Liput – 22 April 2026 | Oxford United kini berada dalam posisi genting di EFL Championship. Klub yang dimiliki oleh pengusaha Indonesia Erick Thohir ini menempati peringkat 22 dari 24 tim dengan total 44 poin setelah 43 pertandingan. Jaraknya lima poin dari zona aman, yang saat ini ditempati West Brom dan Blackburn Rovers dengan masing-masing 49 poin.
Dengan hanya tiga laga tersisa, Oxford United harus mengumpulkan setidaknya tiga poin dalam setiap pertandingan untuk menutup jarak dan mengamankan tempatnya di kasta kedua liga Inggris. Tekanan paling besar datang pada laga selanjutnya melawan Wrexham pada Rabu, 22 April 2026. Kemenangan dalam laga ini menjadi keharusan mutlak bagi Oxford United jika ingin tetap berjuang menghindari degradasi ke Liga Satu.
Wrexham, klub yang didukung secara finansial oleh aktor Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney, berada di posisi yang jauh lebih nyaman. Mereka menempati peringkat ketujuh dengan 67 poin, hanya dua poin tertinggal dari slot terakhir zona play‑off, Hull City yang mengumpulkan 69 poin. Meskipun demikian, Wrexram tidak dapat meremehkan lawan yang berjuang keras untuk bertahan, mengingat motivasi Oxford United yang berada di ambang kebangkrutan liga.
Sejarah singkat Oxford United menunjukkan dinamika yang menarik. Setelah diakuisisi oleh Erick Thohir pada tahun 2022, klub berhasil bangkit dari krisis finansial, menembus promosi ke Championship pada musim 2023‑2024. Keberhasilan tersebut sempat menimbulkan harapan baru bagi pendukung, namun kini kembali terancam oleh performa yang menurun.
Berikut adalah ringkasan posisi klasemen akhir yang relevan:
| Posisi | Tim | Poin |
|---|---|---|
| 20 | West Brom | 49 |
| 21 | Blackburn Rovers | 49 |
| 22 | Oxford United | 44 |
| 23 | … (tim lain) | … |
Statistik menunjukkan Oxford United mencatatkan 10 kemenangan, 14 hasil imbang, dan 19 kekalahan dalam 43 pertandingan. Pertahanan mereka menjadi titik lemah utama, dengan rata‑rata kebobolan 1,5 gol per laga. Di sisi lain, serangan belum mampu menghasilkan gol yang konsisten, mencatatkan hanya 38 gol selama musim ini.
Manajer Oxford United, yang kini berada di bawah tekanan, diharapkan merombak taktik untuk menekan lini tengah Wrexham yang kuat. Pemain kunci seperti Ole Romeny dan striker muda lainnya harus menampilkan performa terbaik. Jika mereka mampu mencetak setidaknya dua gol, peluang memenangkan pertandingan akan meningkat secara signifikan.
Di luar lapangan, isu VAR (Video Assistant Referee) masih menjadi perdebatan di antara klub‑klub EFL. Oxford United termasuk dalam kelompok yang menolak penerapan VAR, menganggap teknologi tersebut dapat mengganggu alur permainan tradisional. Meski demikian, keputusan akhir masih berada di tangan otoritas liga.
Dengan atmosfer stadion Kassam yang dipenuhi suara supporter, Oxford United bertekad untuk memanfaatkan dukungan rumah. Mereka berharap dapat menyalurkan energi positif ke dalam performa tim, sekaligus menegaskan bahwa klub tidak akan menyerah begitu saja pada ancaman degradasi.
Jika Oxford United berhasil mengamankan tiga poin melawan Wrexham, mereka masih memiliki dua pertandingan tersisa untuk mengumpulkan poin tambahan. Namun, kegagalan dalam laga ini kemungkinan besar akan mengamukkan klub ke Liga Satu, mengakhiri perjalanan singkat mereka di kasta tertinggi kedua sepak bola Inggris.
Berita ini akan terus dipantau, mengingat dampak finansial dan reputasi yang besar bagi kedua klub. Penggemar sepak bola Indonesia dan internasional menanti hasil akhir yang menentukan nasib Oxford United dalam musim yang penuh tantangan ini.