Menhan AS Pete Hegseth Pecat Kepala Staf Angkatan Darat dan Dua Jenderal di Tengah Konflik Iran

Liput – 04 April 2026 | JAKARTA, CNN Indonesia – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, mengeluarkan keputusan drastis pada Kamis (2/4) dengan memecat Kepala Staf Angkatan Darat (AD) Jenderal Randy A. George serta dua jenderal senior lainnya. Keputusan ini diumumkan bersamaan dengan pernyataan resmi Pentagon yang menegaskan bahwa Jenderal George akan pensiun secara segera, menandai perombakan kepemimpinan militer tertinggi di tengah operasi militer yang semakin intensif melawan Iran.

Randy George, yang menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 sejak 2023, menerima pemberitahuan pemecatan melalui panggilan telepon langsung dari Menhan Hegseth saat sedang mengikuti rapat internal. Setelah percakapan tersebut, George menyampaikan keputusan kepada stafnya, yang dilaporkan tetap tenang dan profesional dalam menghadapi situasi. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, mengonfirmasi pengunduran diri George dalam unggahan resmi di platform X, menambahkan bahwa Departemen Perang berterima kasih atas puluhan tahun pengabdian George bagi negara.

Selain George, dua jenderal lain yang juga dicopot pada hari yang sama adalah Mayjen William Green Jr., Kepala Pendeta Militer Angkatan Darat, dan Jenderal David Hodne, Komandan Komando Transformasi dan Pelatihan AD. Kedua pejabat tersebut sebelumnya memegang peran penting dalam menjaga moral pasukan dan mengawasi program pelatihan serta modernisasi peralatan. Keputusan pemecatan mereka diumumkan melalui laporan seorang pejabat Pentagon kepada media, menyiratkan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya Hegseth untuk merombak struktur kepemimpinan militer guna menyesuaikan strategi dengan arahan Presiden Donald Trump.

Langkah ini muncul satu hari setelah Presiden Trump menyampaikan sinyal akan meningkatkan serangan terhadap Iran, memperkuat spekulasi bahwa perubahan kepemimpinan militer dimaksudkan untuk mempercepat eksekusi kebijakan pertahanan yang lebih agresif. Sekretaris Pertahanan Hegseth diketahui menekankan perlunya “kepemimpinan baru yang selaras dengan visi Presiden” dalam sebuah wawancara singkat di konferensi pers KTT “Shield of the Americas” di Miami, Florida.

Para analis militer menilai bahwa pemecatan seorang jenderal aktif di tengah konflik bersenjata merupakan tindakan yang jarang terjadi dalam sejarah militer modern AS. Seorang pejabat senior yang tidak diberi nama menyatakan bahwa pemberhentian tersebut “menyisakan sedikit ruang untuk penolakan” karena dilakukan saat Angkatan Darat sedang mengerahkan pasukan ke kawasan Timur Tengah dan berperan dalam sistem pertahanan udara terintegrasi melawan ancaman Iran.

Wakil Kepala Staf AD, Jenderal Christopher LaNeve, diperkirakan akan menjabat sebagai pelaksana tugas Kepala Staf Angkatan Darat sementara. LaNeve sebelumnya memegang posisi sebagai Deputy Commanding General di Army Futures Command dan dianggap memiliki pengalaman luas dalam transformasi teknologi militer.

Perombakan kepemimpinan ini juga mencerminkan dinamika internal Pentagon yang telah mengalami serangkaian pergantian posisi penting dalam beberapa bulan terakhir, termasuk perubahan pada Ketua Kepala Staf Gabungan, Kepala Operasi Angkatan Laut, serta Wakil Kepala Staf Angkatan Udara. Menurut laporan internal, perubahan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan koordinasi lintas cabang dalam menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks, khususnya di Timur Tengah.

Secara statistik, Angkatan Darat AS merupakan cabang terbesar militer dengan sekitar 450.000 prajurit aktif. Selama konflik dengan Iran, pasukan darat telah dikerahkan untuk mengoperasikan sistem pertahanan udara dan rudal, meskipun operasi utama masih dikelola oleh Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Keputusan pemecatan tiga pejabat senior ini menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas komando di tengah operasi kritis.

Para pengamat politik menilai bahwa tindakan Hegseth dapat menjadi sinyal kuat kepada Kongres dan publik bahwa administrasi Trump bertekad mengubah arah kebijakan pertahanan secara radikal. Sementara itu, beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat menuntut klarifikasi lebih lanjut mengenai alasan di balik pemecatan tersebut, mengingat tidak ada penjelasan resmi yang diberikan kepada publik.

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi yang menyebutkan adanya konflik pribadi antara Hegseth dan para jenderal yang diberhentikan. Namun, sejumlah sumber dalam Pentagon mengindikasikan bahwa keputusan ini dipicu oleh keinginan untuk mempercepat implementasi program modernisasi senjata, termasuk pengembangan sistem pertahanan hipersonik dan integrasi kecerdasan buatan dalam operasi medan perang.

Dalam beberapa minggu ke depan, Pentagon diperkirakan akan mengumumkan pengganti tetap bagi ketiga posisi yang kosong, sekaligus mengeluarkan pedoman operasional baru yang menyesuaikan strategi militer dengan tujuan politik Presiden Trump. Situasi ini akan terus dipantau oleh media internasional dan lembaga think‑tank pertahanan, mengingat dampaknya yang signifikan terhadap stabilitas regional dan hubungan AS‑Iran.