Eksplorasi Sinema ‘Para Perasuk’: Pesta Kerasukan sebagai Katarsis dan Pelarian di Desa Latas

Liput – 18 April 2026 | Film terbaru sutradara Wregas Bhanuteja, Para Perasuk, mengangkat tradisi mistik desa Latas yang menggabungkan kerasukan dengan elemen hiburan massal. Dalam rangka menelusuri makna katarsis dan ruang pelarian yang ditawarkan pesta kerasukan, film ini menampilkan narasi yang mendalam sekaligus visual yang memukau.

Desa Latas, sebuah komunitas fiktif di pinggiran kota, telah lama menyelenggarakan “pesta sambetan”—sebuah ritual dimana puluhan roh binatang menguasai tubuh para pemain. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan sarana bagi warga untuk menyalurkan emosi terpendam, mengubah rasa takut atau kesedihan menjadi energi kolektif yang menular ke penonton.

Tokoh utama, Bayu (diperankan oleh Angga Yunanda), adalah seorang pemuda yang bercita‑cita menjadi Perasuk Utama. Ia bertekad menggelar pesta terbesar untuk mengumpulkan dana demi melindungi mata air keramat—sumber kekuatan para Perasuk—yang kini terancam oleh rencana penggusuran. Namun, ambisinya membawa konflik internal: Bayu harus mengatasi godaan menjadi terobsesi pada tujuan, sehingga ia mulai menjauh dari keluarga, sahabat, dan nilai‑nilai tradisional yang selama ini menopang identitasnya.

Wregas menempatkan Bayu sebagai cerminan dirinya sendiri, menyoroti bahaya ketika keinginan menguasai seluruh perhatian. Proses kreatif Bayu dalam mengatur pesta kerasukan menjadi metafora bagi proses seni: ketika seorang seniman terlalu fokus pada hasil akhir, proses yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan berubah menjadi beban. Pada titik tertentu, Bayu mengalami “kerasukan” emosional—suatu keadaan di mana identitas pribadi tergantikan oleh dorongan ambisi—yang mencerminkan perjuangan banyak seniman modern.

Secara visual, Para Perasuk menciptakan dunia fiksi yang lepas dari batas realitas. Mantra‑mantra yang digunakan tidak diambil dari tradisi tertentu, melainkan dirancang khusus dengan menggabungkan suara‑suara hewan—kera, macan, dan lain‑lain—sehingga terasa lebih primitif dan liar. Koreografer film mengembangkan gerak tari yang menyerupai gestur binatang, menolak konvensi tarian tradisional demi menegaskan kebebasan kreatif. Musiknya pun menggabungkan gitar listrik, selompret, dan tam‑tam, menghasilkan atmosfer yang tidak dapat ditemui dalam ritual tradisional manapun.

Roh‑roh yang hadir dalam pesta kerasukan memiliki fungsi khusus. Sekitar dua puluh roh, masing‑masing membawa efek unik: misalnya Roh Bulus memberi kebal, Roh Semut menambah rasa kenyang, atau Roh Kebo menyegarkan. Keberadaan roh‑rohnya tidak menakutkan, melainkan berperan sebagai “persona” yang memperkaya pengalaman penonton, menambah lapisan makna pada tiap adegan. Penonton tidak sekadar menonton, melainkan ikut merasakan transisi emosional yang diatur oleh interaksi antara pemain dan roh.

Daftar pemeran utama menambah kekayaan dunia Latas. Anggun Cipta berperan sebagai Guru Asri, pembimbing spiritual yang menyeimbangkan energi kerasukan. Maudy Ayunda mengisi peran Laksmi, sosok yang mewakili harapan perempuan di tengah tradisi patriarki. Indra Birowo, Bryan Domani, dan Chicco Kurniawan melengkapi rangkaian karakter yang menyoroti dinamika keluarga, persahabatan, dan konflik antar generasi. Penampilan Angga Yunanda sebagai Bayu menonjolkan intensitas, dengan rambut bergelombang dan tatapan liar yang menggambarkan perjuangan internal sang protagonis.

Selain menampilkan atraksi budaya, film ini menyentuh isu kontemporer: ancaman penggusuran yang menimpa desa-desa tradisional. Sumber mata air keramat menjadi simbol bagi keberlangsungan budaya, sekaligus mengkritik proses modernisasi yang sering mengorbankan warisan lokal. Konflik antara melestarikan tradisi dan menghadapi perubahan menjadi benang merah yang mengikat narasi, mengundang penonton merenungkan situasi serupa di kehidupan nyata.

Dengan durasi yang direncanakan rilis pada 23 April 2026, Para Perasuk diharapkan menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi mengenai pentingnya ruang pelarian dalam budaya. Film ini menawarkan pengalaman sinematik yang memadukan elemen ritual, musik, dan drama personal, menjadikannya contoh unggul dalam sinema Indonesia yang menelusuri akar budaya sekaligus menantang batas estetika.

Secara keseluruhan, Para Perasuk berhasil menggabungkan tradisi kerasukan dengan perspektif modern tentang ambisi, identitas, dan pelestarian budaya. Penonton dapat menyaksikan bagaimana pesta kerasukan berfungsi sebagai katarsis kolektif, sekaligus sebagai cermin bagi individu yang berjuang menemukan keseimbangan antara impian pribadi dan tanggung jawab sosial. Film ini mengajak penonton untuk merenungkan peran ritual dalam kehidupan modern, serta menilai kembali nilai‑nilai yang sering terpinggirkan dalam arus perubahan.