Liput – 08 April 2026 | Depok, Jawa Barat – Penyanyi legendaris dangdang Indonesia, Ikke Nurjanah, memberikan pandangan tajam sekaligus membangun tentang fenomena “Hipdut” yang kini menguasai playlist generasi muda. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Selasa, 7 April 2026, sang komisioner Lembaga Musik Nasional (LMKN) menekankan pentingnya mempertahankan identitas asli dangdut meski genre tersebut dipadukan dengan elemen hip‑hop modern.
“Kita tidak bisa membendung kreativitas anak muda,” ujar Ikke di sebuah studio rekaman di kawasan Depok. “Tren memang berubah, dan itu bagian dari dinamika musik. Tapi ada batasan yang harus dijaga, terutama soal norma, erotisme, dan SARA.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa eksplorasi musikal tetap diterima selama tidak melanggar nilai‑nilai sosial yang berlaku.
Menurut Ikke, dangdang tidak boleh menjadi korban homogenisasi musik global. “Dangdut harus menerima kondisi apa pun yang terjadi dalam industri, lalu kita variansikan. Yang klasik tetap ada, yang terbaru hadir,” kata sang artis senior sambil mencontohkan beragam aransemen yang pernah ia bawakan sejak era 1980-an. Ia menambahkan bahwa variasi tersebut harus tetap mengandung “napas” dangdut — yakni ciri khas melodi, cengkok, dan lirik yang menggugah semangat rakyat.
Untuk menegaskan poinnya, Ikke mengutip contoh sukses dari industri musik India. Penyanyi Arijit Singh, meski menyanyikan lagu‑lagu pop kontemporer, tetap mempertahankan bahasa dan cengkok tradisional yang memberi rasa orisinalitas India. “Dia tetap bercengkok, tetap punya ruh orisinalitas,” ujar Ikke. “Itulah yang harus kita pelajari: mengadopsi modernitas tanpa menghilangkan akar budaya.”
Tak hanya itu, sang komisioner juga menyoroti beberapa grup musik dangdut modern yang berhasil menyeimbangkan elemen baru dengan identitas tradisional. Tenxii dan NDX, misalnya, mampu menyajikan lagu yang terdengar “dangdut” namun tidak berlebihan, sehingga pendengar dapat merasakan nuansa klasik yang tetap hidup.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Ikke Nurjanah dalam wawancara tersebut:
- Kreativitas anak muda harus dihargai, namun tetap dalam koridor norma sosial.
- Materi lagu tidak boleh mengandung unsur pornografi, kebencian, atau provokasi SARA.
- Genre dangdut perlu beradaptasi dengan tren industri, tetapi tidak kehilangan ciri khasnya.
- Musisi harus menyelipkan unsur orisinalitas—”napas dangdut”—dalam setiap karya, meski mengadopsi elemen hip‑hop atau pop.
- Contoh internasional seperti Arijit Singh menunjukkan bahwa identitas budaya dapat tetap kuat di pasar global.
Ikke menegaskan bahwa peran pemerintah dan lembaga terkait juga penting dalam memberikan ruang bagi musisi muda untuk bereksperimen, sekaligus menyediakan panduan etika yang jelas. “LMKN siap mendampingi, memberikan pelatihan, dan memfasilitasi kolaborasi lintas genre yang tetap menghormati nilai budaya,” tambahnya.
Para musisi muda menyambut baik pesan tersebut. Beberapa dari mereka mengakui bahwa meskipun terinspirasi oleh beat hip‑hop, mereka tetap ingin menyisipkan elemen tradisional seperti gong, seruling, atau vokal khas dangdut. “Kami ingin tetap relevan di era digital, tapi tidak melupakan akar musik kita,” ujar salah satu produser indie yang tidak ingin disebutkan namanya.
Fenomena Hipdut sendiri muncul seiring dengan kemudahan akses produksi musik digital, dimana beat‑beat hip‑hop mudah dipadukan dengan melodi dangdut. Platform streaming menampilkan playlist khusus Hipdut yang kini mencatat peningkatan pendengar hingga 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Statistik ini menunjukkan bahwa tren tersebut tidak hanya sekadar fad, melainkan sebuah gelombang baru dalam industri musik Indonesia.
Namun, penting untuk diingat bahwa popularitas tidak boleh mengorbankan kualitas artistik. “Jika materi lagunya kosong, hanya mengandalkan hype, maka tidak akan bertahan lama,” peringat Ikke. Ia menekankan pentingnya penulisan lirik yang bermakna, aransemen yang terstruktur, serta penampilan yang menonjolkan keunikan budaya Indonesia.
Kesimpulannya, Ikke Nurjanah mengajak seluruh pelaku industri musik—dari artis, produser, hingga lembaga pemerintah—untuk bersama‑sama menjaga agar dangdut tetap hidup dalam setiap transformasi. Dengan menyeimbangkan inovasi dan orisinalitas, genre ini dapat terus menjadi jembatan antara generasi, sekaligus memperkuat identitas budaya nasional di panggung dunia.