Liput – 18 April 2026 | Helikopter Airbus H130 dengan registrasi PK-CFX milik PT Matthew Air Nusantara jatuh pada Kamis (16/4/2026) di wilayah hutan Bukit Puntak, Sekadau, Kalimantan Barat. Kecelakaan ini menewaskan seluruh delapan orang yang berada di dalamnya, termasuk pilot senior Capt. Marindra Wibowo, engineer Harun Arasyid, serta enam penumpang.
Pesawat lepas landas pada pukul 07.37 WIB dari helipad PT Cipta Mahkota dan ditargetkan mendarat di helipad PT Graha Agro Nusantara 1. Sekitar pukul 08.39 WIB, PK-CFX mengirimkan sinyal darurat dari kawasan hutan, menandakan terjadinya anomali di udara. Kontak radio terputus pada pukul 09.15 WIB, dan pada pukul 10.43 WIB AirNav Indonesia secara resmi menetapkan fase darurat DETRESFA.
Tim SAR gabungan yang dipimpin Basarnas, TNI Angkatan Udara, serta aparat daerah segera dikerahkan. Upaya pencarian dipersulit oleh medan hutan lebat dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Setelah beberapa jam pencarian intensif, lokasi jatuhnya helikopter berhasil ditemukan, dan tim penyelamat mengonfirmasi bahwa semua orang di dalam pesawat telah meninggal dunia.
Identitas korban yang diumumkan oleh Kementerian Perhubungan meliputi:
- Capt. Marindra Wibowo – Pilot utama, dengan pengalaman terbang tinggi dan pernah mengikuti pelatihan lanjutan di Italia.
- Harun Arasyid – Engineer pesawat, bertanggung jawab atas pemeliharaan teknis helikopter.
- Enam penumpang – Terdiri dari staf perusahaan serta tamu yang sedang melakukan perjalanan bisnis di daerah Kalimantan Barat.
Capt. Marindra dikenal sebagai sosok yang ramah dan sering menyapa tetangga di sekitar area padang terbang meskipun jarang berinteraksi secara pribadi. Rekan-rekannya menyebutkan kebiasaan Marindra yang selalu memeriksa kondisi cuaca dan melakukan briefing menyeluruh sebelum setiap penerbangan. Ia juga pernah menempuh pelatihan khusus di Italia untuk meningkatkan kemampuan mengoperasikan helikopter tipe EC130 T2.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. “Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya kepada keluarga Capt. Marindra, Harun, serta seluruh penumpang yang telah meninggal. Pemerintah akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan proses penanganan dan investigasi berjalan sesuai prosedur,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta.
Pemerintah menegaskan bahwa investigasi penyebab kecelakaan akan dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi Udara (KNKT) bekerja sama dengan otoritas penerbangan sipil dan tim teknis dari Airbus. Penyebab pasti masih menjadi fokus utama, mengingat faktor cuaca, kondisi teknis, serta potensi faktor manusia semuanya perlu dianalisis secara menyeluruh.
Sejumlah pihak mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi. Basarnas menegaskan bahwa semua informasi resmi akan disampaikan melalui kanal resmi pemerintah dan otoritas penerbangan. Sementara itu, proses evakuasi jenazah dan pemulangan jenazah ke keluarga masing-masing tengah berlangsung, dengan koordinasi ketat antara Kementerian Perhubungan, TNI, dan aparat daerah.
Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan operasional penerbangan di wilayah terpencil Kalimantan Barat. Pemerintah daerah dan pusat diperkirakan akan meninjau kembali prosedur operasional standar, termasuk pemantauan sinyal darurat dan kesiapan fasilitas SAR di daerah hutan.
Kasus PK-CFX menjadi catatan kelam bagi industri penerbangan Indonesia, mengingat kehilangan sosok profesional seperti Capt. Marindra yang telah berkontribusi pada pengembangan penerbangan helikopter di negara ini. Keluarga korban, rekan kerja, serta masyarakat luas diharapkan dapat memperoleh dukungan moral dan bantuan yang diperlukan selama proses pemulihan.
Dengan berakhirnya operasi SAR, fokus kini beralih pada penyelidikan mendalam dan penyediaan kompensasi bagi keluarga yang ditinggalkan. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk meningkatkan standar keselamatan penerbangan, agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.