Liput – 12 April 2026 | Sabtu, 4 April 2026, ribuan calon penumpang yang tengah menunggu di area Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) mengalami kejutan ketika sebagian atap terminal runtuh akibat cuaca ekstrem. Insiden tersebut menimbulkan kepanikan singkat, mengakibatkan penutupan sementara zona yang terdampak serta penundaan sejumlah penerbangan domestik dan internasional.
Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad R. Pahlevi, segera mengeluarkan pernyataan resmi pada hari yang sama. Dalam keterangannya, ia menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada seluruh penumpang, maskapai, serta pihak terkait. Pahlevi menegaskan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama, dan bahwa tim teknis serta manajemen bandara telah bekerja 24 jam nonstop untuk menilai kerusakan dan melaksanakan perbaikan.
Menurut laporan internal, proses perbaikan atap Terminal 3 selesai dalam dua hari kerja, tepat pada tanggal 6 April 2026. Tim teknisi menggunakan material tahan cuaca yang telah disetujui oleh regulator penerbangan sipil, sehingga bandara dapat kembali beroperasi normal pada tanggal 7 April. Pahlevi menambahkan, “Kami berterima kasih atas dukungan seluruh pihak sehingga secara umum bandara-bandara InJourney Airports dapat melayani penumpang pesawat dengan baik dan lancar pada periode sibuk tersebut.”
Sementara itu, data kuartal I 2026 menunjukkan performa penumpang yang terus meningkat meski dihadapkan pada insiden ini. InJourney Airports mencatat total pergerakan penumpang sebanyak 38,20 juta, naik sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 36,38 juta. Dari jumlah tersebut, penumpang rute domestik mencapai 28,38 juta, sementara penumpang rute internasional menyentuh 9,82 juta orang.
Lonjakan penumpang sejalan dengan peningkatan pergerakan pesawat sebesar 8,7 persen, dari 275.782 penerbangan menjadi 299.759 penerbangan pada tiga bulan pertama tahun ini. Peningkatan tersebut dipicu oleh permintaan tinggi selama libur Natal, Tahun Baru Januari 2026, serta Angkutan Lebaran 1447 Hijriah pada Maret 2026. InJourney Airports menegaskan kolaborasi erat dengan maskapai penerbangan untuk mengoptimalkan slot waktu dan memastikan ketersediaan penerbangan, terutama pada periode puncak.
Berikut adalah lima bandara tersibuk yang dikelola InJourney Airports pada kuartal I 2026:
- Bandara Soekarno-Hatta Tangerang – 13,48 juta penumpang
- Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali – 5,34 juta penumpang
- Bandara Juanda Surabaya – 3,21 juta penumpang
- Bandara Sultan Hasanuddin Makassar – 2,34 juta penumpang
- Bandara Kualanamu Deli Serdang – 1,80 juta penumpang
Menanggapi insiden atap yang jebol, Pahlevi menegaskan langkah preventif yang akan diambil ke depan. Ia mengungkapkan bahwa InJourney Airports akan meningkatkan monitoring cuaca secara real‑time, memperketat inspeksi struktural, serta mempercepat proses renovasi pada area-area kritis. “Kami mengandalkan teknologi sebagai fungsi enabler,” ujarnya, menambahkan bahwa transformasi berkelanjutan akan meliputi infrastruktur, sumber daya manusia, dan proses operasional berbasis ekosistem.
Selain perbaikan fisik, InJourney Airports juga mengumumkan program kompensasi bagi penumpang yang terdampak. Maskapai yang terbang dari atau ke Terminal 3 Soetta selama 4‑6 April 2026 akan menawarkan voucher layanan tambahan, serta prioritas rebooking bagi yang kehilangan penerbangan.
Insiden ini tidak mengurangi target strategis InJourney Airports pada kuartal II 2026, yakni memperkuat layanan bagi calon jemaah haji serta mengakomodasi peningkatan mobilitas anak sekolah pada libur semester. Dengan fondasi pertumbuhan penumpang yang kuat, perusahaan berkomitmen melanjutkan upaya menjadi “agent of development” dan “value creator” bagi perekonomian nasional.
Kesimpulannya, meskipun atap Terminal 3 Soetta mengalami kegagalan struktural yang menimbulkan gangguan singkat, respons cepat InJourney Airports bersama tim teknis berhasil memulihkan operasional dalam waktu dua hari. Di sisi lain, pertumbuhan penumpang yang konsisten mengukuhkan posisi perusahaan sebagai pengelola bandara terkemuka di Indonesia. Ke depan, fokus pada keamanan, teknologi, dan pelayanan berstandar internasional akan menjadi landasan utama untuk menghindari kejadian serupa.