Liput – 08 April 2026 | Setelah kekalahan menegangkan 2-3 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC pada Minggu (5 April 2026), pelatih Persija Jakarta, Mauricio Souza, menyampaikan analisis tajam mengenai situasi klubnya yang kini hanya bersaing dengan Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda dalam perebutan gelar Super League 2025/2026. Dalam konferensi pers di Stadion PKOR Sumpah Pemuda, Souza menegaskan bahwa timnya tidak dapat lagi membuang poin di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Tim yang ingin menjadi juara tidak boleh membiarkan poin terbuang begitu saja, seperti yang kami alami dalam beberapa pertandingan terakhir,” kata Souza. Ia menambahkan bahwa gol yang kebobolan pada menit ke-49 melawan Borneo FC dan kehilangan poin melawan Dewa United merupakan indikator bahwa performa tim belum mencapai standar yang diharapkan. Menurutnya, pertandingan melawan Bhayangkara seharusnya berada dalam kendali Persija, namun tim gagal menjaga intensitas hingga akhir laga.
Sebagai respons, Souza menolak mencari kambing hitam. Ia menekankan pentingnya evaluasi kolektif dan menolak menilai individu secara terpisah, termasuk debut bek baru Cyrus Margono yang masih menyesuaikan diri. “Saya perlu melihat kembali semua proses terjadinya gol sebelum mengambil kesimpulan. Fokus kami sekarang ialah memperbaiki kekurangan itu dalam latihan, bukan langsung menilai individu,” ujarnya. Souza juga menyoroti kurangnya efektivitas duel udara Margono, yang dinilai masih membutuhkan pembinaan lebih lanjut.
Sementara itu, di Bandung, pelatih Persib Bandung, Bojan Hodak, memberikan penilaian positif namun tetap kritis setelah timnya berhasil mengamankan kemenangan 2-0 melawan Semen Padang pada pekan ke-26. Hodak mengakui bahwa fase awal pertandingan cukup menantang, dengan Semen Padang menguasai tempo dalam 20-30 menit pertama. Namun, ia memuji kemampuan tim dalam mengendalikan permainan setelah gol pembuka Ramon Tanque pada menit ke-32.
“Saya sudah katakan sebelumnya, ini pertandingan yang sulit, karena dalam 20-30 menit pertama mereka masuk ke permainan dengan lebih baik. Tapi perlahan kami mulai mengontrol,” ungkap Hodak. Ia menambahkan bahwa babak kedua menjadi momen terbaik Persib, di mana tim berhasil memperkuat dominasi dan mencetak gol kedua melalui sundulan Tanque pada menit ke-70.
Meskipun hasil akhir tampak meyakinkan, Hodak mengingatkan akan masalah inkonsistensi yang kerap muncul pada babak kedua di beberapa pertandingan terakhir. Pada laga melawan Semen Padang, ia mencatat bahwa Persib mampu menanggulangi masalah tersebut, namun tetap memperingatkan bahwa konsistensi harus menjadi prioritas utama menjelang sisa musim.
Situasi klasemen kini menunjukkan Persija terpaut lima poin dari Borneo FC di posisi kedua dan sembilan poin dari pemuncak klasemen Persib Bandung. Kedua pelatih, Souza dan Hodak, sepakat bahwa tantangan terbesar terletak pada kemampuan masing-masing tim untuk menjaga performa tinggi secara berkelanjutan.
Dalam konteks strategi, Souza berencana meningkatkan intensitas latihan defensif, memperbaiki koordinasi lini belakang, serta mengoptimalkan peran set-piece. Ia menegaskan bahwa klub sudah menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk memaksimalkan persiapan hingga pertandingan terakhir.
Sementara itu, Hodak menekankan pentingnya konsistensi mental dan taktik dalam mengelola tekanan di papan atas. Ia berencana menambah variasi serangan melalui pergerakan sayap dan memperkuat kontrol tengah lapangan, guna menjaga Persib tetap berada di jalur juara.
Kedua pelatih juga menyoroti peran suporter. Souza menghimbau Jakmania untuk tetap memberikan dukungan moral, sementara Hodak mengajak pendukung Maung Bandung untuk terus mengisi stadion dengan semangat juang yang menginspirasi tim.
Dengan sisa musim yang masih panjang, persaingan antar tiga tim utama diprediksi akan semakin sengit. Persija harus mengatasi kekurangan defensif dan meningkatkan efisiensi serangan, sedangkan Persib berupaya menjaga konsistensi performa agar tidak terjatuh pada fase krusial. Borneo FC, yang berada di posisi kedua, juga tidak boleh diremehkan mengingat selisih poin yang tipis.
Jika semua pihak dapat mengeksekusi rencana masing-masing, peluang persaingan judul tetap terbuka hingga laga penutup. Namun, kegagalan memperbaiki celah-celah kritis dapat mengakibatkan persaingan berubah menjadi pertarungan antara dua tim saja, mengorbankan harapan suporter lain.
Dalam kesimpulan, Mauricio Souza dan Bojan Hodak menegaskan tekad masing-masing untuk mengoptimalkan performa tim, memperbaiki kelemahan, dan melanjutkan perjuangan hingga peluit akhir musim. Pertarungan di puncak klasemen kini menjadi ujian nyata bagi keberanian, strategi, dan kedalaman skuad tiga kandidat juara.