Liput – 09 April 2026 | Operasi rutin yang melibatkan 250 anggota Polri Militer di kawasan Complexo da Mare, sebuah kompleks favela di wilayah utara Rio de Janeiro, menghasilkan penemuan narkoba dalam jumlah rekor nasional. Seekor anjing pelacak bernama Hulk mendeteksi keberadaan barang mencurigakan di bawah sebuah tangki air yang sudah tidak terpakai, memicu penyelidikan lebih lanjut yang mengungkap sebuah bunker tersembunyi berisi 48 ton ganja, senilai lebih dari 50 juta real (sekitar US$10 juta).
Penemuan ini menandai penyitaan narkoba terbesar dalam sejarah Brasil. Lieutenant Kolonel Luciano Pedro Barbosa, komandan Batalyon Operasi Anjing, menyatakan bahwa temuan tersebut tidak didasarkan pada intelijen sebelumnya, melainkan keberhasilan misi pencarian anjing pelacak. “Semua ini berkat kerja anjing, tanpa petunjuk sebelumnya,” ungkapnya.
Pengangkutan ganja tersebut memerlukan empat truk, dan proses pemindahan barang selesai dalam waktu lima jam dengan bantuan puluhan petugas. Selama proses tersebut, tim polisi menghadapi tembakan dari kelompok kriminal yang menguasai wilayah tersebut, mengakibatkan terjadinya baku tembak dan penangkapan seorang tersangka bersenjata.
Selain narkoba, operasi tersebut berhasil menyita lima senapan laras panjang, empat pistol, serta 26 kendaraan curian yang meliputi mobil dan sepeda motor. Penangkapan tambahan dan barang bukti tersebut menegaskan besarnya jaringan kriminal yang beroperasi di favela, yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perdagangan narkoba, senjata, dan kejahatan lain.
Rekor sebelumnya tercatat pada tahun 2021, ketika polisi jalan raya di negara bagian Mato Grosso do Sul menyita 36,5 ton narkoba. Peningkatan volume penyitaan ini mencerminkan eskalasi produksi dan distribusi narkotika di Brasil, serta tantangan yang dihadapi aparat keamanan dalam menanggulangi kejahatan terorganisir.
Favela-favela di Rio de Janeiro, termasuk Complexo da Mare, dikenal memiliki kepadatan penduduk tinggi dan tingkat kemiskinan yang signifikan. Kontrol wilayah oleh faksi kriminal menghambat akses layanan publik dan memperparah ketidakamanan. Penemuan ini diharapkan menjadi titik balik dalam upaya memutus rantai pasok narkoba, sekaligus menurunkan pendapatan kelompok kriminal yang mengandalkan penjualan ganja.
Berikut rangkuman data utama dari operasi tersebut:
- Total ganja yang disita: 48 ton
- Nilai estimasi kerugian bagi kelompok kriminal: lebih dari 50 juta real
- Jumlah petugas terlibat: 250 anggota militer polisi
- Senjata yang disita: 5 senapan, 4 pistol
- Kendaraan yang disita: 26 unit (mobil dan sepeda motor)
- Waktu pemindahan barang: 5 jam
Para analis keamanan menilai bahwa keberhasilan operasi ini tidak hanya berkontribusi pada penurunan pasokan narkoba di pasar domestik, namun juga mengirimkan sinyal kuat kepada jaringan internasional yang menggunakan Brasil sebagai jalur transit. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa tindakan tegas semacam ini dapat memicu peningkatan kekerasan di daerah-daerah yang terdampak, mengingat faksi-faksi kriminal berpotensi melakukan balas dendam atau mencari cara baru untuk menyembunyikan operasi mereka.
Keberhasilan anjing pelacak Hulk menegaskan pentingnya penggunaan unit K-9 dalam operasi keamanan. Anjing-anjing tersebut dilatih untuk mendeteksi berbagai jenis narkotika dan bahan peledak, serta dapat mengidentifikasi tempat persembunyian yang sulit dijangkau manusia. Pemerintah Brasil berencana memperluas program pelatihan K-9 untuk meningkatkan efektivitas penanggulangan kejahatan di seluruh negeri.
Secara keseluruhan, operasi ini menandai pencapaian penting bagi penegakan hukum di Brasil, sekaligus menyoroti tantangan yang terus berlanjut dalam memerangi perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisir. Pemerintah kota Rio de Janeiro berjanji akan meningkatkan investasi dalam program sosial dan keamanan di favela, dengan harapan menciptakan alternatif ekonomi bagi penduduk yang selama ini terjebak dalam jaringan kriminal.
Dengan menurunkan pasokan narkoba secara signifikan, diharapkan tingkat kejahatan terkait narkotika di Rio de Janeiro dapat menurun dalam jangka menengah hingga panjang, memberikan ruang bagi pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup warga.