Fajar Alfian & Muhammad Shohibul Fikri Siap Guncang Kejuaraan Asia 2026 di Ningbo

Liput – 06 April 2026 | Kejuaraan Badminton Asia 2026 (BAC) akan digelar pada 7–12 April di Ningbo, China, dengan status setara turnamen BWF Super 1000. Indonesia menurunkan 17 wakil, di antaranya empat pasangan ganda putra yang menjadi sorotan utama. Dari keempat pasangan tersebut, satu nama paling menonjol: Fajar Alfian bersama Muhammad Shohibul Fikri. Pasangan muda ini menempati posisi unggulan kelima dalam seeding resmi, menandakan harapan besar untuk kembali mengukir sejarah emas ganda putra Indonesia di BAC.

Sejarah ganda putra Indonesia di BAC memang penuh kebanggaan. Sejak era Indra Gunawan/Nara Sudjana pada 1971, Indonesia telah mencatat sepuluh gelar juara. Namun, dalam tiga edisi terakhir (2022‑2025) gelar juara masih belum kembali, meski perak dan perunggu berhasil diraih. Pada edisi 2022, pasangan Pramudya Kusumawardana/Yeremia Rambitan berhasil menjuarai turnamen, namun Fajar Alfian bersama Muhammad Rian Ardianto harus puas dengan medali perunggu. Tahun 2025, Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana kembali mengamankan perunggu setelah terhenti di semifinal. Kondisi ini menambah beban harapan pada Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang baru bergabung sejak akhir 2025.

Fajar Alfian, yang telah berkiprah lebih dari satu dekade di level internasional, mengaku masih belum pernah mengangkat gelar juara BAC. “Target kami memang ingin pulang dengan medali emas, tapi kami memulai dari satu langkah demi satu langkah,” ujar Fajar dalam konferensi pers di Pelatnas PBSI Cipayung. Sementara Muhammad Shohibul Fikri, yang sebelumnya berpartner dengan Rian Ardianto, menyatakan kesiapan mental dan fisik sebagai kunci utama. Kedua pemain mengaku telah melakukan evaluasi intensif setelah tur Eropa 2026, termasuk sesi konsultasi dengan psikolog untuk mengatasi jet lag dan tekanan kompetisi.

Jadwal pembukaan mereka akan mempertemukan pasangan Thailand, Pharanyu Kaosamaang/Tanadon Punpanich, dalam babak pertama. Pertemuan ini belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga tidak ada catatan head‑to‑head yang dapat menjadi acuan. Namun, analisis taktik tim pelatih menilai bahwa Fajar/Fikri memiliki keunggulan dalam kecepatan serangan net dan kemampuan mempertahankan rally di tengah lapangan, dua aspek yang penting melawan pasangan Thailand yang dikenal kuat di forehand smash.

Sebagai konteks, Indonesia menurunkan empat wakil unggulan di BAC 2026: Jonatan Christie (tunggal putra) di peringkat tiga, Putri Kusuma Wardani (tunggal putri) di peringkat enam, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri (ganda putra) di peringkat lima, serta Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (ganda campuran) di peringkat tujuh. Sektor ganda putri tidak memiliki wakil unggulan, namun seluruh tim menargetkan penampilan maksimal untuk menambah koleksi medali.

Persiapan Fajar/Fikri tidak lepas dari kolaborasi dengan rekan ganda putra lainnya. Pasangan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, yang menempati posisi unggulan keenam, juga berlatih bersamaan di pelatnas. Mereka berbagi pengalaman taktik melawan pasangan Korea Selatan Kang Min Hyuk/Ki Dong Ju, yang menjadi lawan potensial di babak lanjutan. Sementara pasangan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana, yang baru saja meraih perunggu di BAC 2025, menjadi contoh konkret tentang bagaimana mengelola tekanan semifinal.

Faktor eksternal seperti jadwal pertandingan, aklimatisasi di Ningbo, dan kondisi lapangan indoor juga menjadi bagian penting dalam strategi. Tim PBSI telah menyiapkan program adaptasi suhu dan kelembapan, serta simulasi pencahayaan arena untuk meminimalkan kejutan pada hari kompetisi. Selain itu, dukungan logistik seperti transportasi dan nutrisi khusus bagi atlet senior dan junior diharapkan dapat menjaga performa optimal selama lima hari kompetisi.

Secara keseluruhan, ekspektasi terhadap Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri tidak hanya sekadar menambah koleksi medali, melainkan juga mengembalikan tradisi ganda putra Indonesia yang pernah menjadi mesin emas di BAC. Jika mereka berhasil menembus semifinal atau bahkan final, peluang untuk mengakhiri paceklik gelar sejak 2022 akan sangat besar. Namun, tantangan berat menanti, mengingat draw menempatkan mereka di jalur yang berpotensi bertemu pasangan unggulan Jepang, Malaysia, atau India dalam putaran selanjutnya.

Dengan mental yang terasah, persiapan fisik yang terukur, dan dukungan penuh dari pelatih serta rekan setim, Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri berada di posisi yang tepat untuk menyalip harapan publik. Semua mata kini tertuju pada pasangan ini, menantikan apakah mereka dapat mengukir sejarah baru bagi badminton Indonesia di panggung Asia.