Liput – 04 April 2026 | Produsen mobil asal Tiongkok, Chery, kembali menggebrak industri kendaraan listrik (EV) dengan mengumumkan pengembangan baterai berkapasitas tinggi yang mampu menempuh jarak hingga 1.500 kilometer dalam satu kali pengisian. Angka tersebut setara dengan perjalanan darat dari Jakarta ke Lombok, menandai terobosan signifikan dalam upaya memperpanjang jangkauan EV di pasar global.
Pengumuman resmi tersebut disampaikan pada sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh pejabat perusahaan, insinyur riset, serta perwakilan media. Chery menegaskan bahwa teknologi baterai baru ini menggunakan sel-sel lithium‑ion berstruktur nanoteknologi yang meningkatkan kepadatan energi sekaligus menurunkan berat keseluruhan. Selain itu, sistem pendinginan cair terintegrasi dijanjikan dapat menjaga kestabilan suhu selama pengisian cepat, sehingga mengurangi degradasi sel dan memperpanjang umur pakai baterai.
Menurut data internal Chery, kendaraan listrik berbasis baterai 1.500 km ini akan mampu menempuh jarak rata‑rata 20% lebih jauh dibandingkan model kompetitor terdepan saat ini. Dengan asumsi konsumsi energi standar sekitar 15 kWh per 100 km, baterai tersebut diperkirakan memiliki kapasitas lebih dari 225 kWh. Hal ini membuka peluang bagi produsen mobil untuk merancang EV berukuran lebih besar, seperti SUV atau van penumpang, tanpa mengorbankan kenyamanan berkendara.
Strategi Chery tidak hanya berfokus pada peningkatan teknis, melainkan juga pada ekosistem pendukung. Perusahaan mengumumkan rencana pembangunan jaringan stasiun pengisian cepat berkapasitas 350 kW di sejumlah kota utama, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Dengan kecepatan pengisian yang dapat mengisi hingga 80% dalam waktu kurang dari 30 menit, konsumen diharapkan tidak lagi merasa khawatir tentang waktu berhenti mengisi daya di tengah perjalanan panjang.
Pemerintah Indonesia telah menyatakan dukungan penuh terhadap inovasi semacam ini melalui kebijakan insentif fiskal dan penyediaan lahan untuk infrastruktur pengisian. Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Airlangga Hartanto, dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa teknologi baterai dengan jangkauan 1.500 km akan menjadi katalisator percepatan adopsi kendaraan listrik di tanah air, sekaligus membantu pencapaian target emisi nol bersih pada tahun 2060.
Para pakar industri menilai bahwa langkah Chery dapat memicu kompetisi baru di antara produsen EV global. Dr. Rudi Hartono, pakar mobil listrik di Universitas Indonesia, menilai bahwa peningkatan jangkauan hingga 1.500 km akan mengurangi ketergantungan pada jaringan pengisian publik, sehingga memperluas pasar EV di daerah pedesaan dan wilayah dengan infrastruktur terbatas. Ia menambahkan bahwa keberhasilan teknologi ini sangat bergantung pada standar keamanan baterai yang ketat, mengingat kapasitas energi yang sangat tinggi dapat menimbulkan risiko termal jika tidak dikelola dengan baik.
Selain aspek teknis, Chery juga menyoroti potensi pengurangan biaya produksi baterai melalui skala ekonomi dan penggunaan material alternatif seperti silikon‑grafit pada anoda. Dengan mengoptimalkan rantai pasokan bahan baku, perusahaan memperkirakan harga akhir kendaraan listrik dapat dipatok pada kisaran menengah, menjadikannya lebih terjangkau bagi konsumen Indonesia.
Pasar otomotif domestik diprediksi akan menyambut baik inovasi ini. Data dari Asosiasi Industri Kendaraan Bermotor (AIKB) menunjukkan bahwa penjualan EV di Indonesia meningkat rata‑rata 45% per tahun sejak 2020. Jika Chery berhasil meluncurkan model dengan jangkauan 1.500 km pada tahun 2025, diperkirakan pangsa pasar EV domestik dapat tumbuh hingga 20% pada akhir 2026, menambah persaingan dengan merek-merek lokal dan internasional.
Secara keseluruhan, pengembangan baterai berjarak tempuh 1.500 km oleh Chery tidak hanya menandai pencapaian teknologi tinggi, melainkan juga membuka peluang baru bagi ekosistem mobil listrik di Indonesia. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur pengisian, dan respons positif konsumen, era baru transportasi ramah lingkungan tampaknya semakin mendekat.