Liput – 09 April 2026 | Insiden kebakaran dan ledakan di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Bekasi, terus memuncak tragedinya. Hingga kini, jumlah korban jiwa meningkat menjadi empat orang, dengan dua petugas keamanan meninggal akibat luka bakar yang menutupi hampir seluruh tubuh, serta dua pelajar dari SMK Negeri 15 Kota Bekasi yang juga tak selamat.
Ledakan pertama terjadi pada malam Rabu, 1 April 2026, setelah terdeteksi bau gas kuat di area SPBE. Menurut keterangan Pelaksana Tugas (Plt.) Kadisdamkarmat Kota Bekasi, Heryanto, kebocoran gas dipicu oleh korsleting listrik, yang kemudian mengakibatkan ledakan dahsyat. Kebakaran meluas cepat, menenggelamkan fasilitas hampir total. Tim pemadam kebakaran Kota Bekasi berhasil memadamkan api pada dini hari tanggal 2 April, namun korban luka bakar tetap bertambah.
Korban pertama yang meninggal adalah dua sekuriti SPBE, Jaimun (61 tahun) dan Suyadi (62 tahun). Kedua pria tersebut mengalami luka bakar parah yang meluas lebih dari 90 persen pada tubuh mereka. Setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit, Jaimun wafat pada Senin, 6 April 2026, dan Suyadi pada Minggu, 5 April 2026. Wakil Wali Kota Bekasi, Abdul Harris Bobihoe, menegaskan bahwa kedua korban adalah pahlawan yang berusaha menyelamatkan diri dan orang lain saat kejadian.
Selanjutnya, pada Selasa malam, 7 April 2026, Sapta Prihantono, siswa kelas X SMK Negeri 15 Kota Bekasi, dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah dirawat intensif. Sapta mengalami luka bakar serius di hampir seluruh tubuh akibat ledakan yang terjadi di SPBE. Keluarganya tinggal tidak jauh dari lokasi kebakaran, dan rumah mereka juga mengalami kerusakan parah.
Pada hari Kamis, 9 April 2026, berita duka kembali mengalir ketika Aulia Putri Budiasti, kakak kandung Sapta sekaligus alumni SMK Negeri 15, dinyatakan meninggal dunia di RSUD Kabupaten Bekasi. Aulia sempat dirawat setelah terkena dampak kebakaran, namun kondisi memburuk dan mengakibatkan kematian pada pukul 04.30 WIB. Dengan kematian Aulia, total korban meninggal akibat insiden SPBE Cimuning mencapai empat orang.
Menurut data resmi, sebanyak 22 orang mengalami luka bakar, dengan tingkat keparahan bervariasi. Dua sekuriti yang meninggal mengalami luka bakar lebih dari 90 persen, sementara para korban lain menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, termasuk RSCM dan RSUD Kabupaten Bekasi. Pemerintah Kota Bekasi terus memantau kondisi para korban dan memberikan bantuan medis serta dukungan psikologis.
Wakil Wali Kota Bobihoe menegaskan bahwa pemerintah kota akan menindak tegas pihak pengelola SPBE, PT Indogas Andalan Kita, serta Pertamina sebagai pemasok gas. “Kami akan memanggil manajemen PT Indogas Andalan Kita dan Pertamina untuk membahas standar keselamatan operasional. Hal ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Bobihoe dalam konferensi pers pada 9 April.
Pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Barat juga menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Area Manager Communications, Relations & CSR Regional JBB, Susanto August Satria, menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung bersama aparat berwenang untuk mengidentifikasi penyebab pasti kebocoran dan korsleting listrik.
Kondisi lingkungan sekitar SPBE kini berada dalam pengawasan ketat. Warga sekitar dilaporkan mengalami kerusakan rumah akibat tekanan ledakan, dan pihak berwenang telah menyiapkan bantuan darurat serta program rehabilitasi rumah yang terdampak.
Insiden ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai regulasi keamanan fasilitas pengisian LPG di wilayah Jawa Barat. Pemerintah provinsi dan pusat diharapkan meningkatkan inspeksi serta menegakkan standar operasional yang lebih ketat, khususnya pada instalasi listrik dan sistem deteksi kebocoran gas.
Secara keseluruhan, tragedi SPBE Cimuning menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, perusahaan pengelola, dan masyarakat dalam menjaga keselamatan publik. Upaya pemulihan masih panjang, namun dengan komitmen bersama, diharapkan kejadian serupa tidak akan terulang di masa mendatang.