Liput – 22 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan mengalami tekanan lanjutan pada sesi perdagangan mendatang. Meskipun pergerakannya masih berfluktuasi, arah umum mengarah pada pelemahan yang dipicu oleh kombinasi sentimen global dan faktor domestik. Analis dari CGS International Sekuritas Indonesia menempatkan IHSG dalam kisaran support 7.590–7.535 dan resistance 7.705–7.760, menandakan ruang gerak yang cukup sempit bagi pelaku pasar.
Berbagai dinamika geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan pasar. Di Amerika Serikat, Wall Street menunjukkan penurunan tipis setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penangkapan kapal kargo milik Iran di Teluk Oman. Konflik antara AS dan Iran menambah ketidakpastian, terutama dengan ancaman penghancuran infrastruktur penting Iran bila negosiasi damai tidak tercapai. Iran sendiri menolak melanjutkan perundingan tahap kedua yang dijadwalkan di Pakistan, memperpanjang ketegangan di wilayah Timur Tengah.
Di sisi lain, pasar komoditas memberi napas segar bagi indeks saham Indonesia. Harga mayoritas komoditas, termasuk emas dan energi, terus menguat dalam beberapa minggu terakhir. Kenaikan ini tidak hanya menambah likuiditas pada sektor terkait, tetapi juga menarik minat investor institusional yang mencari aset pelindung nilai dalam iklim geopolitik yang tidak menentu.
Melihat peluang di tengah ketidakpastian, CGS International Sekuritas Indonesia menyoroti enam saham yang dianggap paling potensial untuk mencetak keuntungan. Keenam saham tersebut berasal dari sektor komoditas dan energi, yang secara historis mendapat manfaat dari kenaikan harga komoditas global.
- TAPG (Tunas Agro Persada Group)
- DSNG (Dharma Satya Nusantara)
- BRMS (Bumi Resources Minerals)
- PSAB (J Resources Asia Pasifik)
- HRTA (Hartadinata Abadi)
- ENRG (Energi Mega Persada)
Strategi yang direkomendasikan bagi investor meliputi tiga poin utama. Pertama, fokus pada saham-saham komoditas yang berpotensi mengimbangi tekanan negatif dari sentimen geopolitik. Kedua, tetap waspada terhadap volatilitas pasar yang dapat meningkat secara tiba-tiba akibat perkembangan politik atau ekonomi internasional. Ketiga, manfaatkan level support dan resistance yang telah ditetapkan sebagai acuan masuk (entry) dan keluar (exit) posisi, sehingga risiko dapat dikelola secara lebih terukur.
Dalam praktiknya, investor dapat mengamati pola pergerakan harga pada level support 7.590–7.535 sebagai zona potensial untuk membeli jika IHSG menurun mendekati titik tersebut. Sebaliknya, level resistance 7.705–7.760 dapat menjadi area strategis untuk mengunci profit atau menyiapkan posisi short bila indeks kembali menembus batas atas.
Penting bagi para pelaku pasar untuk tidak hanya menunggu pergerakan indeks semata, melainkan juga memantau faktor fundamental yang memengaruhi saham-saham rekomendasi. Misalnya, laporan produksi tambang, kebijakan ekspor komoditas, serta data permintaan energi global dapat memberikan sinyal tambahan mengenai arah tren harga saham terkait.
Selain faktor eksternal, kondisi domestik seperti kebijakan moneter Bank Indonesia, nilai tukar rupiah, serta sentimen investor ritel juga berperan signifikan. Kenaikan suku bunga atau depresiasi rupiah dapat memperkuat daya tarik saham komoditas, mengingat sebagian besar pendapatan perusahaan tersebut berasal dari penjualan dalam mata uang asing.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG melemah menjadi realitas yang harus dihadapi, peluang profitabilitas tetap terbuka lebar melalui pemilihan saham yang tepat dan pengelolaan risiko yang disiplin. Investor yang mampu menggabungkan analisis teknikal dengan pemahaman fundamental serta memantau dinamika geopolitik akan berada pada posisi yang lebih kuat untuk meraih cuan di tengah gejolak pasar.
Dengan tetap menjaga kewaspadaan, memperhatikan level-level kunci, dan menyesuaikan strategi sesuai perkembangan terbaru, para trader dapat mengoptimalkan potensi keuntungan meski berada dalam kondisi pasar yang menantang.