Liput – 06 April 2026 | Menjelang pembukaan kembali Stadion Azteca yang dijadwalkan menjadi salah satu venue utama Piala Dunia FIFA 2026, ribuan warga Meksiko turun ke jalan menggelar aksi protes di sekitar kawasan Coyoacán, Kota Meksiko. Demonstran menuntut transparansi dalam proses renovasi, penetapan harga tiket yang terjangkau, serta penanganan isu keamanan yang selama ini menodai reputasi stadion tersebut sebagai “stadion angker”.
Azteca, yang dibangun pada tahun 1966 dan telah menyaksikan dua final Piala Dunia (1970 dan 1986), kembali menjadi sorotan publik tidak hanya karena sejarahnya yang gemilang, tetapi juga karena serangkaian insiden kekerasan dan penindasan yang menimpa para pendukung sepak bola lokal selama dekade terakhir. Kasus penembakan di tribun, bentrokan antar suporter, serta tuduhan korupsi dalam pengelolaan dana renovasi menjadi bahan bakar utama aksi demonstrasi.
Pemerintah Federal Meksiko melalui Kementerian Olahraga menanggapi dengan menegaskan bahwa semua standar FIFA dan protokol keamanan internasional telah dipenuhi. Menurut juru bicara kementerian, renovasi Azteca melibatkan investasi sebesar 350 juta dolar AS, dengan penambahan fasilitas modern seperti sistem tiket elektronik, ruang VIP ramah disabilitas, dan sistem pengawasan CCTV berbasis AI. “Kami berkomitmen menjadikan Azteca simbol kebanggaan nasional yang aman dan inklusif,” ujar ia dalam konferensi pers pada Senin pagi.
Sementara itu, kelompok aktivis warga, yang dipimpin oleh koalisi “Azteca Bersih”, menolak pernyataan resmi tersebut. Mereka menyoroti kurangnya partisipasi publik dalam proses perencanaan, serta penolakan permohonan data anggaran yang diajukan melalui Undang-Undang Transparansi Informasi Publik. “Kami tidak akan menunggu sampai hari pertandingan pertama untuk menuntut pertanggungjawaban. Jika stadion ini dibuka dengan kebijakan tertutup, maka kami akan terus bersuara,” kata Maria Hernandez, juru bicara koalisi.
Aksi protes berlangsung damai pada awalnya, namun kemudian bereskalasi ketika sekelompok kecil demonstran mencoba menembus gerbang utama stadion. Polisi demonstrasi menurunkan gas air mata dan melakukan penangkapan terhadap sekitar 25 orang. Laporan media lokal mencatat kerusuhan singkat yang menyebabkan penutupan sementara jalan utama ke Azteca selama dua jam.
Keprihatinan warga tidak hanya terpusat pada isu keamanan fisik, melainkan juga pada dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Sejumlah pedagang kaki lima mengklaim bahwa renovasi telah mengusir mereka dari area komersial tradisional, sementara tarif sewa ruang komersial di dalam kompleks stadion naik signifikan. “Kami hidup dari penjualan makanan dan minuman pada hari pertandingan. Jika tiket mahal, kami akan kehilangan pelanggan,” keluh Jorge Alvarez, pemilik kios di Plaza Azteca.
Pengamat sepak bola internasional, Dr. Luis Gutierrez dari Universitas Nacional Autónoma de México, menilai bahwa protes ini mencerminkan ketegangan struktural antara ambisi global Meksiko untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia dan realitas sosial-ekonomi domestik. “Meksiko ingin menampilkan citra negara modern, namun tanpa mengatasi ketidaksetaraan dan masalah keamanan, reputasi Azteca akan tetap terbayang gelap,” ujarnya.
FIFA sendiri belum memberikan komentar resmi terkait protes tersebut, namun menegaskan komitmen untuk bekerja sama dengan otoritas lokal demi memastikan keselamatan semua penonton. Pada konferensi pers pra-Piala Dunia, Presiden FIFA Gianni Infantino menekankan pentingnya “sporting legacy” yang positif bagi negara tuan rumah, sekaligus menekankan bahwa semua venue harus memenuhi standar yang ditetapkan.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional, termasuk Amnesty International, telah mengirim tim observasi untuk memantau situasi di Azteca dan menilai apakah penegakan hak warga sipil selama acara olahraga besar ini memadai. Laporan awal mereka menyoroti kebutuhan akan dialog terbuka antara pemerintah, penyelenggara, dan komunitas lokal.
Dengan jadwal pembukaan resmi stadion dijadwalkan pada 8 Juni 2026, pihak penyelenggara berupaya menenangkan situasi melalui dialog intensif, penawaran program tiket subsidi bagi warga berpenghasilan rendah, serta peningkatan patroli keamanan. Namun, skeptisisme publik tetap tinggi, mengingat riwayat ketidakpuasan sebelumnya terkait proyek infrastruktur mega-event.
Bagaimanapun, protes di Azteca menandai babak baru dalam dinamika hubungan antara sport internasional dan kepentingan lokal. Jika pemerintah berhasil menanggapi tuntutan dengan kebijakan yang transparan dan inklusif, Azteca berpotensi kembali menjadi simbol kebanggaan nasional. Namun, kegagalan dalam mengatasi keluhan masyarakat dapat menodai citra Meksiko di mata dunia dan mengancam warisan sosial yang ingin ditinggalkan oleh Piala Dunia 2026.