Liput – 18 April 2026 | Setiap tahunnya, Indonesia memperingati Hari Kartini pada tanggal 21 April. Tahun 2026, peringatan tersebut jatuh pada hari Selasa, 21 April 2026, dan kembali menegaskan pentingnya sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Meskipun tidak termasuk dalam daftar hari libur nasional, momentum ini tetap menjadi agenda penting di kalangan sekolah, institusi pemerintahan, serta organisasi kemasyarakatan.
Sejarah penetapan Hari Kartini bermula dari Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 108 Tahun 1964 yang secara resmi menetapkan tanggal kelahiran R.A. Kartini, 21 April 1879, sebagai Hari Kartini. Keppres tersebut menegaskan peringatan nasional untuk menghormati perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan Jawa pada masa kolonial. Namun, teks Keppres tidak mengatur kewajiban pelaksanaan upacara bendera atau menjadikan hari tersebut sebagai cuti bersama.
Hal ini ditegaskan kembali dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, yang menyatakan bahwa Hari Kartini 2026 tidak termasuk dalam hari libur resmi. Akibatnya, kantor pemerintah, sekolah, serta layanan publik tetap beroperasi seperti biasa pada tanggal tersebut. Meskipun demikian, banyak institusi memilih untuk menyelenggarakan kegiatan peringatan sebagai bentuk penghormatan.
Berbagai bentuk kegiatan dapat dilaksanakan, mulai dari upacara bendera sederhana hingga lomba kreativitas. Berikut contoh susunan acara upacara bendera yang sering dipakai oleh sekolah atau lembaga pemerintah:
- 07.30–07.40: Pembukaan dan penyambutan
- 07.40–07.45: Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya
- 07.45–07.50: Doa bersama
- 07.50–08.00: Penyampaian sambutan kepala sekolah atau pejabat
- 08.00–08.15: Pembacaan sejarah singkat Hari Kartini
- 08.15–08.30: Penutup dan penyebaran bendera
Selain upacara, sekolah biasanya mengadakan lomba-lomba yang menonjolkan nilai-nilai Kartini, seperti lomba fashion show busana adat, lomba pengucapan teks, atau kompetisi fotografi yang mengangkat tema emansipasi perempuan. Contoh proposal kegiatan Hari Kartini yang disiapkan oleh OSIS mencakup latar belakang, tujuan, jenis kegiatan, serta estimasi anggaran, sehingga proses perencanaan menjadi lebih terstruktur.
Beberapa contoh kegiatan yang berhasil dilaksanakan meliputi:
- Fashion Show Pakaian Tradisional – siswa menampilkan kostum adat dari berbagai daerah, sekaligus menjelaskan makna budaya di balik tiap pakaian.
- Lomba Pengucapan Teks Kartini – peserta membacakan kutipan surat-surat Kartini, menguji kemampuan retorika sekaligus memperdalam pemahaman sejarah.
- Lomba Fotografi “Emansipasi dalam Lensa” – mengajak siswa menangkap momen-momen yang merepresentasikan peran perempuan modern di Indonesia.
Secara umum, peringatan Hari Kartini tidak diwajibkan secara nasional, namun kebijakan masing-masing instansi dapat menentukan tingkat partisipasinya. Pemerintah daerah seringkali menyediakan materi edukatif, sedangkan sekolah dapat mengintegrasikan tema Kartini ke dalam kurikulum pelajaran sejarah, bahasa Indonesia, dan PPKn.
Hari Kartini juga menjadi momentum penting untuk mengingat kembali tantangan yang masih dihadapi perempuan Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan partisipasi politik. Surat-surat Kartini yang berisi keluh kesah tentang keterbatasan akses pendidikan bagi perempuan pada abad ke-19 masih relevan sebagai cermin perjuangan kontemporer. Oleh karena itu, peringatan pada 21 April tidak sekadar ritual seremonial, melainkan ajakan untuk melanjutkan semangat perubahan.
Pada tahun 2026, dengan statusnya sebagai hari kerja biasa, masyarakat diimbau untuk tetap menghormati makna Hari Kartini melalui aktivitas yang edukatif dan inspiratif. Baik melalui upacara singkat, lomba kreatif, atau diskusi panel tentang kesetaraan gender, setiap upaya kecil dapat memperkuat warisan R.A. Kartini bagi generasi mendatang.
Kesimpulannya, tanggal 21 April tetap menjadi tonggak penting dalam kalender nasional Indonesia. Meskipun tidak berstatus hari libur, Hari Kartini 2026 menawarkan peluang bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperkuat nilai-nilai emansipasi, menghargai sejarah, dan menginspirasi perubahan sosial yang berkelanjutan.