Liput – 09 April 2026 | Jakarta – Kabar bahagia kembali mengalir dari keluarga besar almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Putri bungsunya, Inayah Wahid, secara resmi menapaki jenjang pernikahan setelah mengikat tali suci dengan Muhammad Shalahuddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Lora Mamak. Perkawinan ini tidak hanya menyatukan dua jiwa, melainkan juga memperkuat jaringan persaudaraan antara dua keluarga pesantren terkemuka di Indonesia.
Akad nikah pasangan tersebut dilangsungkan pada 22 Januari 2025 di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Upacara yang bersifat privat tidak banyak diketahui publik hingga seorang anggota keluarga mengunggah foto-foto pernikahan di media sosial pada awal April 2026. Sejak saat itu, spekulasi meluas, namun keabsahan pernikahan baru terkonfirmasi secara resmi ketika resepsi dilaksanakan pada 5 April 2026 di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Jawa Timur.
Inayah Wahid, yang lahir pada 30 April 1991, adalah putri terakhir dari Gus Dur, tokoh pluralisme dan mantan Presiden Republik Indonesia ke‑4. Sejak kecil, Inayah dikenal sebagai pribadi yang sederhana, mengutamakan nilai-nilai keislaman, dan aktif dalam kegiatan sosial. Meskipun berada dalam sorotan publik, ia selalu menjaga privasi keluarga dan memilih menapaki karier di bidang pendidikan dan budaya.
Di sisi lain, Muhammad Shalahuddin merupakan sosok yang tidak biasa bagi kalangan umum. Ia menjabat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah di Lubangsa, Sumenep, sebuah pesantren dengan sejarah panjang di Madura. Gelar “Lora” menandakan posisinya sebagai putra kiai, khususnya putra KH Warits Ilyas, pendiri dan pengasuh utama pesantren tersebut. Latar belakang akademiknya juga mengesankan; ia menamatkan studi di Universitas Al‑Azhar, Kairo, Mesir, dan melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia dengan konsentrasi pada Bahasa Arab. Keahliannya dalam ilmu keagamaan serta penguasaan bahasa Arab menjadikannya figur yang dihormati di lingkungan pesantren.
Pertemuan pertama Inayah dan Shalahuddin terjadi pada tahun 2021 dalam sebuah acara santai bersama kerabat dekat. Momen itu terekam dalam Instagram Story salah satu sahabat mereka, yang kemudian menjadi bahan candaan sekaligus harapan bagi para single yang melihat foto tersebut. Sejak saat itu, hubungan mereka berkembang secara perlahan namun mantap, hingga memutuskan untuk melangsungkan pernikahan.
Berbagai elemen tradisional dan modern digabungkan dalam rangkaian acara pernikahan. Akad nikah yang sederhana di Jakarta Selatan menonjolkan nilai kesederhanaan, sedangkan resepsi di Sumenep menampilkan budaya Madura, mulai dari musik tradisional hingga hidangan khas daerah. Undangan yang hadir meliputi tokoh-tokoh agama, politisi, serta aktivis budaya, mencerminkan jaringan luas keluarga Gus Dur dan jaringan pesantren Annuqayah.
Berikut ini beberapa poin penting mengenai latar belakang suami Inayah:
- Nama lengkap: Muhammad Shalahuddin
- Julukan: Lora Mamak
- Posisi: Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep
- Pendidikan: Sarjana Al‑Azhar, Kairo; Magister Bahasa Arab, Universitas Indonesia
- Orang tua: KH Warits Ilyas, tokoh pesantren terkemuka di Madura
Pernikahan ini juga memiliki makna simbolis dalam mempererat silaturahmi antar pesantren. Keluarga Gus Dur, yang dikenal memiliki jaringan luas di dunia Islam Indonesia, kini terhubung secara langsung dengan pesantren Annuqayah, sebuah institusi yang berperan penting dalam pembinaan generasi pesantren di Madura.
Para pengamat menilai bahwa pernikahan ini dapat menjadi contoh positif bagi generasi muda, terutama dalam hal mengedepankan nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan persaudaraan lintas wilayah. Selain itu, kehadiran Inayah sebagai figur publik yang memilih pasangan yang berkarier di dunia pesantren menunjukkan bahwa status sosial tidak menjadi penghalang dalam memilih pasangan yang sejalan secara spiritual.
Dengan selesainya proses pernikahan, keluarga Wahid dan keluarga Warits Ilyas kini berbagi kebahagiaan serta harapan akan masa depan yang harmonis. Kedua mempelai diharapkan dapat melanjutkan tradisi keluarga masing-masing: Inayah dengan kontribusinya dalam bidang kebudayaan dan sosial, serta Shalahuddin dengan peranannya dalam pengembangan pesantren dan pendidikan Islam.
Ke depan, pasangan ini berencana untuk menetap di Sumenep, di mana Shalahuddin akan melanjutkan tugasnya sebagai pengasuh pesantren. Inayah diperkirakan akan terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan pesantren, serta mendukung program-program pendidikan yang dijalankan oleh ayah mertuanya.
Secara keseluruhan, pernikahan Inayah Wahid dan Muhammad Shalahuddin tidak hanya menjadi momen pribadi yang mengharukan, melainkan juga simbol persatuan nilai-nilai tradisional dan modern di Indonesia. Kedua keluarga kini berpeluang memperluas jaringan kerja sama dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan kebudayaan, yang diharapkan dapat memberi dampak positif bagi masyarakat luas.