Dari Gerbong Kereta Api ke Persebaya Academy: 4 Jam Perjuangan Erlangga Mengejar Mimpi Jadi Profesional

Liput – 18 April 2026 | Erlangga Pratama, pemuda berusia 17 tahun asal Surabaya, kini menjadi sorotan publik setelah menghabiskan empat jam perjalanan harian demi menembus pintu masuk Persebaya Academy. Kisahnya bermula dari sebuah gerbong kereta api tua yang menjadi saksi bisu perjuangannya melawan keterbatasan, hingga kini ia menapaki lintasan akademi sepak bola paling bergengsi di Jawa Timur.

Berawal dari lingkungan kumuh di pinggiran kota Surabaya, Erlangga tumbuh bersama ayahnya yang bekerja sebagai petugas kebersihan di stasiun kereta api. Setiap pagi, ia menunggu kedatangan kereta komuter yang akan membawanya melintasi lima stasiun, menempuh total jarak lebih dari 80 kilometer hingga tiba di kompleks latihan Persebaya yang berlokasi di daerah Jati.

“Saya tidak pernah mengira perjalanan sejauh itu akan menjadi bagian penting dalam proses belajar sepak bola saya,” ujar Erlangga sambil mengingat kembali rasa lelah pertama kali menginjakkan kaki di lapangan latihan. “Tapi setiap kali melihat seragam Persebaya di lemari ganti, semua keletihan terasa terbayar.”

Perjalanan empat jam tersebut bukan sekadar menempuh jarak, melainkan juga menguji ketangguhan mental. Erlangga harus bangun sebelum fajar, menyiapkan bekal sederhana, dan menunggu kereta yang kadang terlambat karena gangguan teknis. Selama menunggu, ia biasanya memanfaatkan waktu dengan latihan teknik dasar—menendang bola dengan sepatu yang dibawa dalam tas ransel—sehingga setiap menitnya tetap produktif.

Setibanya di akademi, Erlangga langsung terjun ke dalam program pelatihan intensif yang meliputi sesi kebugaran, taktik, dan pengembangan mental. Pelatih kepala Persebaya Academy, Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa disiplin Erlangga menjadi contoh bagi rekan-rekannya. “Dia datang tepat waktu setiap hari, meskipun harus menempuh perjalanan yang melelahkan. Itu menunjukkan komitmen kuat pada visi pribadinya—menjadi pemain profesional.”

Tak hanya berlatih di lapangan, Erlangga juga mengikuti kelas teori tentang taktik permainan, nutrisi, serta manajemen karier. Ia belajar tentang pentingnya pola makan seimbang, istirahat yang cukup, dan strategi mengelola tekanan publik. “Kami tidak hanya mencetak pemain, tapi juga membentuk pribadi yang siap menghadapi dinamika dunia sepak bola modern,” jelas Iwan.

Keberhasilan Erlangga dalam menembus tim junior U-18 Persebaya tak lepas dari dukungan keluarga. Ibunya, Siti Nurjanah, mengaku rela menahan rasa khawatir setiap kali anaknya berangkat ke stasiun. “Kami selalu mendoakan agar dia selamat sampai tujuan, dan semoga impian mereka terwujud,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di balik perjuangan fisik, terdapat pula tantangan psikologis. Erlangga mengakui pernah meragukan kemampuan dirinya ketika harus bersaing dengan rekan-rekan yang tinggal lebih dekat dengan akademi. “Saya kadang merasa tertinggal, namun setiap kali saya mengingat kenangan di gerbong kereta, itu menjadi bahan bakar semangat saya,” katanya.

Sejumlah pengamat sepak bola menilai bahwa kisah Erlangga mencerminkan fenomena meningkatnya pemain berbakat dari latar belakang sederhana yang berusaha menembus kompetisi profesional. “Kisah seperti ini memberi inspirasi bagi generasi muda di luar kota besar, menunjukkan bahwa kerja keras dan tekad dapat membuka jalan meski dengan sumber daya terbatas,” komentar Dedi Setiawan, analis sepak bola lokal.

Dengan performa yang terus meningkat, Erlangga kini berada di ambang dipanggil untuk mengikuti seleksi tim senior Persebaya. Jika berhasil, ia akan menjadi salah satu pemain termuda yang menembus level profesional dalam sejarah klub tersebut. “Saya ingin menjadi kebanggaan bagi keluarga, teman, dan seluruh anak-anak yang bermimpi besar dari daerah terpencil,” tuturnya dengan senyum optimis.

Perjalanan empat jam harian Erlangga bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol dedikasi yang tak tergoyahkan. Cerita ini menegaskan bahwa keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman, meski harus melewati gerbong kereta yang sempit, dapat menuntun pada pintu gerbang impian. Dengan dukungan pelatih, keluarga, dan semangat pantang menyerah, Erlangga berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan mimpi menjadi pemain sepak bola profesional.