Liput – 09 April 2026 | Raya Kohandi kembali mengukir momen liburan yang tak terlupakan di Negeri Sakura. Dalam rangkaian perjalanan selama dua minggu, ia menjelajahi kota-kota ikonik Jepang, menyusuri taman-taman bermahkota bunga, hingga mengagumi panorama megah Gunung Fuji. Delapan potret berikut menggambarkan keindahan musim semi Jepang serta pengalaman pribadi yang menginspirasi para traveler.
Musim semi di Jepang memang menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Bunga sakura yang mekar singkat—biasanya hanya satu hingga dua minggu—menjadi daya tarik utama, namun tak hanya sakura yang menonjol. Seperti yang diungkapkan dalam laporan terkini, Jepang kini tengah menghadapi tantangan overtourism, terutama di kawasan Tokyo, Kyoto, Osaka, dan sekitar Gunung Fuji. Meskipun begitu, banyak destinasi alternatif yang menawarkan keindahan serupa dengan kerumunan lebih sedikit, dan Raya berhasil menemukan beberapa di antaranya.
Berikut rangkaian 8 potret yang menandai perjalanan Raya:
- Ueno Park, Tokyo – Sebagai salah satu taman tertua di Jepang, Ueno Park menampilkan lebih dari seribu pohon sakura yang membentuk lorong merah muda memukau. Raya menikmati hanami bersama keluarga sambil mencicipi takoyaki dari pedagang kaki lima di sekitar pintu gerbang.
- Sumida Park, Tokyo – Terletak di tepi Sungai Sumida, pemandangan sakura dengan latar belakang Tokyo Skytree memberikan kontras modern‑tradisional yang menakjubkan. Raya mengabadikan momen matahari terbenam di atas sungai, menyorot refleksi cahaya pada kelopak bunga.
- Ashikaga Flower Park, Tochigi – Meskipun tidak berada di pusat kota, taman ini menjadi sorotan karena terowongan wisteria sepanjang 80 meter yang berwarna ungu, putih, dan merah muda. Raya berfoto di antara rangkaian wisteria yang melengkung, menambahkan variasi warna selain sakura.
- Chidorigafuchi Moat, Tokyo – Kanal yang dikelilingi ratusan pohon sakura somei yoshino menawarkan suasana tenang. Raya menyewa perahu kayu kecil, mendayung perlahan sambil menikmati kelopak yang melayang seperti permadani di permukaan air.
- Kuil Senso‑ji, Asakusa – Mengunjungi kuil tertua di Tokyo memberi nuansa spiritual di tengah keindahan bunga. Raya berjalan melewati Gerbang Kaminarimon, menyusuri Nakamise‑dori yang dipenuhi jajanan khas musim semi, seperti sakura mochi.
- Hitachi Seaside Park, Ibaraki – Padang rumput luas dipenuhi bunga nemophila biru muda yang menyerupakan lautan. Raya bersepeda mengelilingi taman, menikmati perpaduan antara biru laut dan merah muda sakura yang melengkapi lanskap.
- Gunung Fuji, Prefektur Yamanashi – Dari titik pandang di Kawaguchiko, Raya melihat siluet gunung tertutup salju dengan latar belakang langit berwarna pastel. Momen ini menegaskan keindahan alam Jepang yang tak lekang oleh waktu.
- Pasar Lokal di Shizuoka – Sebagai penutup perjalanan, Raya mengunjungi pasar tradisional untuk mencicipi stroberi segar dan teh hijau. Suasana pasar yang ramai namun tidak sesak memberi gambaran bagaimana wisatawan dapat menikmati budaya lokal tanpa harus berada di keramaian utama.
Selama perjalanan, Raya juga mencatat beberapa tips praktis untuk menghindari kepadatan wisatawan, terutama di musim puncak. Memilih taman yang lebih luas seperti Showa Memorial Park atau Asukayama Park, serta mengunjungi destinasi di luar jalur utama, dapat memperkaya pengalaman tanpa harus berdesak‑desakan. Selain itu, memperhatikan jadwal mekarnya bunga—mulai dari plum di akhir Februari, sakura di awal Maret, shibazakura di pertengahan April, hingga wisteria di akhir April—memungkinkan penyesuaian rencana perjalanan yang lebih fleksibel.
Raya Kohandi menutup liburannya dengan rasa puas bahwa meski Jepang sedang berupaya mengatasi overtourism, masih banyak sudut yang menawarkan keindahan otentik dan suasana damai. Pengalaman ini tidak hanya menambah koleksi foto, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian alam dan budaya setempat.