Liput – 09 April 2026 | Di sore yang berangin pada tanggal 8 April 2026, San Siro menyaksikan salah satu pertunjukan paling mendebarkan dalam sejarah Serie A. Inter Milan, yang terdesak 3-0 pada menit ke-30 babak pertama melawan AS Roma, berhasil melakukan comeback luar biasa hingga menutup laga dengan skor akhir 7-3. Kemenangan ini tidak hanya mengokohkan posisi Nerazzurri di papan atas klasemen, tetapi juga menegaskan peran sentral Lautaro Martínez sebagai penyerang andalan.
Awal pertandingan ditandai dengan dominasi Roma yang memanfaatkan serangan cepat melalui Paulo Dybala dan Lorenzo Pellegrini. Dua gol pertama Roma tercipta dari tendangan bebas yang menaklukkan kiper Inter, Yann Sommer, dan satu gol tambahan dari gol tap-in di dalam kotak penalti pada menit ke-28. Pada titik itu, suasana di tribun tampak suram bagi pendukung Inter.
Namun, perubahan taktik yang diterapkan oleh pelatih Simone Inzaghi pada menit ke-31 mengubah dinamika pertandingan. Inzaghi menginstruksikan formasi lebih menyerang dengan menurunkan Hakan Calhanoglu lebih dalam sebagai playmaker, sambil menambah kecepatan pada sayap kanan melalui Duvan Zapata. Langkah berani ini mulai menunjukkan hasilnya pada menit ke-38 ketika Lautaro Martinez memanfaatkan kesalahan lini belakang Roma, menembus ruang dan mengirimkan bola ke sudut atas jaringan.
Gol pertama Lautaro menjadi pemicu semangat tim. Pada menit ke-45, hanya beberapa menit sebelum jeda, Lautaro kembali memanfaatkan umpan silang dari Calhanoglu, menanduk bola ke dalam kotak penalti dan menambah angka menjadi 3-3. Sorak sorai penonton menggema, menandai babak pertama yang berakhir dengan hasil imbang.
Memasuki babak kedua, Inter menampilkan intensitas tinggi. Pada menit ke-52, Inter mempercepat tempo dengan serangan balik cepat, mengandalkan kecepatan Zapata yang mengirimkan bola panjang ke Lautaro di sisi kanan lapangan. Lautaro, dengan insting predator, menembus dua bek Roma dan menambah gol keempat Inter dengan tendangan halus ke sudut kanan bawah.
Roma mencoba mengembalikan keseimbangan melalui gol balasan pada menit ke-58 lewat Aaron Ramsey, namun Inter sudah menyiapkan serangan selanjutnya. Pada menit ke-63, Calhanoglu mengirimkan umpan terobosan yang diterima oleh Romelu Lukaku, yang mengeksekusi tendangan voli spektakuler, mencetak gol kelima Inter.
Momentum terus mengalir. Pada menit ke-71, Lautaro, yang kini berada dalam performa puncak, mencetak gol kelima Inter dengan serangan satu lawan satu melawan kiper Roma, Gianluca Petecchia, menandai skor 5-3. Kecepatan dan ketepatan tendangan kakinya menjadi sorotan utama, menegaskan mengapa ia dianggap sebagai salah satu penyerang paling mematikan di Italia.
Roma berusaha bangkit dengan gol keenam pada menit ke-78 lewat Edin Dzeko, namun Inter tak mau menyerah. Pada menit ke-84, Zapata kembali menyalurkan umpan silang ke sisi kiri, di mana Lautaro menukik dan mengeksekusi sundulan keras yang menambah gol keenam Inter, menjadikan skor 6-4.
Menit-menit akhir pertandingan menjadi ajang pamer ketajaman Inter. Pada menit ke-90+2, Lautaro menutup aksi dengan gol ketujuhnya, menyelesaikan serangan yang dimulai dari lini tengah, melengkapi catatan pribadi yang luar biasa dalam satu laga. Sorakan menggema di seluruh stadion, menandai akhir laga dengan skor akhir 7-3 untuk Inter Milan.
Kemenangan ini mengangkat Inter ke posisi kedua klasemen Serie A dengan 68 poin, hanya terpisah tiga poin dari pemimpin Juventus. Di sisi lain, Roma terpaksa turun ke posisi keempat dengan 58 poin, menimbulkan tekanan pada pelatih mereka untuk memperbaiki performa di sisa musim.
Secara statistik, Inter mencatat 15 tembakan dengan 9 di antaranya mengarah ke gawang, sementara Roma hanya mampu menghasilkan 8 tembakan dengan 3 tepat sasaran. Kiper Yann Sommer melakukan lima penyelamatan krusial, termasuk dua penyelamatan di menit-menit akhir yang hampir mengubah hasil pertandingan.
Lautaro Martinez kini menutup laga dengan total 22 gol dalam kompetisi, menempati peringkat pertama pencetak gol Serie A musim ini. Penampilannya yang fenomenal menjadi sorotan utama, dan para pengamat memperkirakan bahwa ia akan menjadi kandidat kuat untuk penghargaan Pemain Terbaik Serie A tahun ini.
Dengan drama 7 gol ini, Inter Milan tidak hanya mempertegas reputasinya sebagai tim yang tak mudah menyerah, tetapi juga menambah warna baru dalam persaingan ketat Serie A. Pertandingan ini akan dikenang sebagai salah satu comeback paling dramatis dalam sejarah liga, sekaligus menegaskan peran kunci Lautaro Martinez dalam perjalanan Inter menuju gelar juara.