Liput – 14 April 2026 | Jakarta, 14 April 2026 – Ikan sapu‑sapu (keluarga Loricariidae) yang awalnya dikenal sebagai penghuni air tawar Amerika Selatan kini menjadi masalah lingkungan yang meluas di Asia Tenggara. Di Indonesia, khususnya di sungai‑sungai besar Jakarta, pemerintah DKI telah melancarkan operasi penangkapan massal setelah populasi ikan ini diperkirakan mengancam keseimbangan ekosistem, menggerogoti bantaran sungai, dan bersaing dengan ikan lokal. Namun, fenomena invasif yang sama kini meluas ke negara tetangga, yakni Malaysia dan Filipina, menandakan potensi krisis regional yang membutuhkan koordinasi lintas batas.
Ikan sapu‑sapu memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Spesies seperti Hypostomus plecostomus dan Pterygoplichthys dapat hidup di air keruh, tercemar, dan bahkan pada kadar oksigen yang sangat rendah. Mereka memperoleh oksigen tambahan langsung dari udara melalui organ pernapasan yang terletak di permukaan tubuh, sehingga tetap bertahan saat kondisi hipoksia melanda. Tubuh yang dilapisi pelat dermal keras menjadikan mereka sulit dimangsa oleh predator alami, mempercepat proliferasi populasi di habitat baru.
Di Jakarta, Gubernur Pramono Anung mengumumkan rencana rapat khusus dengan seluruh wali kota untuk menyusun strategi pemberantasan. “Saya meminta semua wali kota untuk turun tangan, karena ikan sapu‑sapu sudah menjadi ancaman nyata bagi keanekaragaman perairan kota,” ujarnya pada 14 April 2026. Operasi penangkapan yang dipimpin Dinas Kebersihan dan Pemeliharaan Perkotaan (KPKP) DKI berhasil menangkap 41 ekor ikan berukuran besar di Kali Cideng, tepat di depan Plaza Indonesia. Sebelumnya, tim serupa juga melakukan aksi di Kali Ciliwung.
Sementara upaya lokal terus digencarkan, laporan dari otoritas lingkungan Malaysia menunjukkan bahwa ikan sapu‑sapu telah terdeteksi di Sungai Perak dan Sungai Klang. Penelitian awal yang dilakukan oleh Universiti Malaya mengidentifikasi populasi kecil namun berkembang cepat, terutama di daerah aliran yang mengalami pencemaran industri. Ahli biologi perairan Dr. Ahmad Zulkifli menilai, “Jika tidak ditangani, ikan ini dapat mengubah struktur bentik dasar sungai, mengakibatkan erosi dan menurunkan produktivitas perikanan lokal.”
Di Filipina, penyebaran ikan sapu‑sapu terkonfirmasi di Sungai Pasig dan sebagian aliran di Luzon. Pemerintah kota Manila melaporkan peningkatan penangkapan massal sejak awal 2026, dengan dukungan tim survei dari Department of Environment and Natural Resources (DENR). Menurut Dr. Maria Santos, pakar ekologi perairan, “Sapu‑sapu bersaing dengan ikan endemik seperti tilapia dan catfish, serta mengganggu proses penguraian organik karena kebiasaan mereka menggali lubang di tepi sungai, yang mempercepat erosi dan mengubah aliran air.”
Berbagai studi ilmiah memperkuat kekhawatiran ini. Penelitian yang dipublikasikan dalam Comparative Biochemistry and Physiology Part A (1998) menegaskan kemampuan ikan Loricariidae untuk mengambil oksigen langsung dari udara pada kondisi hipoksia. Selanjutnya, artikel di BMC Ecology & Evolution (2012) menunjukkan bahwa pelat dermal keras memberi perlindungan terhadap predasi, memungkinkan pertumbuhan populasi yang tidak terkendali. Temuan terbaru dalam Asian Fisheries Science (2023) menyoroti dampak erosi tepi sungai akibat penggalian sarang ikan sapu‑sapu, yang mengakibatkan hilangnya habitat bentik dan menurunnya kualitas air.
Berbagai negara kini berupaya mengembangkan strategi bersama. Sekretaris Jenderal ASEAN, Ms. Rahayu Saraswati, mengusulkan pembentukan task force regional untuk memantau penyebaran ikan invasif, berbagi data ilmiah, dan menyusun protokol penanggulangan. Rencana aksi mencakup:
- Pemetaan distribusi ikan sapu‑sapu menggunakan teknologi GIS dan citra satelit.
- Pengembangan metode penangkapan ramah lingkungan, seperti jaring khusus dan pemancingan selektif.
- Pelatihan petugas lapangan di ketiga negara tentang identifikasi dan penanganan spesies invasif.
- Program edukasi publik untuk mencegah pelepasan ikan akuatik non‑asli ke sungai.
Di tingkat nasional, Indonesia memperkuat regulasi dengan mengeluarkan larangan impor dan perdagangan ikan sapu‑sapu serta menambah sanksi bagi pelanggaran. Di samping itu, DKI Jakarta berencana membangun fasilitas penangkaran dan penelitian di Pulau Seribu untuk mempelajari biologi reproduksi ikan ini, dengan harapan menemukan cara biologis yang dapat mengendalikan pertumbuhan populasinya.
Kesimpulannya, penyebaran ikan sapu‑sapu di Indonesia, Malaysia, dan Filipina menandai tantangan lintas batas yang memerlukan respons terkoordinasi. Keunikan fisiologis ikan ini—kemampuan bernapas udara, ketahanan terhadap predasi, dan kebiasaan menggali yang merusak habitat—menjadikannya ancaman serius bagi ekosistem perairan tropis. Tanpa tindakan kolektif, dampak ekologis dan ekonomi dapat meluas, mengancam keberlanjutan perikanan, kualitas air, dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada sumber daya sungai.