Benda Bercahaya Melintas Langit Lampung: BRIN Ungkap Pecahan Roket China, Bukan Meteor Pembakar Daratan

Liput – 10 April 2026 | Ratusan warganet di Indonesia terkejut pada Sabtu malam, 4 April 2024, ketika sebuah cahaya terang meluncur melintasi langit wilayah Lampung dan Banten. Video yang diunggah di platform TikTok menampilkan kilatan kuat di atas daerah Jabung, Lampung Timur, disertai dengan narasi bahwa cahaya tersebut merupakan meteor yang jatuh dan menimbulkan kebakaran di area pendaratannya.

Segera setelah video tersebut menjadi viral, banyak pengguna media sosial menyebarkan spekulasi bahwa fenomena itu merupakan meteorit yang mengubah malam menjadi siang dan bahkan membakar permukiman setempat. Klaim tersebut diperkuat oleh sejumlah komentar yang menyebut terdengar suara dentuman serta terlihat asap di sekitar lokasi yang dikabarkan menjadi bukti jatuhnya batu luar angkasa.

Namun, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan klarifikasi resmi pada hari yang sama. Menurut penjelasan yang disampaikan oleh tim ahli BRIN, objek bercahaya yang melintas di langit Lampung dan Banten adalah sampah antariksa, tepatnya pecahan bekas roket milik China yang mengalami pembakaran saat masuk kembali ke atmosfer Bumi. Analisis ilmiah menunjukkan bahwa benda tersebut terbakar pada ketinggian sekitar 120 kilometer akibat gesekan dengan atmosfer, menghasilkan cahaya intens namun tidak mencapai permukaan tanah.

Berikut beberapa fakta penting yang diungkapkan oleh BRIN:

  • Objek tersebut merupakan puing-puing roket peluncuran milik China yang terlepas pada misi luar angkasa sebelumnya.
  • Re‑entry terjadi pada ketinggian sekitar 120 km, menghasilkan cahaya yang dapat dilihat hingga jarak ratusan kilometer.
  • Proses pembakaran mengakibatkan objek hancur total sebelum mencapai permukaan, sehingga tidak menimbulkan dampak fisik atau kebakaran di wilayah daratan.
  • Fenomena serupa pernah terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk kejadian di Bali dan Jawa Barat pada tahun-tahun sebelumnya.

Penjelasan tersebut menepis rumor bahwa meteor jatuh menimbulkan kebakaran di Lampung. BRIN menegaskan tidak ada laporan resmi mengenai kebakaran atau kerusakan material di area Jabung setelah peristiwa tersebut. Sementara itu, tim SAR dan kepolisian setempat melaporkan tidak menemukan jejak debu atau puing yang dapat mengindikasikan jatuhnya benda luar angkasa.

Reaksi publik pun beragam. Sebagian warga mengaku sempat panik dan menghindari aktivitas di luar rumah, sementara yang lain menilai fenomena tersebut sebagai pertunjukan alam yang menakjubkan. Aktivitas di media sosial tetap tinggi, dengan tagar #MeteorLampung dan #RoketChina mendominasi tren di Twitter Indonesia selama beberapa jam setelah video pertama kali diunggah.

Para ahli juga menekankan pentingnya edukasi publik terkait fenomena antariksa. “Kita harus memahami bahwa tidak semua cahaya di langit berarti bencana,” ujar Dr. Indra Setiawan, peneliti antariksa BRIN, dalam konferensi pers virtual. Ia menambahkan bahwa sampah antariksa merupakan masalah global yang memerlukan kerja sama internasional untuk meminimalkan risiko bagi populasi di bumi.

Secara historis, Indonesia telah menjadi titik masuk bagi berbagai objek luar angkasa karena letaknya yang strategis di atas jalur lintasan satelit. Pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta BRIN secara rutin memantau pergerakan benda antariksa menggunakan jaringan radar dan sensor optik. Data terbaru menunjukkan peningkatan frekuensi masuknya puing-puing roket, terutama dari negara-negara yang aktif meluncurkan satelit komersial.

Dengan klarifikasi resmi ini, masyarakat Lampung dapat bernapas lega. Meskipun fenomena tersebut tidak menimbulkan bahaya langsung, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan komunikasi yang cepat antara lembaga ilmiah, pemerintah, dan media. Informasi yang akurat dan tepat waktu dapat mencegah penyebaran hoaks serta menenangkan kepanikan publik.

Kesimpulannya, cahaya terang yang melintas di atas Lampung pada 4 April 2024 bukanlah meteor yang membakar daratan, melainkan pecahan roket China yang terbakar di atmosfer. Penelitian BRIN memastikan tidak ada bahaya bagi penduduk, sekaligus menyoroti tantangan pengelolaan sampah antariksa yang semakin mendesak di era penerbangan ruang angkasa komersial.