Liput – 05 April 2026 | Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo, mengungkapkan dalam sambutan acara Halalbihalal dan peringatan satu tahun Youtuber Nusantara di Hotel Sunan, Solo, bahwa ia sempat menghubungi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), Presiden Uni Emirat Arab, untuk menanyakan perkembangan perang Iran‑Israel yang baru tiga hari berjalan. Jokowi menanyakan secara langsung kapan konflik tersebut diperkirakan akan usai serta bagaimana proyeksi harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh ketegangan di Timur Tengah.
“Saya telepon saat perang baru tiga hari, saya telepon kakak saya di UEA yang mulia MBZ. Saya tanya, kapan perangnya selesai. Jawabannya tidak pasti dan tidak jelas,” ujar Jokowi tanpa menahan senyum. Ia menambahkan bahwa pertanyaan serupa diajukan pula kepada seorang menteri UEA, namun respons yang diberikan tetap sama – ketidakpastian yang mendalam di tengah zona konflik.
Penekanan Jokowi pada ketidakpastian ini menyoroti betapa rumitnya kalkulasi geopolitik dan ekonomi global ketika perang melibatkan negara-negara besar. Ia menekankan bahwa bahkan pihak yang berada di dalam lingkaran konflik sekalipun belum dapat meramalkan kapan peperangan akan berakhir atau kapan harga minyak akan kembali ke level normal.
Menurut Presiden, harga minyak mentah Brent yang diperdagangkan di pasar internasional telah melambung dari kisaran US$60‑70 per barel menjadi antara US$108‑112 per barel dalam hitungan hari. Lonjakan ini, kata Jokowi, mengancam kestabilan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia, yang masih sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
Jokowi juga memuji keputusan pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) domestik meski tekanan harga global terus meningkat. Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan langkah berani yang dapat meredam beban ekonomi masyarakat di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.
Dalam konteks diplomatik, Jokowi sempat menerima Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, pada awal pekan itu. Pertemuan tersebut menegaskan rasa simpati Indonesia terhadap rakyat Iran yang terdampak oleh serangan militer Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari. Jokowi menyatakan harapannya agar perdamaian, stabilitas, dan keamanan dapat segera kembali ke kawasan tersebut.
Berita ini juga menggarisbawahi peran strategis Uni Emirat Arab sebagai negara teluk yang berada di dekat zona konflik. Meskipun UEA menjadi salah satu korban dampak ekonomi, negara tersebut belum mampu memberikan perkiraan pasti mengenai durasi perang atau level harga minyak yang akan tercapai.
Secara umum, pernyataan Jokowi menegaskan tantangan yang dihadapi negara-negara di seluruh dunia dalam menavigasi krisis energi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik. Kenaikan harga minyak tidak hanya memengaruhi biaya transportasi dan produksi, tetapi juga berdampak pada inflasi, neraca perdagangan, dan kebijakan fiskal masing‑masing negara.
Pengakuan Presiden Jokowi tentang upaya berkomunikasi langsung dengan pemimpin UEA menunjukkan kepedulian tinggi pemerintah Indonesia terhadap dinamika pasar energi global. Meski jawaban yang diterima tidak memberikan kepastian, langkah tersebut mencerminkan keinginan untuk mendapatkan informasi terkini yang dapat membantu merumuskan kebijakan dalam negeri.
Dengan situasi yang terus berubah, para pengamat menilai bahwa Indonesia perlu memperkuat cadangan energi strategis serta mengejar diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Kebijakan tersebut, bila dijalankan bersamaan dengan diplomasi aktif, dapat menjadi penyangga terhadap guncangan eksternal di masa depan.
Ke depan, Indonesia akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah serta implikasinya terhadap pasar energi. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga dalam negeri, sambil tetap menjaga hubungan baik dengan negara‑negara kunci di kawasan Gulf, termasuk Uni Emirat Arab.