Drama Juventus: Dari Krisis Striker hingga Warisan Ronaldo yang Membayangi

Liput – 10 April 2026 | Juventus kembali menjadi sorotan tajam di kancah sepakbola Italia setelah serangkaian perkembangan yang menggabungkan masalah taktis, keuangan, dan psikologis. Klub legendaris dari Turin ini tengah berjuang menyesuaikan diri dengan dinamika baru, mulai dari kegagalan striker baru hingga dampak transfer megabintang yang masih terasa hingga kini.

Kanada Jonathan David, yang tiba di Allianz Stadium pada awal musim 2025/2026 dengan ekspektasi tinggi, belum mampu menunjukkan performa yang sepadan dengan reputasinya. Sebelumnya menjadi pencetak gol utama Lille di Ligue 1, David justru mengalami penurunan tajam dalam hal penyelesaian akhir dan kehadiran di kotak penalti. Kekurangan adaptasi ke Serie A, bersama dengan sistem yang tampaknya tidak memaksimalkan kelebihannya, membuatnya menjadi sorotan kritis di antara para penggemar.

Menurut analisis taktis, Juventus seharusnya membangun skema permainan yang menyesuaikan dengan gaya David—memanfaatkan pergerakan tanpa bola, umpan-umpan terarah ke ruang kosong, serta peran penyangga yang dapat menyalurkan bola dengan cepat. Namun, pelatih Luciano Spalletti tampak lebih menekankan pada proses adaptasi pemain terhadap sistem klub, alih-alih mengubah taktik demi menonjolkan kualitas striker tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Juventus akan terus menunggu David menemukan bentuknya atau segera mencari solusi alternatif di pasar transfer.

Sementara itu, pada pekan mendatang Juventus akan berhadapan dengan Atalanta di New Balance Arena. Dalam susunan perkiraan, gelandang asal Belanda Teun Koopmeiners diprediksi akan memulai laga sebagai gelandang serang, mengingat absennya Weston McKennie karena skors. Koopmeiners, yang pernah berkarier di Atalanta, kini mendapat kesempatan untuk membuktikan diri di depan pendukung lamanya. Susunan yang diproyeksikan menampilkan formasi 4-2-3-1 dengan Jonathan David sebagai penyerang utama, di samping peran penting dari wing‑wing seperti Francisco Conceição dan Kenan Yıldız.

  • Penjaga Gawang: Michele Di Gregorio
  • Bek: Pierre Kalulu, Gleison Bremer, Lloyd Kelly, Andrea Cambiaso
  • Gelandang Tengah: Manuel Locatelli, Khephren Thuram
  • Sayap: Francisco Conceição, Weston McKennie (jika tersedia), Kenan Yıldız
  • Penyerang Tengah: Jonathan David

Di luar lapangan, mantan Direktur Olahraga Juventus, Fabio Paratici, mengungkapkan bahwa transfer Cristiano Ronaldo pada 2018 menciptakan “masalah” tersendiri bagi klub. Meskipun Ronaldo mencetak 101 gol dalam 134 penampilan, kehadirannya yang terlalu dominan justru menurunkan motivasi rekan-rekannya, yang merasa “terlalu mudah” karena bintang tersebut selalu menyumbang gol. Paratici menilai bahwa ketergantungan pada satu pemain utama mengakibatkan kebutuhan perubahan manajerial, termasuk pergantian pelatih, untuk menggugah kembali semangat tim.

Masalah internal tidak hanya berhenti pada Ronaldo. Seorang mantan bek Juventus mengaku masih merasakan luka setelah keputusan Massimiliano Allegri pada 2017 yang menyingkirkan beberapa pemain kunci. Meskipun tidak ada pernyataan resmi, rasa tidak puas tersebut menambah lapisan ketegangan dalam sejarah klub, memperlihatkan bahwa keputusan taktis dapat meninggalkan dampak emosional jangka panjang pada para pemain.

Dari segi keuangan, kontrak megabintang dan dampak pandemi COVID‑19 menambah beban pada neraca Juventus. Gaji yang tinggi serta beban amortisasi membuat klub harus menyeimbangkan buku keuangan sambil tetap berupaya bersaing di level tertinggi. Hal ini menjadi tantangan tambahan bagi manajemen yang berusaha mengembalikan kejayaan lama tanpa mengorbankan stabilitas jangka panjang.

Kesimpulannya, Juventus berada pada persimpangan penting. Keberhasilan adaptasi Jonathan David, kemampuan mengoptimalkan peran Koopmeiners, serta penilaian kembali strategi setelah era Ronaldo menjadi faktor penentu. Jika klub dapat menyesuaikan taktik dengan kekuatan pemain, memperbaiki manajemen internal, dan menata keuangan secara berkelanjutan, Bianconeri masih berpeluang kembali menancapkan piala di Serie A dan kompetisi Eropa.