dan sesuai standar internasional,” ujar Triyono dalam keterangan resmi.
Berikut ini adalah daftar barang bukti utama yang berhasil diamankan:
- Dokumen penerbangan resmi (flight plan, logbook).
- Barang pribadi korban (dompet, ponsel, identitas).
- Instrumen kokpit: altimeter, airspeed indicator.
- Sistem kontrol mesin: DECU dan FADEC.
- Bagian struktural utama helikopter (panel badan, baling-baling pecah).
Seluruh temuan akan dianalisis lebih lanjut oleh tim teknis KNKT bersama ahli forensik penerbangan. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai faktor penyebab, baik yang bersifat mekanis, operasional, maupun lingkungan. Pada saat ini, pihak berwenang masih menunggu hasil laboratorium dari komponen DECU dan FADEC untuk menentukan apakah terdapat kegagalan sistem atau faktor eksternal yang memicu kecelakaan.
Kapolres Sekadau menambahkan bahwa koordinasi antar lembaga terus ditingkatkan guna mempercepat proses investigasi. “Kami berkomitmen memberikan informasi yang akurat kepada publik, sekaligus menghormati keluarga korban dengan menuntaskan penyelidikan secara transparan,” tegasnya.
Dengan adanya bukti-bukti yang telah diamankan, proses penyelidikan diperkirakan akan berlanjut selama beberapa minggu ke depan. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan menunggu hasil resmi sebelum menarik kesimpulan akhir terkait penyebab kecelakaan helikopter PK-CFX ini.