Ketua RW Kelapa Gading Ajak Warga Tangkap Sapu-Sapu, Dapat Rp 5.000/kg – Upaya Besar Mengurangi Invasif

Liput – 19 April 2026 | Kelapa Gading, Jakarta Utara – Pada Jumat (17/4/2026), ketua RW setempat memimpin aksi unik yang mengajak warga sekitar untuk tangkap sapu-sapu di kanal dan sungai lingkungan. Setiap kilogram ikan sapu-sapu yang berhasil diangkat akan dibayar Rp 5.000, sebuah insentif yang diharapkan mendorong partisipasi massal dalam upaya menurunkan populasi spesies invasif ini.

Inisiatif lokal ini bertepatan dengan operasi serentak yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta. Pada hari yang sama, tim gabungan dari pemerintah provinsi, aparat keamanan, dan relawan menurunkan jaring di lima wilayah administratif: Kali Semongol (Jakarta Barat), Sungai Kendal (Jakarta Utara), Pintu Air Outlet Setu Babakan (Jakarta Selatan), Sungai Banjir Kanal Barat (Jakarta Pusat), dan Dermaga Eco Eduwisata Ciliwung (Jakarta Timur).

Menurut data resmi Dinas KPKP, total hasil penangkapan mencapai 6,9 ton atau setara dengan 68.880 ekor ikan sapu-sapu. Jakarta Selatan menyumbang 5,3 ton, diikuti Jakarta Timur dengan 825,5 kilogram, dan Jakarta Pusat 565 kilogram. Angka tersebut menegaskan skala permasalahan: penelitian Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan lebih dari 60 % biota perairan Jakarta kini didominasi oleh ikan sapu-sapu, spesies asal Amerika Selatan yang mampu beradaptasi dengan air keruh dan tercemar.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, bersama Gubernur DKI Jakarta Anggia Leksa Putri, hadir langsung di lokasi penangkapan di Kelapa Gading Barat. Mereka menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan populasi ikan invasif yang mengancam kelangsungan ikan endemik. “Kita butuh aksi konkret di tingkat akar rumput. Bila warga bersedia tangkap sapu-sapu dan mendapatkan imbalan, maka proses pemulihan ekosistem akan lebih cepat,” ujar Pramono.

Ketua RW setempat menjelaskan mekanisme pelaksanaan program. Setiap warga yang berhasil mengumpulkan ikan sapu-sapu dapat menyerahkannya ke pos penampungan yang dibuka di balai RW. Petugas kemudian menimbang berat total tangkapan dan membayar sesuai tarif Rp 5.000 per kilogram. Selama tiga hari pertama, total berat yang dikumpulkan warga Kelapa Gading mencapai 1,2 ton, menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Berbagai alasan menjadi pendorong keberhasilan program ini:

  • Insentif finansial: Harga Rp 5.000/kg memberikan nilai tambah bagi warga yang biasanya hanya menganggap ikan sapu-sapu sebagai sampah.
  • Kesadaran lingkungan: Edukasi tentang dampak negatif ikan invasif telah tersebar luas melalui media sosial dan pertemuan RW.
  • Dukungan institusional: Penyediaan peralatan penangkapan (jaring, sarung tangan, wadah) oleh Dinas KPKP mempermudah proses.
  • Pengawasan: Kehadiran petugas keamanan memastikan penangkapan dilakukan secara legal dan tidak merusak spesies lain.

Para ahli lingkungan menilai bahwa program semacam ini dapat menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi permasalahan serupa. Dr. Maya Lestari, pakar ekologi perairan Universitas Indonesia, menyatakan, “Jika insentif ekonomi dipadukan dengan edukasi, masyarakat akan menjadi agen perubahan yang paling efektif. Penurunan populasi sapu-sapu secara bertahap akan membuka ruang bagi ikan lokal kembali berkembang.”

Namun, tantangan tetap ada. Ikan sapu-sapu memiliki tingkat reproduksi yang tinggi dan dapat bertahan di kondisi ekstrim. Oleh karena itu, pemerintah DKI Jakarta menargetkan serangkaian aksi lanjutan, termasuk pembersihan habitat, penanaman vegetasi penahan erosi, dan pemantauan kualitas air secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, aksi tangkap sapu-sapu yang digerakkan oleh ketua RW Kelapa Gading menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga dapat menghasilkan solusi praktis untuk permasalahan lingkungan perkotaan. Dengan dukungan kebijakan yang kuat dan partisipasi aktif, diharapkan populasi ikan invasif dapat ditekan, sehingga ekosistem perairan Jakarta kembali seimbang dan mendukung keberlangsungan spesies asli.

Langkah ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga menambah pendapatan tambahan bagi warga, sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan dalam menjaga lingkungan tempat tinggal mereka.