Liput – 06 April 2026 | Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi pada akhir pekan 5‑6 April 2026. Pada Minggu, 5 April, pukul 02.02 WIB, petugas Pos Pengamatan melaporkan letusan pertama dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak (ketinggian 4.676 mdpl). Letusan ini diikuti awan panas yang meluncur sejauh 3,5 kilometer dari kawah, menimbulkan bahaya langsung bagi kawasan rendah di lereng selatan.
Selama tiga jam pertama, Semeru mengeluarkan beberapa letusan tambahan. Pada pukul 06.55 WIB, kolom abu kembali terlihat, kali ini setinggi 800 meter, berwarna putih‑kelabu dan mengarah ke barat‑daya. Tak lama berselang, pukul 07.02 WIB, letusan berjarak 600 meter di atas puncak, dan pada pukul 07.53 WIB kembali muncul kolom abu setinggi 800 meter. Setiap letusan terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi antara 134‑209 detik, menandakan tekanan magma yang signifikan.
Pagi berikutnya, Senin, 6 April, aktivitas meningkat menjadi tujuh kali letusan terdeteksi. Erupsi pertama pada pukul 00.38 WIB menghasilkan kolom abu setinggi 1.000 meter dengan arah barat‑daya. Puncak aktivitas terjadi pada pukul 06.51 WIB, ketika kolom abu mencapai 1.100 meter (1,1 km) di atas puncak, berwarna putih‑kelabu dan intensitas sedang ke arah selatan. Letusan berlanjut hingga pukul 09.29 WIB, meski pada saat itu visual letusan tidak teramati karena tutupan kabut.
Seluruh rangkaian erupsi menegaskan status Gunung Semeru tetap berada pada Level III (Siaga) menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di zona berisiko, terutama di sepanjang lembah‑lembah aliran sungai yang berawal dari puncak, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi awan panas, guguran lava, serta aliran lahar diperkirakan dapat menjangkau hingga 17 km dari puncak.
Berikut ini rangkuman rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan PVMBG:
- Jarak aman minimum 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan.
- Radius aman 5 kilometer dari kawah atau puncak gunung untuk menghindari lontaran material pijar.
- Larangan total beraktivitas di zona selatan‑tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak.
- Waspadai potensi aliran lahar di anak‑anak sungai Besuk Kobokan, terutama pada musim hujan.
- Ikuti informasi terbaru melalui jalur resmi PVMBG dan aparat setempat.
Hingga akhir laporan, belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa akibat erupsi tersebut. Tim SAR dan petugas pemadam kebakaran tetap berada di posisi siaga untuk menanggapi potensi bencana sekunder, termasuk lahar dan tanah longsor yang mungkin terjadi bila curah hujan meningkat.
Selain Semeru, gunung berapi lain di Indonesia, yaitu Gunung Merapi, juga berada pada status Level III pada hari yang sama. Kondisi ini menambah kewaspadaan nasional terhadap potensi aktivitas vulkanik yang simultan di beberapa wilayah.
Dengan aktivitas berulang dan intensitas yang tinggi, Gunung Semeru tetap menjadi salah satu ancaman alam utama di Jawa Timur. Masyarakat di sekitar daerah rawan diimbau untuk tetap mengikuti arahan resmi, menyiapkan rencana evakuasi, serta memantau informasi cuaca dan peringatan vulkanik secara berkala.
Kesimpulannya, erupsi ganda yang terjadi pada 5‑6 April 2026 mempertegas pentingnya kesiapsiagaan dan koordinasi lintas lembaga. Pengawasan terus menerus, edukasi publik, serta penegakan zona aman menjadi kunci untuk meminimalisir dampak potensial dari aktivitas Semeru yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.