Digitalisasi UMKM: BRI Bantu Depot Betty Bertahan 25 Tahun dan Kembangkan Jaringan Kuliner

Liput – 22 April 2026 | Depot Betty, sebuah usaha kuliner yang berawal dari warung sederhana di Pasar Tradisional Pancasari pada tahun 2001, kini telah menapaki jejak panjang selama 25 tahun. Keberhasilan bertahan hingga separuh abad bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil kombinasi warisan resep, fokus pada kebersihan, serta dukungan permodalan dan digitalisasi UMKM yang diberikan oleh BRI.

Pada tahun 2013, I Putu Bayu Ekayana mengambil alih kepemilikan usaha keluarga setelah sang ibu mengalami penurunan kesehatan. Latar belakang Bayu sebenarnya berada di bidang hospitality sebagai bartender, sehingga dunia kuliner terasa asing baginya. Namun, tekad untuk melanjutkan warisan keluarga mendorongnya belajar dari nol, sekaligus mempertahankan resep babi guling yang menjadi andalan.

Strategi pertama Bayu adalah meningkatkan standar pelayanan, kebersihan, dan higienitas—aspek yang sering terabaikan oleh pelaku usaha kecil. Dengan lokasi strategis di jalur Denpasar‑Bedugul, yang sekaligus merupakan rute wisata utama, Depot Betty mampu menjangkau tidak hanya penduduk lokal tetapi juga wisatawan domestik dan mancanegara.

Seiring pertumbuhan, usaha ini kini memiliki beberapa outlet, terutama di kawasan Bedugul. Setiap harinya, semua outlet mengonsumsi sekitar lima hingga enam ekor babi, yang dibeli dari peternak lokal di wilayah Pancasari, Candikuning, hingga Baturiti. Bayu menekankan pentingnya pemilihan jenis babi seperti saddleback, chester, dan yorkshire karena kandungan lemaknya memberikan tekstur kulit yang renyah dan kriuk.

Pendorong utama ekspansi adalah akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Sejak 2014, Depot Betty memanfaatkan skema KUR untuk menambah modal, memperbaiki manajemen keuangan, dan mendukung ekspansi jaringan outlet. Bayu mengaku proses pelunasan kredit berjalan lancar berkat dukungan BRI yang tidak hanya menyediakan dana, tetapi juga pendampingan.

Namun, bukan hanya permodalan yang menjadi kunci. Transformasi digital menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha. Depot Betty telah mengadopsi sistem pembayaran non‑tunai di semua outletnya, termasuk QRIS, BRImo, serta mesin EDC BRI. Digitalisasi ini memastikan semua transaksi tercatat otomatis, memudahkan kontrol keuangan, dan menurunkan risiko kehilangan uang.

Penggunaan aplikasi BRImo memberikan efisiensi tambahan. Pemilik usaha dapat memantau mutasi rekening secara real‑time, melakukan transfer antarbank, serta membayar kebutuhan operasional tanpa harus mengunjungi kantor cabang. Notifikasi transaksi yang muncul di ponsel membantu mengurangi kesalahan pencatatan dan meningkatkan akurasi laporan keuangan.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa digitalisasi merupakan kunci utama bagi UMKM untuk bertahan dan berkembang di pasar yang dinamis. BRI berkomitmen menyediakan layanan perbankan digital, pendampingan, serta ekosistem terintegrasi untuk membantu UMKM naik kelas dan memperluas akses pasar, baik di tingkat nasional maupun global.

Berbagai layanan digital yang ditawarkan BRI, antara lain aplikasi super apps BRImo, QRIS, serta platform pemberdayaan UMKM, memudahkan pelaku usaha dalam melakukan transaksi keuangan secara efisien dan aman. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.

Depot Betty tetap fokus pada stabilitas operasional sebelum merencanakan ekspansi agresif ke segmen wisatawan premium. Bayu menegaskan, “Prioritas utama kami adalah menjaga kelangsungan usaha yang sudah ada, bukan sekadar memperluas jaringan secara cepat.”

Kisah sukses Depot Betty mencerminkan realitas banyak UMKM di Bali yang tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga mengelola keuangan secara modern melalui digitalisasi UMKM. Kombinasi antara akses kredit KUR BRI, penggunaan aplikasi BRImo, dan penerapan pembayaran non‑tunai menjadikan usaha keluarga yang bermula dari dapur sederhana di Pancasari mampu bertahan, bahkan berkembang dalam era digital.

Dengan dukungan BRI, Depot Betty tidak hanya mempertahankan tradisi kuliner lokal, tetapi juga menyiapkan generasi penerus yang siap bersaing di pasar yang semakin terhubung secara digital.