Kota Bekasi Sibuk: 445 Jamaah Haji Bersiap Terbang & Upaya Basmi Ikan Sapu-sapu Mengguncang Warga

Liput – 21 April 2026 | Bekasi kembali menjadi sorotan utama pada hari Selasa, 21 April 2026, ketika 445 calon jamaah haji Kloter I memasuki Embarkasi Asrama Haji Bekasi. Serentak dengan itu, Pemerintah Kota Bekasi menyiapkan operasi penanganan ikan sapu‑sapu di Kali Bekasi yang diprediksi akan memuncak pada bulan Juni. Kedua agenda ini mencerminkan dinamika sosial‑ekonomi dan lingkungan yang sedang berlangsung di Kota Bekasi.

Kepala Kantor Kementerian Haji Kota Bekasi, Rian Fauzi, menjelaskan bahwa total jamaah yang tiba terdiri dari 200 laki‑laki dan 241 perempuan. Empat petugas pendamping, termasuk ketua kloter, pembimbing ibadah, dan tenaga kesehatan, turut hadir. Dari jumlah tersebut, 19 orang menggunakan kursi roda dan dua orang masuk dalam kategori lansia prioritas. Rentang usia jamaah sangat beragam, mulai dari 17 hingga 94 tahun.

Kategori Jumlah
Laki‑laki 200
Perempuan 241
Petugas 4
Pengguna kursi roda 19
Lansia prioritas 2

Selama masa transit yang dijadwalkan hingga pukul 02.00 WIB, jamaah menjalani pemeriksaan kesehatan, menerima perlengkapan medis, serta dokumen penting seperti paspor, visa, dan kartu Nusuk. Tahun ini, aktivasi kartu Nusuk dapat dilakukan langsung di Asrama Haji Bekasi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang mengharuskan aktivasi di Arab Saudi. “Dengan aktivasi lebih awal, jamaah diharapkan tidak mengalami kendala setibanya di Tanah Suci,” ujar Rian.

Jamaah dijadwalkan berangkat ke Bandara Soekarno‑Hatta pada pukul 02.00 dini hari dan lepas landas menuju Madinah pada 22 April 2026 pukul 07.30 WIB. Antusiasme tinggi, bahkan ada jamaah yang belum tidur semalam karena ingin segera melanjutkan ibadah.

Sementara itu, di sisi lain kota, Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, mengungkapkan bahwa Kali Bekasi menjadi “sarang” ikan sapu‑sapu. Ia menyatakan bahwa kedalaman air yang cukup bagus membuat ikan tersebut jarang muncul ke permukaan, namun populasinya mulai meningkat dan berpotensi mengganggu ekosistem sungai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menegaskan bahwa penanganan ikan invasif tersebut akan dijadwalkan pada Juni 2026, bertepatan dengan musim kemarau ketika debit air menurun. “Kami akan berkoordinasi dengan Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) untuk membersihkan ikan sapu‑sapu pada saat debit air rendah,” katanya.

  • Penangkapan manual menggunakan jaring pada saat debit air rendah.
  • Pemusnahan ikan secara total untuk mencegah penyebaran.
  • Survei dan pemetaan populasi ikan melalui susur sungai yang dijadwalkan oleh Wali Kota Tri Adhianto.
  • Edukasi masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan sapu‑sapu, baik segar maupun olahan seperti cilok, bakso, atau siomay.

Bobihoe menambahkan, beberapa oknum telah memanfaatkan ikan tersebut sebagai bahan baku makanan, padahal ikan sapu‑sapu mengandung racun yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Ia mengimbau UMKM untuk tidak menjadikan ikan ini sebagai bahan baku.

Upaya Bekasi berbeda dengan DKI Jakarta yang melakukan operasi penangkapan massal di lima wilayah kota administrasi pada April 2026, menargetkan total lebih dari satu ton ikan sapu‑sapu. Pemerintah Kota Bekasi memilih pendekatan yang lebih terukur, menunggu debit air menurun untuk memastikan efektivitas penangkapan.

Kombinasi antara persiapan keberangkatan jamaah haji dan penanganan lingkungan menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melayani kebutuhan spiritual warga sekaligus melindungi sumber daya alam. Kedua agenda ini juga memberi peluang ekonomi tambahan, mulai dari penyediaan layanan kesehatan, logistik haji, hingga pekerjaan temporer bagi warga yang terlibat dalam operasi penangkapan ikan.

Dengan 445 jamaah haji yang siap berangkat dan rencana penanggulangan ikan sapu‑sapu yang matang, Kota Bekasi berada pada posisi strategis untuk menjadi contoh kota yang mampu mengelola tantangan sekaligus memaksimalkan peluang bagi warganya.

Upaya bersama antara lembaga keagamaan, dinas lingkungan, serta partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat menjaga kelancaran ibadah haji serta kelestarian ekosistem Kali Bekasi untuk generasi mendatang.