Liput – 20 April 2026 | Pasar bahan bakar minyak (BBM) Indonesia mengalami lonjakan harga yang signifikan pada pertengahan April 2026. Harga non‑subsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik hingga hampir Rp10.000 per liter dibandingkan minggu sebelumnya. Meski demikian, Indonesia masih tercatat sebagai negara dengan BBM termurah di kawasan ASEAN, melampaui negara‑negara tetangga yang telah menaikkan tarif mereka secara lebih agresif.
Data resmi dari Pertamina menunjukkan rincian kenaikan pada Senin, 20 April 2026: Pertamax Turbo mencapai Rp19.400 per liter (naik Rp6.300), Dexlite Rp23.600 per liter (naik Rp9.400), dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter (naik Rp9.400). Harga subsidi seperti Solar (CN 48) tetap di Rp6.800 per liter, sementara Pertalite dan Pertamax tetap stabil. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan penurunan harga minyak mentah Brent di pasar internasional, yang pada 17 April 2026 turun di bawah $91 per barel setelah Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Penjelasan resmi datang dari Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, yang menegaskan bahwa penetapan harga BBM non‑subsidi mengikuti formula resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Formula tersebut mencakup tiga komponen utama: harga dasar (yang mengacu pada Mean of Platts Singapore atau MOPS), margin operasional, dan pajak. Karena MOPS mengalami kenaikan akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026, pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM untuk menjaga kelangsungan usaha pengelola SPBU serta menghindari defisit subsidi yang berkelanjutan.
Sementara itu, perbandingan harga BBM Indonesia dengan negara ASEAN lainnya menunjukkan perbedaan yang masih menguntungkan konsumen domestik. Menurut laporan yang dirangkum oleh media lokal, harga bensin di Malaysia, Thailand, dan Filipina berada di kisaran Rp55.000‑Rp58.000 per liter, jauh di atas tarif Indonesia meski Indonesia baru saja melakukan penyesuaian. Faktor utama yang menurunkan harga BBM Indonesia adalah kebijakan subsidi pemerintah pada produk tertentu serta nilai tukar Rupiah yang relatif stabil dibandingkan mata uang regional.
Berikut tabel ringkas perbandingan harga BBM non‑subsidi per liter pada 20 April 2026 di lima negara ASEAN terdekat:
| Negara | Jenis BBM | Harga (Rp) |
|---|---|---|
| Indonesia | Pertamax Turbo | 19.400 |
| Indonesia | Dexlite | 23.600 |
| Malaysia | RON 95 | 55.200 |
| Thailand | RON 95 | 56.800 |
| Filipina | RON 95 | 57.400 |
Data ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar BBM termurah di kawasan, meskipun pemerintah harus menyesuaikan tarifnya untuk mencerminkan dinamika pasar global. Penurunan harga minyak dunia tidak serta‑merta menurunkan harga BBM di dalam negeri karena mekanisme penentuan harga di Indonesia lebih dipengaruhi oleh MOPS dan kebijakan fiskal domestik.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa kebijakan penyesuaian harga ini bersifat sementara. Jika konflik geopolitik di Timur Tengah meredup dan pasokan minyak kembali stabil, MOPS dapat menurun lagi, memungkinkan pemerintah menurunkan harga BBM non‑subsidi atau setidaknya menahan kenaikan selanjutnya. Namun, dengan fluktuasi pasar yang masih tinggi, otoritas energi menekankan pentingnya monitoring terus‑menerus untuk menghindari lonjakan harga yang dapat mengguncang daya beli masyarakat.
Kesimpulannya, kenaikan harga BBM di Indonesia merupakan respons logis terhadap tekanan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik, sementara kebijakan subsidi tetap menjaga agar tarif domestik tetap kompetitif di ASEAN. Konsumen diharapkan tetap waspada terhadap perubahan harga, terutama menjelang periode liburan dan peningkatan mobilitas yang biasanya memicu lonjakan permintaan bahan bakar.