Jaringan Terowongan Narkoba antara Maroko dan Ceuta Terungkap: Penangkapan Besar-Besaran Terhadap Pengusaha Belanda-Moroko

Liput – 11 April 2026 | Polisi Spanyol dan Belanda melakukan operasi gabungan yang mengungkap jaringan terowongan narkoba canggih yang menghubungkan Maroko dengan Ceuta, sebuah enklav Spanyol di Afrika Utara. Penangkapan seorang warga Belanda-Moroko bernama Abdelilah A., yang dikenal dengan julukan “el Holandès,” menandai puncak penyelidikan yang telah berlangsung sejak awal tahun 2025.

Abdelilah A., pemilik sebuah toko roti di Rotterdam, diduga menjadi salah satu otak utama organisasi kriminal yang sangat berpengaruh. Ia bekerja sama dengan pengusaha Maroko bernama Mustapha Chairi B., yang lebih dikenal dengan sebutan “Amandis”. Kedua tokoh ini memiliki jaringan luas yang mencakup keluarga-keluarga kriminal Belanda-Moroko, serta hubungan kuat dengan jaringan penyelundupan narkoba internasional.

Jaringan terowongan tersebut merupakan bagian dari sistem logistik yang melibatkan kapal penangkap ikan, perahu cepat, dan truk-truk yang mengangkut narkotika ke Eropa. Terowongan pertama ditemukan pada Februari 2026 dan berhasil dibongkar oleh aparat. Namun, pada Maret 2026, sebuah terowongan kedua terdeteksi di kawasan industri Ceuta, yang kemudian menjadi target operasi utama.

Menurut keterangan kepala satuan narkotika Kepolisian Nasional Spanyol, Antonio Martinez Duarte, terowongan itu memungkinkan pengiriman sekitar 2.000 kilogram narkotika setiap minggu. Pada satu kesempatan, Abdelilah A. terlibat dalam pengiriman 15.000 kilogram hashish yang disembunyikan di antara muatan kentang dan semangka dari Tanger ke Almería, Spanyol. Ia sempat ingin menghentikan pengiriman tersebut karena khawatir akan intervensi kepolisian, namun “Amandis” yang telah menyuap beberapa pejabat polisi memerintahkan agar pengiriman tetap dilanjutkan.

Operasi penangkapan dilakukan pada 10 April 2026, ketika sebuah truk berisi narkotika berhasil disita oleh pihak berwenang. Tiga orang ditangkap dalam penyelidikan pertama, termasuk Abdelilah A. Selanjutnya, operasi lanjutan melibatkan 250 petugas polisi Spanyol dan Maroko, yang melakukan 29 penggerebekan di Ceuta dan wilayah sekitarnya. Total ada 27 penangkapan, penyitaan uang tunai senilai €1,4 juta, 17.000 kilogram narkotika, serta sejumlah mobil mewah.

Jaringan ini tidak hanya mengandalkan terowongan darat, melainkan juga memanfaatkan rute laut dan darat secara simultan. Kapal penangkap ikan berfungsi sebagai kedok, sementara perahu cepat membawa muatan kecil ke pantai-pantai terpencil. Truk-truk kemudian mengangkut narkotika ke pusat distribusi di Almería, sebelum disalurkan ke seluruh Eropa, termasuk Belanda, Jerman, dan Prancis.

Pengungkapan ini menimbulkan keprihatinan serius di kalangan otoritas keamanan Uni Eropa. Penyelundupan narkotika melalui Ceuta dianggap sebagai celah strategis karena posisinya yang berada di antara Afrika Utara dan daratan Eropa. Pemerintah Spanyol berjanji akan meningkatkan pengawasan perbatasan dan memperkuat kerja sama intelijen dengan negara-negara tetangga, termasuk Maroko.

Kasus ini juga menyoroti peran komunitas imigran dalam jaringan kriminal transnasional. Sebagian besar pelaku memiliki latar belakang migran Maroko di Belanda, yang memanfaatkan jaringan sosial dan ekonomi mereka untuk menyamarkan aktivitas ilegal. Pemerintah Belanda menyatakan akan meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap kelompok kriminal yang beroperasi lintas negara, serta memperkuat program deradikalisasi dan reintegrasi sosial.

Para ahli keamanan menilai bahwa keberhasilan operasi ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari kerja sama intelijen yang intensif antara kepolisian Spanyol, Belanda, dan Maroko. “Kami telah memantau komunikasi telepon para tersangka selama berbulan‑bulan, yang akhirnya mengarahkan kami pada titik lemah jaringan,” ujar Martinez Duarte.

Meski operasi ini berhasil membongkar salah satu jalur penyelundupan terbesar, otoritas mengingatkan bahwa jaringan narkotika bersifat dinamis dan selalu mencari celah baru. Penegakan hukum berkelanjutan, serta upaya pencegahan di tingkat komunitas, dianggap krusial untuk menurunkan aliran narkotika ke Eropa.

Dengan penangkapan Abdelilah A. dan rekan-rekannya, diharapkan jaringan kriminal ini akan terpecah dan mengurangi pasokan narkotika yang mengancam kesehatan masyarakat. Namun, tantangan tetap besar mengingat besarnya permintaan narkotika di pasar Eropa dan kemampuan organisasi kriminal untuk beradaptasi.

Kasus terowongan narkoba Ceuta ini menjadi contoh nyata betapa kompleksnya peredaran narkotika lintas batas, serta pentingnya kolaborasi internasional dalam memerangi kejahatan transnasional.