Super League: Drama VAR, Kartu Merah, dan Imbang 2-2 Persib vs Dewa United Pecah di Banten

Liput – 22 April 2026 | Pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026 menyajikan laga menegangkan antara Dewa United dan Persib Bandung di Banten International Stadium, Serang. Dewa United memulai pertandingan dengan keunggulan dua gol, namun Persib berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 berkat gol penalti dan sundulan di menit akhir. Pertandingan ini tidak hanya dipenuhi aksi di lapangan, melainkan juga sorotan tajam terhadap keputusan wasit, penggunaan VAR, serta kartu merah yang dianggap kontroversial.

Gol pertama tercipta pada menit ke-18 ketika Alex Martins menembus pertahanan Dewa United dan mengirimkan bola ke gawang Persib setelah menerima umpan tepat dari Alexis Messidoro. Gol kedua datang pada menit ke-64, saat Ricky Kambuaya menambah keunggulan lewat assist Noah Sadaoui. Kedua gol tersebut memberi Dewa United keunggulan 2-0 dan seolah menjanjikan kemenangan di kandang mereka.

Namun, tekanan Persib mulai terasa setelah Alex Martins menerima kartu kuning kedua pada menit ke-64. Keputusan tersebut mengakibatkan pemain tersebut terpaksa keluar lapangan, menambah beban mental bagi Dewa United. Persib memanfaatkan peluang ini dan pada menit ke-76, Thom Haye mengeksekusi penalti yang diberikan setelah terjadi handball yang diperdebatkan. Gol penalti ini memperkecil selisih menjadi 2-1.

Menjelang menit ke-85, Andrew Jung berhasil mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan setelah umpan silang dari Eliano Reijnders. Gol ini menandai akhir skor 2-2 yang bertahan hingga peluit akhir. Kedua tim harus puas berbagi poin, namun sorotan utama bergeser ke aspek teknis pertandingan.

Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, mengungkapkan kekecewaannya dalam konferensi pers pasca pertandingan. Ia menilai bahwa keputusan wasit, terutama terkait kartu merah yang diterima Alex Martins, sangat tidak dapat diterima dan mengganggu alur permainan timnya. “Kami mendapat kartu merah yang sangat bodoh. Itu hampir tidak bisa diterima,” ujar Olde Riekerink. Ia juga menyoroti taktik Persib yang lebih mengandalkan umpan panjang ke gawang, yang menurutnya menjadi faktor penting dalam kebobolan dua gol awal.

Di sisi lain, Komisaris Persib Bandung, Umuh Muchtar, menegaskan bahwa hasil imbang bukanlah masalah utama. Menurutnya, keputusan-keputusan wasit yang tidak adil dan kegagalan dalam mengaktifkan teknologi VAR menjadi titik tumpu kekecewaannya. Ia mencontohkan insiden bola yang jelas keluar lapangan namun tetap dianggap sah, serta dugaan handball yang tidak ditangani oleh VAR. “Kenapa tidak dibuka VAR yang pertama? Padahal jelas,” kata Umuh Muchtar.

Kontroversi VAR semakin memperkeruh situasi ketika salah satu petugas VAR yang sebelumnya pernah dikenai sanksi kembali terlibat dalam pertandingan tersebut. Menurut Umuh, penggunaan petugas yang pernah dihukum menambah keraguan akan independensi dan profesionalisme aparat pengadil.

Selain itu, perdebatan mengenai kartu merah yang diberikan kepada Alex Martins menambah ketegangan. Jan Olde Riekerink menyebut keputusan tersebut sebagai kesalahan fatal yang merugikan timnya, sementara pihak Persib berargumen bahwa tindakan tersebut sejalan dengan aturan pertandingan.

Secara statistik, kedua tim mencatat penguasaan bola yang hampir seimbang, dengan Dewa United menguasai 52% dan Persib 48%. Kedua sisi juga menampilkan serangan balik cepat, namun ketidakhadiran VAR pada momen-momen krusial mengurangi peluang klarifikasi keputusan.

Dengan hasil imbang ini, Persib tetap berada di zona aman klasemen, sementara Dewa United harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan posisi dalam enam besar. Kedua pelatih menekankan pentingnya belajar dari kesalahan, terutama dalam hal disiplin pemain dan komunikasi dengan ofisial pertandingan.

Ke depan, BRI Super League dijadwalkan akan melanjutkan kompetisi dengan penekanan pada transparansi keputusan wasit. Pihak liga berjanji untuk meninjau kembali prosedur penggunaan VAR, serta memastikan bahwa petugas yang terlibat tidak memiliki catatan sanksi yang dapat memengaruhi kredibilitas keputusan.