Meninggalnya Remaja Karena Penusukan Tetangga: Konflik Berisik Main Game Pecah Jadi Tragedi

Liput – 10 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – Seorang remaja berusia 16 tahun tewas setelah ditusuk oleh tetangganya pada Senin malam, 9 April 2026, di sebuah kompleks perumahan di daerah Cengkareng. Insiden tersebut diduga berawal dari perselisihan terkait kebisingan yang timbul ketika korban sedang bermain game secara intens di kamar rumahnya.

Korban, yang diidentifikasi sebagai Andi Pratama (nama samaran), ditemukan tergeletak tak bernyawa di ruang tamu rumahnya dengan luka tusuk di bagian dada. Saksi mata menyatakan bahwa tetangga korban, Budi Santoso (nama samaran), yang berusia 45 tahun, tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan membawa pisau dapur setelah mendengar suara game yang dinilai terlalu keras.

Polisi setempat tiba di lokasi sekitar pukul 22.30 WIB setelah menerima laporan panggilan darurat dari tetangga lain. Tim penyidik langsung melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, dan mengamankan Budi Santoso sebagai tersangka utama. Menurut pernyataan resmi kepolisian, Budi mengakui bahwa ia merasa terganggu oleh suara game yang terus-menerus, namun menolak bahwa tindakan penusukan merupakan respons yang wajar.

“Kami sedang melakukan penyelidikan mendalam mengenai motif dan keadaan perselisihan antara kedua belah pihak,” ujar Kapolres Cengkareng, Kompol Andi Widodo, dalam konferensi pers singkat. “Kami juga akan memeriksa rekaman CCTV yang berada di sekitar komplek serta saksi-saksi yang berada di lokasi pada saat kejadian.”

Keluarga korban tampak terpukul. Ibu korban, Siti Nurjanah, menangis sambil mengungkapkan kekecewaan atas kejadian yang menimpa putranya. “Dia hanya ingin bersenang-senang dengan game, tidak ada yang salah. Kami tidak pernah menyangka hal ini akan berakhir tragis,” ujar Siti.

Sementara itu, tetangga lain mengaku pernah mengalami gangguan kebisingan sebelumnya, namun tidak pernah melaporkan secara resmi. “Kadang suara musik atau game memang mengganggu, tapi biasanya kami menyelesaikannya dengan cara berbicara,” kata Rani, seorang warga yang tinggal bersebelahan.

Kasus ini memicu perdebatan publik tentang batas kebebasan bermain game di lingkungan perumahan serta cara menangani konflik antarwarga. Beberapa pakar psikologi remaja, seperti Dr. Hasan Rafi, menilai bahwa tekanan sosial dan kebiasaan bermain game berjam-jam dapat memicu stres baik pada pemain maupun orang di sekitarnya. “Penting bagi orang tua dan lingkungan untuk menetapkan aturan yang jelas mengenai jam bermain, volume, dan etika berkomunikasi ketika terjadi gangguan,” ujar Dr. Rafi.

Di sisi lain, organisasi kepolisian mengingatkan warga agar tidak mengambil tindakan kekerasan sebagai solusi. “Jika ada gangguan, langkah pertama tetaplah melaporkan kepada pihak berwajib atau mengadakan mediasi dengan pihak terkait,” tegas Kompol Andi.

Penyelidikan lebih lanjut akan melibatkan analisis rekaman audio yang diambil dari perangkat game korban, serta pemeriksaan latar belakang Budi Santoso, yang diketahui memiliki riwayat kemarahan dan tekanan finansial. Jika terbukti bersalah, Budi berpotensi dijerat dengan pasal pembunuhan dengan niat tertentu, sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Kasus penusukan ini menjadi peringatan keras bagi komunitas perumahan di Indonesia untuk lebih memperhatikan tata tertib lingkungan, mengedepankan dialog, serta menghindari eskalasi konflik yang dapat berujung pada tragedi. Pemerintah daerah setempat berjanji akan meninjau kembali regulasi kebisingan dan memperkuat program mediasi warga guna mencegah kejadian serupa di masa depan.

Dengan proses hukum yang masih berjalan, keluarga korban berharap keadilan dapat ditegakkan dan pelajaran berharga dapat diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan harmonis.